Selasa, 07 Januari 2014

Patisandhi



RANGKUMAN PATISANDHI (PUNABBHAVA)

Pengertian Patisandhi  (PUNABBHAVA)
Patisandhi adalah proses kelahiran kembali kesadaran seseorang setelah kematian. Patisadhi (punabbahava) memiliki pengertian yang berbeda dengan reinkarnasi (perpindahan roh) dari satu jasmani ke jasmani yang lain tanpa mengalami perubahan (kekal). Agama Buddha mengajarkan bahwa  Vinnana (kesadaran) memiliki sifat yang selalu berubah (anicca) sehingga kesadaran yang terlahir kembali tidak memiliki sifat yang kekal. Agama Buddha memiliki perspektif yang berbeda dengan ajaran agama lain, agama Buddha menyatakan bahwa kesadaran yang terlahir kembali selalu di pengaruhi oleh karma baik atau buruk dari akibat perbuatan yang lampau. Dengan melihat hukum sebab akibat (paticca samuppada) yang menyatakan bahwa segala sesuatu terbentuk bergantung pada peristiwa yang mendahuluinya, maka sangat jelas bahwa kesadaran yang bertumimbal lahir akan mengalami perubahan dari pada kesadaran yang sebelumnya. Seseorang yang meninggal dunia, kesadaranya mendekati kepadaman dan di dorong olek kekuatan-kekuatan karma. Padamnya kesadaran langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi vinnana) untuk terlahir pada salah satu dari 31 alam kehidupan sesuai dengan karmanya. Hal ini secara umum disebut sebagai suatu permulaan dari kehidupan yang baru.
Prinsip yang menggerakkan hidup
Didalam paticcasamuppada di jelaskan bahwa keinginan yang muncul akan menimbulkan  kemelekatan yang mendorong kesadaran seseorang pada penjelmaan, sehingga mengakibatkan seseorang terlahir di 31 alam kehidupan. Guru Buddha bersabda “tanha” atau “keinginanlah” yang merupakan prinsip yang menggerakan arus kehidupan ini. Arus kehidupan ini akan terus bergerak selama “tanha” belum di lenyapkan.
Ketika salah satu dari keenam indera kita mengalami kontak dengan objek yang menyenangkan, maka timbullah keinginan kepadanya, kita mulai terikat dan berdaya upaya untuk mencapainya. Oleh karena itu muncullah keadaan pikiran yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, yang di akibatkan oleh perasaan ingin memuaskan keenam indera. Demikianlah arus kehidupan terus berputar dan kesadaran terus mengalir.
Tidak ada suatu “diri” atau atman. Pribadi kita terbentuk dari batin kita yang terus mengalami proses perubahan. Segala yang terbentuk di pengaruhi oleh keadaan batin kita, ketika kita telah mampu mengarahkan batin dan pikiran kita pada pencapaian tingkatan tertinggi (Nibbana), maka proses terbentuknya nama rupa telah berakhir.

Apa yang kita lupakan tidak hilang atau lenyap sama sekali.
Sekalipun cepat atau lambat kita akan melupakan segala sesuatu yang kita sadari, pengalaman-pengalaman itu tetap tinggal di dalam batin kita. Batin kita seperti gudang besar yang dapat menampung segala bentuk pikiran, pengalaman dan kesan-kesan yang pernah kita alami, sampai kapanpun kondisi itu tidak akan pernah hilang dan lenyap dari batin kita. Sejak kita dilahirkan sampai pada kematian datang menjemput, kondisi-kondisi itu disimpan dan disusun pada tempatnya masing-masing. Pada waktunya kondisi-kondisi itu akan muncul dengan sindirinya dan ketika kita menghendaki untuk memunculkan kondisi-kondisi tersebut.
Dengan demikian terdapat dua factor yang membentuk batin kita.
1.      Yang merasakan, menyadari dan berbuat pada saat sekarang
2.      Timbuanan besar dari semua bentuk-bentuk pikiran dan kesan-kesan yang dilupakan.

Bawah sadar kita sangat giat bekerja
Bergson, seorang ahli jiwa mengatakan: “segala sesuatu yang kita rasakan, kita cari dan ingini sejak masa kecil kita, sekarangpun tetap ada; mendesak kemasa sekarang dan bergabung dengan pikiran-pikiran masa sekarang, mendorong pintu gerbang kesadaran, yang hendak mengurungnya di bawah sadar”
Sang Buddha juga mengajarkan hal yang sama, yaitu bahwa kepribadian sekarang adalah hasil dari segala yang kita rasakan,pikirkan dan lakukan di masa lalu. Apa yang telah terjadi di masa lampau tidaklah pergi dan hilang begitu saja, melainkan tetap hidup di masa sekarang. Perbuatan-perbuatan kita yang lampau selalu mengikuti kita dengan pasti, seperti roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya atau seperti bayangan yang selalu mengikuti tubuhnya.
Seseorang yang telah banyak berlatih meditasi,dimana kesadaranya telah terlatih untuk tenang dan memusat,akan mempunyai daya ingatan yang jauh lebih baik daripada seseorang yang kesadaranya masih lemah dan tidak dapat tenang.makin tenang dan kuat kesadaran kita, makin besar pula kekuasaanya atas bawah sadar kita.seperti sang Buddha yang telah melatih kesadarannya dengan sempurna,sehingga beliau dapat mengingat kembali dari bawah sadarnya hal-hal yang telah dialami dalam kehidupan lampaunya.segala sesuatu yang tersimpan di bawah sadar kita dan dapat kita ingat-ingat kembali setelah dilatih secukupnya.
 Proses Berpikir
Menurut abhidhamma,dalam keadaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran ,yang berlangsung dengan cepat.adapun proses berpikir dalam keadaan biasa tersebut adalah:
1.bhavanga atita (kesadaran tak aktif lampau)
2.bhavanga calana (bhavanga bergetar)
3.bhavanga upaccheda (bhavanga berhenti bergetar)
4.pancadvaravajjana (lima gerbang tempat masuk objek)
5.panca vinnana (lima kesadaran)
6.sampaticchana (kesadaran penerima)
7.santirana (kesadaran pemeriksa)
8.votahapana (kesadaran memutuskan)
9-15 javana (kesadaran impuls)
16-17 tandalambana (kesadaran merekam)
Tahap pertama:
Bhavanga citta adalah kesadaran yang pasif.kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam .kesadaran ini dipandang sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses berpikir itu belum dimulai.
Tahap kedua:
Bhavanga calana adalah kesadaran yang bergetar, karena misal ada objek dari luar atau stimulasi oleh suara cahaya(bentuk)atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang tidur,pada tahap ini bhavanga atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta mulai aktif.
Tahap keenam belas dan ketujuh belas:
Tadalambana adalah dua saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Tadalambana berfungsi mencatat atau merekam kesan yang di buat di buat oleh javana.
Suatu hal yang perlu sekali diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses berfikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali.

Proses kematian
Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dengan mudah dapat mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.
Pengaruh kelahiran pada jasmani
Manusia terdiri dari jasmani dan batin (nama dan rupa). Hubungan antara keduanya bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan antara dua factor ini. Bilamana orang berada pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah, hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arusnya terputus sehingga tidak ada kekuatan lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap, jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk. Jasmani akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen-elemen ini tak akan lenyap, tetapi hanya bentuk elemen ini yang akan berubah.

Pengaruh kematian pada batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal? Batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat, sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap bahwa batin ini tetap kekal. Kematian tidak menghentikan proses batin.
Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum kematian yang di sebut maranasanna javanna citta walaupun lemah dan tidak dapat membuah buah pikiran baru, namun memiliki potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga obyek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang akan segera meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak. Munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru umncul. Pemunculan dari salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi dari perbuatan-perbuatan (kamma) orang tersebut selama hidupnya. Kamma yang bekerja pada saat seperti ini disebut janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatan kita sendiri.

Proses kematian
Menurut pandangan Buddhis kematian terjadi karena 4 hal, yaitu:
1.      Kamakhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma. Jika potensi dari janaka kamma atau kamma yang mengatur tentang kelahiran telah babis, maka aktifitas organism jasmani yang memiliki daya hidup (javitindriya) mati walaupun batas usia kehidupan di alam itu belum habis. Hasil ini biasanya terjadi pada mahluk-mahluk yang lahir di alam apaya: neraka, binatang, asura dan peta; tetapi hal ini juga terjadi di alam-alam lain.

2.      Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan. Hal ini terjadi sesuai dengan usia mahluk di masing-masing alam


3.      Ubhayakkhaya habisnya janaka kamma dan ayu (masa kehidupan) secara bersama-sama.

4.      Upaccahedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan ayu belum selesai orang tersebut meninggal dengan cepat.

Kamakhaya, Ubhayakkhaya, Ayukkhaya disebut meninggal pada waktunya, sedangkan Upaccahedaka kamma disebut meninggal bukan pada waktunya
Untuk memperjelas keempat hal di atas tentang kematian, misalkan mahluk itu adalah lampu minyak. Lampu bisa padam karenaempat hal yaitu; jika minyak habis, sumbu mati, minyak dan sumbu mati atau karena ada angin kencang. Ini adalah proses kematian yang secara umum.
Proses kematian secara khusus yang berlangsung pada batin seseorang  hampir mirip dengan Prose berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang di bicarakan dalam proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut:
1.      Bhavanga atita. Keadaan kesadaran ini tidak berbeda dengan pada keadaan proses berpikir biasa.

2.      Bhavanga calana


3.      Bhavabga upaccheda. Ketentuan kedua bhavanga ini perti diatas. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4.      Manodvaravajjana-kesadaran mengarah pada pintu indriya pikiran. Pada waktu membicarakan tentang berpikir normal, dibicarakan tentang pancavaravajjana; yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui dari salah satu atau lima indriya melalui pintu dari salah satu indriya-indriya itu, yaitu melihat, mendengar, membau, merasa dan sentuhan. Tetapi dalam kasus proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dari dalam pikiran atau ingatan yang dapat dikenal melalui pikiran.

5.      Marana javana citta-impuls javana mendekati kematian. Marana javana citta merupakan tahap psikologis yang penting. Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah:

a.       Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting ang pernah dilakukan seseorangsebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian terjadi secara tiba-tiba.

b.      Kamma Nimita
Bayangan-bayangan karma masa lalu yang muncul pada saat seseorang akan meninggal dunia. misalnya seorang tukang jagal, maka ketika akan meninggal ia melihat bayangan-bayangan  pisau, pemabuk melihat botol dan orang yang rajin sembahyang melihat altar.
6.      Tadalambana
Setelah tahap kesadaran implus dari marana javana citta, muncul tahapan tadalambana.

7.      Cuti-citta kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang.

8.      Patisandhi vinnana-kesadaran kelahiran yang terjadi pada kehidupan berikut.
Pada saat cuti-citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya patisandhi vinnana atau patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan yang baru.


Proses kelahiran kembali

Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali berfungsi, karena proses kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kematian kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut:
1.   Patisandhi Vinnana
2.   Bhavanga Citta
3.   Manodvaravajjana
4.   Javana
5.   Bhavanga Citta
Kehidupan manusia dan mahluk lain hanya tergantung pada jasmani dan batin. Secara teknis batin dibicarakan sebagai kesadaran yang berubah-ubah. Meskipun dalam penjelasan diatas diuraikan beberapa jenis kesadaran, tetapi pada intinya kesadaran hanyalah satu pada setiap saat. Perubahan nama kesadaran dikarenakan kesadaran itu sendiri selalu berubah.

Pendidikan Hindu Buddha



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Di dalam studi pendidikan sangat baik sekali jika kita dapat melaksanakan pendidikan itu dengan baik, tetapi di sisi lain sebagai warga Negara Indonesia kita juga perlu mengetahui sejarah bagaimana perkembangan pendidikan pada masa-masa awal muncul dan berkembangnya pendidikan di Indonesia. Pada masa awal kerajaan hindu dan Buddha muncul di tanah air pendidikan sudah berjalan, namun pada masa itu pendidikan lebih ditujukan pada ideologi  tertentu seperti agama.Pendidikan pada masa awal munculnya kerajaan di Indonesia sangat berbeda sekali dengan pada masa sekarang ini, dengan kemajuan teknologi dan sarana pendidikan yang sangat mendukung pendidikan pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat sekali,  dimana pada era modern ini pendidikan sudah dapat dilakukan dengan berbagai metode, baik dengan menggunakan sarana sederhana maupun dengan teknologi-teknologi yang sangat mendukung dalam menunjang proses pendidikan. Di dalam pembahasan makalah ini saya akan mengulas lebih jelas bagaimana sejarah pendidikan pada masa awal kerajaan-kerajaan  di Indonesia maupun pada jaman kemerdekaan hingga saat ini.
Semoga makalah ini dapat membantu para pembaca untuk  menambah pengetahuan  mengenai sejarah pendidikan dan proses pendidikan pada masa hindu-buddha, masa kolonial maupun masa kemerdekaan hingga sekarang ini.

a.    Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka muncul rumusan-rumusan mengenai masalah dalam pembahasan makalah ini, yaitu bagaimana perkembangan dan proses berjalannya pendidikan pada masa hindu-buddha di Indonesia hingga pada masa sekarang ini?

b.   Tujuan
·         Memberikan pengetahuan sejarah pendidikan di Indonesia
·         Memberikan pengetahuan mengenai sejarah pendidikan pada masa Hindu Buddha
·         Memberikan pengetahuan mengenai sejarah pendidikan pada masa colonial hingga sekarang

c.    Manfaat

·         Membantu menggali pengetahuan mengenai sejarah pendidikan di Indonesia, sehingga para pembaca dapat menghargai dan menghormati perjuangan para pelopor pendidikan yang menjadikan pendidikan pada masa sekarang ini lebih maju, berkualitas dan dapat memberikan manfaat yang baik untuk bangsa dan negara Indonesia.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Perkembangan Pendidikan pada Zaman Hindu dan  Budha  

Menurut teori Van Leur, yang oleh banyak ahli dapat diterima, ditegaskan bahwa pada abad-abad permulaan terjadilah hubungan perdagangan antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Indonesia. Faktor-faktor yang memungkinkan berkembangnya Peradaban Hindu Budha diantaranya sebagai berikut :

1.      Faktor Politik
Terjadi peperangan antara kerajaan India bagian Utara dengan kerajaan India bagian Selatan. Bangsa Aria dari Utara mendesak kerajaan dan penduduk Selatan, sehingga penduduk di Selatan lari mencari tempat-tempat baru, dan ada sampai ke Indonesia. Oleh karena itu peradaban yang masuk ke Indonesia Nusantara dipengaruhi oleh bangsa India dari bagian Selatan.

2.      Faktor Ekonomis atau Geografis
Indonesia terletak antara India dan dataran Tiongkok, dimana pada waktu itu telah terjadi perdagangan antar India dan Tiongkok melalui jalur laut. Akibatnya banyak orang India dan Tiongkok bergaul dengan bangsa Indonesia, dari mulai perdagangan atau perniagaan sampai terjadi koloni yang berdatangan dari India dan Tiongkok.

3.      Faktor Kultural
Tingkat peradaban bangsa India lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk asli di Nusantara. Mereka sudah mengenal sistem pemerintahan yang teratur dalam bentuk kerajaan, mereka juga telah mengenal tulisan dan karya sastra yang tinggi. Fakta sejarah membuktikan dengan ditemukannya prasasti batu bertulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang menjelaskan tentang adanya kerajaan tertua. Di Kalimantan yaitu di Kutai abad ke-5 Masehi dan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
Perkembangan pendidikan pada zaman ini, sudah mulai menampakkan suatu gerakan pendidikan dengan misi penyebaran ajaran agama dan cara hidup yang lebih universal (keseluruhan) dibandingkan dengan pendidikan sebelumnya. Pendidikan masa Hindu-Budha di Indonesia dimulai sejak pengaruh Hindu-Budha datang ke Indonesia. Perkembangan agama Hindu Budha di Indonesia membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebenarnya masyarakat indonesia telah memiliki kemampuan dasar yang patut dibanggakan sebelum masuknya Hindu dan Budha. Setelah Hindu dan Budha berkembang di Indonesia kemampuan masyarakat Indonesia makin berkembang karena berakulturasi dan berinteraksi dengan tradisi Hindu dan Budha.
Di daerah Kalimantan (Kutai) dan Jawa Barat (Tarumanegara) ditemukan prasasti adanya kebudayaan dan peradaban Hindu tertua pada abad ke-5. Para cendekiawan, ulama-biarawan, musafir dan peziarah Budha dalam perjalanannya ke India, singgah di Indonesia untuk mengadakan studi pendahuluan dan persiapan lainnya.  Negara India merupakan tanah suci dan merupakan sumber inspirasi spiritual, ilmu pengetahuan dan kesenian bagi pemeluk agama Budha. Agama Hindu di India terbagi dua golongan besar yaitu Brahmanisme dan Syiwaisme. Hinduisme yang datang ke Indonesia adalah Syiwaisme, yang pertama kali dibawa oleh seorang Brahmana yang bernama Agastya. Syiwaisme berpandangan bahwa :
·        Syiwa adalah dewa yang paling berkuasa.
·        Syiwa adalah penncipta dan perusak alam, segala sesuatu bersumber pada Syiwa   dan   kembali kepada Syiwa.
·        Manusia hidup dalam rangkaian reinkarnasi dan merupakan suatu samsara (penderitaan), yang ditentukan oleh perbuatan manusia sebelumnya, jadi berlaku hukum “karma”.
·       Tujuan hidup manusia ialah mencapai “moksa”, suatu keadaan dimana manusia terlepas dari samsara, manusia hidup dalam keabadian yang menyatu dengan Syiwa.
      Agama Budha merupakan agama yang disebarkan oleh Sidharta Gautama di India yang kemudian terpecah menjadi dua aliran yaitu Mahayana dan Hinayana. Yang berkembang di Indonesia ialah bangsa Hinayana. Agama ini berkembang pada masa kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan pada zaman Wangsa Syailendra di Pulau Jawa.
      Menurut ajaran agama Budha manusia hidup dalam penderitaan karena nafsu duniawi. Manusia dalam hidup ini berusaha untuk mengusir penderitaan, mencari kebahagiaan yang abadi yaitu untuk mencapai nirwana. Adapaun langkah-langkah untuk mencapai nirwana, manusia harus berperilaku benar diantaranya sebagai berikut :
§  Berpandangan yang benar.
§  Berpikir yang benar.
§ Berkata yang benar
§  Berbuat  yang benar.
§  Berkehidupan yang benar.
§  Berdayaupaya yang benar.
§  Melakukan meditasi yang benar.
§  Konsentrasi kepada hak-hak yang benar.
Meskipun Hinduisme dan Budhisme merupakan agama yang berbeda, namun di Indonesia tampak terdapat kecenderungan sinkretisme yaitu keyakinan untuk mempersatukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu sumber dari Ynag Maha Tinggi. Seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi satu jua adalah perwujudan dari keyakinan tersebut. dalam hal ini, Budha dan Syiwa adalah dewa yang dapat diperbedakan (bhinna) tetapi dewa itu (ika) hanya satu (tungal). Kalimat yang tadi adalah salah satu bait dari syair Sutasoma karya Empu Tantular pada zaman Majapahit. Sehingga kebudayaan Hindu telah membaur dengan unsur-unsur Indonesia asli dan memberikan ciri serta coraknya yang khas, sampai jatuhnya kerajaan Hindu terakhir di Indonesia yaitu Majapahit akan masih berkembang  dalam hal pendidikan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang sastra, bahasa, ilmu pemerintahan, tata Negara dan hukum. Kerajaan-kerajaan seperti Kalingga, Mataram, Kediri, Singasari, dan Majapahit akan melahirkan para Empu, Pujangga yang menghasilkan karya-karya seni yang bermutu tinggi. Selain karya seni pahat dan seni bangunan dalam arsitekstur yang bernilai tinggi juga ditemukan beberapa karya ilmiah dalam bidang filsafat, sastra dan bahasa.

A.    Pendidikan Hindu Budha
Syiwaisme yang berkembang di Indonesia berbeda dengan India yanga sangat bertentangan dan hidup bermusuhan dengan Budhisme. Di Indonesia Syiwaisme dan Budhisme hidup dan tumbuh berdampingan, walaupun terjadi penumpasan Wangsa Syailendra yang beragama Budha oleh Wangsa Sanjaya yang beragaman Hindu, namun dimasyarakat biasa tidak nampak pertentangan tersebut, bahkan mungkin dapat dikatakan telah terjadi sinkretisme antara Hinduisme, Budhisme dan kepercayaan animism dan dinamisme, suatu keyakinan untuk menyatukan Syiwa, Budha, dan arwah-arwah nenek moyang sebagai suatu sumber dan amaha tinggi. Pendidikan formal ini diselenggarakan oleh kerajaan-kerajaan Indonesia pada saat itu.
Pendidikan pada zaman Hindu masih terbatas kepada golongan minoritas (kasta Brahmana, Ksatria), belum menjangkau golongan mayoritas kasta Waisya dan Sudra apalagi kasta Paria. Namun perlu diketahui bahwa penggolongan kata di Indonesia tidak begitu ketat seperti halnya dengan di India yang menjadi asalnya agama Hindu. Pendidikan zaman ini lebih tepat dikatakan sebagai “perguruan”dimana para murid berguru kepada para cerdik cendekia. Kemudian lembaga pendidikan dikenal dengan nama pesantren, jadi berbeda sekali dengan sekolah yang kita kenal sekarang ini. 
Sistem perguruan yang dikenal dengan pesantren itu berkembang terus sampai pada pengaruh Budha, zaman Islam sampai sekarang (pesantren tradisional). Pada zaman Budha pendidikan berkembang pada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang sudah terdapat perguruan tinggi Budha. Dimana para murid-muridnya banyak berasal dari Indocina, Jepang dan Tiongkok. Guru yang terkenal pada saat itu ialah Dharmapala. Perguruan-perguruan Budha tersebut mungkin menyebar keseluruh kekuasaan Sriwijaya. Mungkin saja candi-candi Borobudur, Menndut, dana Kalasan merupakan pusat pendidikan agama Budha.
Kalau kita memperjhatikan peninggalan-peninggalan sejarah seperti candi-candi, patung-patung maka sudah pasti para santri atau murid belajar tentang ilmu membangun dan seni pahat. Karena pembuatan candi memerlukan kemampuan teknik dan seni yang tinggi. Dmeikian juga dengan memahat relief-relief candi dibimbing oleh suatu alur cerita yang menceritakan kehidupan sang Budha atau para dewa, bisa juga cerita tentang Ramayana. Karya hasil sastra yang ditulis para pujangga banyak yang bermutu tinggi antara lain : Pararaton, Negara Kertagama, arjuna Wiwaha, dan Brata Yudha. Para pujangga yang terkenal diantaranya sebagai berikut : Mpu Kawa, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Prapanca.
Dalam perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu sperti Singasari, Majapahit dan kerajaan Budha Sriwijaya, tidak terdapat uraian yang jelas mengenai pendidikan. Namun sudah apsti bahwa pada zaman tersebut sudah berkembang pendidikan dengan lembaga-lembaga yang dengan sengaja dibuat secara formal. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berbentuk perguruan yang lebih dikenal dnegan sebutan pesantren. Pada saat itu mutu pendidikan cukup memuaskan berbagai pihak yang bersangkutan.

a.      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan identik dengan tujuan hidup yaitu manusia hidup untuk mencapai moksa bagi agama Hindu, dan manusia mencapai nirwana bagi agama Budha. Karena itu secara umum tujuan akhir adalah mencapai moksa atau nirwana. Secara khusus mungkin dapat dibedakan sebagai berikut :
1.     Bagi  kaum Brahmana (kasta tertinggi), pendidikan bertujuan untuk menguasai kitab suci ( Weda untuk Hindu dan Tripitaka untuk Budha) sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan yang universal.
2.     Bagi golongan Ksatria sebagai raja yang berkuasa, pendidikan bertujuan untuk memiliki pengetahuan teoritis yang berkaitan tentang pengaturan pemerintahan (kerajaan).
3.     Bagi rakyat biasa, pendidikan bertujuan agar warga masyarakat memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup, sesuai dengan pekerjaan yang secara turun temurun. Misalnya keterampilan bercocok tanam, pelayaran, perdagangan, seni pahat dan sebagainya.

b.      Sifat Pendidikan
Beberapa sifat dan ciri pendidikan yang menonjol pada waktu itu adalah :
1.      Informal, karena pendidikan masih bersatu dengan proses kehidupan.
2.     Berpusat pada religi, karena kehidupan atas dasar kepercayaan dan keagamaan menguasai segala-galanya.
3.     Penghormatan yang tinggi terhadap guru, karena gurunya adalah kaum Brahmana ( kasta tertinggi dalam masyarakat Hindu) dan tidak memperoleh imbalan gaji. Mereka menjadi guru semata-mata karena kewajiban sebagai Pandita atau Brahmana yang didasarkan pada perasaan tulus, mengabdi tanpa pamrih ( tanpa memikirkan imbalan dunia ).
4.      Aristokratis artinya pendidikan hanya diikuti oleh segolongan masyarakat saja yaitu golongan Brahmana, pendeta dan golongan Ksatria dan golongan keturunan raja-raja. Dalam agama kita kenal penggolongan berdasarkan kasta, namun di Indonesia perbedaan tidak begitu tajam dan menonjol. Yang menonjol adalah antara golongan raja-raja dan rakyat jelata.

c.       Jenis-jenis Pendidikan
Beberapa jenis pendidikan pada zaman Hindu Budha dapat dibedakan menjadi beberapa golongan diantaranya sebagai berikut :
1.      Pendidikan Intelektual
Kegiatan pendidikan ini dikhususkan untuk menguasai kitab-kitab suci. Veda dipelajari oleh kaum Brahmana, dan kitab Tripitaka dipelajari oleh penganut Budha. Pada waktu itu hanya golongan Brahmanalah yang berhak mempelajari kitab suci Veda. Pendidikan intelektual juga berkaitan dengan penguasaan doa dan mantera, yang berkaitan dengan penguasaan alam semesta, pengabdian kepada Syiwa dan Budha Gautama.
2.      Pendidikan Kesatriaan
Kegiatan pendidikan ini dilakukan untuk mendidik kaum bangsawan keluarga istana kerajaan, untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan mengatur pemerintahan (kerajaan), mengatur Negara, dan belajar untuk berperang.
3.      Pendidikan Keterampilan
Pendidikan keterampilan dan pendidikan kesatriaan merupakan pendidikan kegiatan yang deprogram secara tertib(dalam arti pendidikan bagi kaum Brahmana dan bangsawan (keluarga raja)) sudah berjalan dengan teratur. Sedangkan pendidikan keterampilan yang diajukan bagi masyarakat jelata berlangsung secara informal yang berlangsung dalam keluarga sesuai dengan keterampilan yang dimiliki orang tuanya. Seorang pemahat akan diwariskan keterampilannya kepada anak-anaknya begitu pula dengan para petani, nelayan dan sebagainya.

d.      Lembaga Pendidikan
Pendidikan pada waktu itu masih bersifat informal, belum ada pendidikan formal dalam bentuk sekolah seperti yang kita kenal sekarang ini. Namun dengan demikian ada beberapa tempat yang biasa dijadikan sebagai lembaga pendidikan.
1.      Padepokan atau Pecatrikan
Merupakan tempat berkumpulnya para catrik, yaitu murid-murid yang belajar kepada guru disuatu tempat, sehingga disebut pecatrikan dan dengan nama lain biasa juga disebut padepokan. Dari kata-kata catrik dan pecatrikan itulah muncul kata santri dan pesantren. Jadi lembaga pesantren sudah dikenal keberadaannya sejak zaman Hindu Budha. Dipesantren dan atau padepokan itulah berkumpul para murid, khususnya keturunan Brahmana utnuk mempelajari segala macam pengetahuan yang bersumber dari kitab suci ( Veda dan Upanishad bagi Hindu serta Tripitaka bagi Budha). Dicandi Borobudur terlihat suatu lukisan yang menggambarkan suatu proses pendidikan seperti yang berlaku sekarang ini. Ditengah-tengah pendopo besar seorang Brahmana atau pendeta duduk dilingkari oleh murid-muridnya, semuanya membawa buku, dan mereka belajar membaca dan menulis. Guru tidak menerima gaji namun dijamin oleh murid-muridnya untuk hidup. Yang menjadi dasar pendidikan adalah agama Budha dan Hindu, seperti dapat kita lihat relief-relief yang tertulis dicandi Borobudur ( Budha) dan candi Prambanan (Hindu).
2.      Pura
Merupakan tempat yang berada di istana. Tempat ini diperuntukkan bagi putra-putri raja belajar. Mereka diberi pelajaran yang berkaitan dengan hidup sopan santun sebagai keturunan raja yang berbeda dengan masyarakat biasa. Mereka belajar tentang mengatur Negara, ilmu bela diri baik secara fisik maupun secara batiniah.
3.      Pertapaan
Karena orang yang bertapa dianggap telah memiliki pengetahuan kebatinan yang sangat tinggi. Oleh karenaitu para pertapa menjadi tempat bertanya tentang segala hal terutama berkaitan dengan hal-hal yang gaib.
4.      Keluarga
Pada waktu itu pendidikan keluarga juga ada sampai sekarang juga tapi hanya pendidikan sebagai informal. Dalam keluargalah akan terjadi partisipasi dalam menyelesaikan pekerjaan orang tua yang dilakukan anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

e.       Ilmu Pengetahuan dan Karya Sastra
Pada masa kejayaan kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia ini telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan karya seni yang sangat tinggi. Seperti telah dikemukakan pada kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan Budha yang terbesar di Indonesia, pada saat iru telah berdiri lembaga pendidikan setaraf “perguruan tinggi”. Perguruan tinggi tersebut dapat menampung berates-ratus mahasiswa biarawan Budha dan adapat belajar dengan tenang, mereka tinggal di asrama-asrama khusus.
Sistem dan metode sesuai yang ada di India, sehingga biarawan Cina dapat belajar di sriwijaya sebelum melanjutkan belajar di India. Di Sriwijaya terkenal mahaguru yang berasal dari India yaitu Dharmapala dan mengajarkan agama Budha Mahayana. Dipulau Jawa pada waktu Mataram diperintah oleh seorang ratu terdapat sekolah agama Budha yang dipimpin oleh orang Jawa yaitu Janadabra.
Pada sekitar abad ke-14 sampai kira-kira abad ke-16 menjelang jatuhnya kerajaan Hindu di Indonesia, kegiatan pendidikan tidak lagi dilakukan secara meluas seperti sebelumnya tetapi dilakukan oleh para guru kepada siswanya yang jumlahnya terbatas dalam suatu padepokan. Pendidikan pada zaman tersebut, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi pada umumnya dikendalikan oleh para pemuka agama. Namun demikian pendidikan dan pengajaran tidak dilaksanakan secara formal, sehingga seorang siswa yang belum puas akan ilmu yang diperolehnya dapat mencari dan pindah dari guru yang satu ke guru yang lainnya. Kelompok bangsawan, ksatria dan kelompok elit lainnya mengirimkan anak-anaknya kepada guru untuk dididik atau guru diundang untuk datang mengajar anak-anak mereka.



B.  Pendidikan pada masa Kolonial
A.  Pendidikan pada masa penjajahan Belanda
Pendidikan selama penjajahan Belanda  dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie). pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial.
1.                  Zaman VOC (Kompeni)
 Orang belanda datang ke indonesia bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motifasi oleh hasrat untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi laut yang berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil rempah-rempah dari indonesia. Namun pedagang itu merasa perlunya memiliki tempat yang permanen di daratan dari pada berdagang dari kapal yang berlabuh di laut. Kantor dagang itu kemudian mereka perkuat dan persenjatai dan menjadi benteng yang akhirnya menjadi landasan untuk menguasai daerah di sekitarnya. Lambat laun kantor dagang itu beralih dari pusat komersial menjadi basis politik dan teritorial. Setelah peperangan kolonial yang banyak akhirnya indonesia jatuh seluruhnya di bawah pemerintahan belanda. Namun penguasaan daerah jajahan ini baru selesai pada permulaan abad ke 20.
Metode kolonialisasi belanda sangat sederhana. Mereka mempertahankan raja-raja yang berkuasa dan menjalankan pemerintahan melalui raja-raja itu akan tetapi menuntut monopoli hak berdagang dan eksploitasi sumber-sumber alam. Adat istiadat dan kebudayaan asli dibiarkan tanpa perubahan aristokrasi tradisional digunakan oleh belanda untuk memerintah negri ini dengan cara efisien dan murah. Oleh sebab belanda tidak mencampuri kehidupan orang Indonesia secara langsung, maka sangat sedikit yang mereka perbuat untuk pendidikan bangsa. Kecuali usaha menyebarkan agama mereka di beberapa pulau di bagian timur Indonesia. Kegian pendidikan pertama yang dilakukan VOC.
Pada permulaan abad ke 16 hampir se abad sebelum kedatangan belanda, pedagang portugis menetap di bagian timur Indonesia tempat rempah-rempah itu di hasilkan. Biasanya mereka didampingi oleh misionaris yang memasukkan penduduk kedalam agama katolik yang paling berhasil diantara mereka adalah Ordo Jesuit di bawah pimpinan Feranciscus Xaverius. Xaverius memandang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran agama. Seminari dibuka di ternate, kemudian di solor dan pendidikan agama yang lebih tinggi dapat diperoleh di Goa, India, pusat kekuasaan portugis saat itu. Bahasa portugis hamper sama populernya dengan bahasa melayu, kedudukan yang tak kunjung di capai oleh bahasa Belanda dalam waktu 350 tahun penjajahan kekuasaan portugis melemah akibat peperangan denngan raja-raja Indonesia dan akhirnya dilenyapkan oleh belanda pada tahun 1605.
2.      Zaman Pemerintahan Belanda Setelah VOC
Setelah VOC dibubarkan, para Gubernur/ komisaris jendral harus memulai system pendidikan dari dasarnya, karena pendidikan zaman VOC berakhir dengan kegagalan total. Pemerintahan baru yang diresapi oleh ide-ide liberal aliran aufklarung atau Enlightenment menaruh kepercayaan akan pendidikan sebagai alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan social. Pada tahun 1808 Deandels seorang Gubernur Belanda mendapat perintah Raja Lodewijk untuk meringankan nasib rakyat jelata dan orang-orang pribumi poetra,serta melenyapkan perdagangan budak. Usaha Deandels tersebut tidak berhasil, bahkan menambah penderitaan rakyat, karena ia mengadakan dan mewajibkan kerja paksa (rodi).
Didalam lapangan pendidikan Deandels memerintahkan kepada Bupati-bupati di Pulau Jawa agar mendirikan sekolah atas usaha biaya sendiri untuk mendidik anak-anak mematuhi adat dan kebiasaan sendiri. Kemudian Deandels mendirikan sekolah Bidan di Jakarta dan sekolah ronggeng di Cirebon. Kemudian Pada masa (interregnum inggris) pemerintahan Inggris (1811-1816) tidak membawa perubahan dalam masalah pendidikan walaupun Sir Stamford Raffles seorang ahli negara yang cemerlang. Ia lebih memperhatikan perkembanagan ilmu pengetahuan, sedangkan pengajaran rakyat dibiarkan sama sekali. Ia menulis buku History of Java.
Setelah ambruknya VOC tahun 1816 pemerintah Belanda menggantikan kedudukan VOC. Statua Hindia Belanda tahun 1801 dengan terang-terangan menyatakan bahwa tanah jajahan harus memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada perdagangan dan kepada kekayaan negeri Belanda. Pada tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar Gubernur Jendral berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan bagi negerinya. Walaupuan setiap Gubernur Jendaral pada penobatannya berjanji dengan hidmat bahwa ia akan memajukan kesejahteraan hindia Belanda dengan segenap usuha prinsip yang masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa hindia Belanda sebagai “negeri yang direbut harus terus member keuntungan kepada negeri belanda sebagai tujuan pendidikan itu.  Sekolah pertama bagi anak Belanda dibuka di Jakarta pada tahun 1817 yang segera diikuti oleh pembukaan sekolah dikota lain di Jawa. Prinsip yang dijadikan pegangan tercantum distatuta 1818 bahwa sekolah-sekolah harus dibuka ditiap tempat bila diperlukan oleh penduduk Belanda dan diizinkan  oleh keadaan.
Gubernur Jendral Van der Capellen (1819-1823) menganjurkan pendidikan rakyat dan pada tahun 1820 kembali regen-regen diinstruksikan untuk menyediakan sekolah bagi penduduk untk mengajar anak-anak membaca dan menulis serta mengenal budi peketi yang baik. Anjuran Gubernur Jendral itu tidak berhasil untuk mengembangkan pendidikan oleh regen yang aktif.
Tahun 1826 lapangan pendidikan dan pengajaran terganganggu oleh adanyan usaha-usaha penghematan. Sekolah-sekolah yang ada hanya  bagi anak-anak Indonesia yang memeluk agama Nasrani. Alsannya adalah karena adanya kesulitan financial yang berat yang dihadapi orang Belanda sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan menelan banyak korban seerta peperangan antara Belanda dan Belgia (1830-1839).
Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang dianjurkan Van den Bosch, bekas Gubernur di Guyana, jajahan Belanda di Amerika selatan, untuk memanfaatkan pekerjaan budak menjadi dasar eksploitasi colonial. Ia membawa ide penggunaan kerja paksa(rodi) sebagai cara yang ampuh untuk memperoleh cara usaha maksimal, yang kemudian terkenal dengan cultuur stelsel atau tanam paksa yang memaksa penduduk untuk menghasilkan tanaman yang diperlukan dipasaran Eropa.
Van den Bosch mengerti, bahwa untuk memperbaiki stesel pembangunan ekonomi bagi belanda dibutuhkan tenaga-tenaga ahli yang banyak. Setelah tahun 1848 dikeluarkan peraturan-peraturan yang menunjukan perintah lambat laun menerima tanggung jawab yang lebih besar atas pendidikan anak-anak Indonesia sebagai hasil perdebatan diparlemen Belanda dan mencerminkan sikap Liberal yang lebih menguntungkan tehadap rakyat Indonesia. Terbongkarnya penyalahgunaan system tanam paksa merupakan factor dalam perbahan pandangan. Peraturan pemerintah tahun 1854 mengimtruksikan Gubernur Jendral untuk mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi. Peraturan tahun 1863 mewajibkan Gubernur Jendral untuk mengusahakan terciptanya situasi yang memungkinkan penduduk bumi putera pada umumnya menikmati pendidikan.
Sistem tanam paksa dihapuskan tehun 1870 dan digantikan dengan undang-undang Agraria 1870. Pada tahun itu di Indonesia timbul masa baru dengan adanya undang-undang Agraria dari De Waal, yang member kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertania partikelir. Usaha-usaha perekonomian makin maju, masyarakat  lebih banyak lagi membutuhkan pegawai. Sekolah-sekolah  yang ada dianggap belum cukup memenuhi kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai makin dipergiat lagi. Kini tugas departemen adalah memelihara sekolah-sekolah yang ada dengan lebih baik dan mempergiat usaha-usaha perluasan sekolah-sekolah baru.

Pada tahun 1893 timbullah diferensiasi pengajaran bumi putera. Hal ini disebabkan :                           
1.   Hasil sekolah-sekolah bumi putra kurang memuaskan pemerintah colonial. Hal ini terutama sekali desebabkan karena isi rencana pelaksanaannya terlalu padat.
2.      Dikalangan pemerintah mulai timbul perhatian pada rakyat jelata. Mereka insyaf bahwa yang harus mendapat pengjaran itu bukan hanya lapisan atas saja.
3.      Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedua kebutuhan dilapangan pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisa bawah.
Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:
a)      Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.
b)      Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.
Perbedaan sekolah kelas I dan kelas II antara lain:
Kelas I
Tujuan: memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan  perusahaan.
Lama bersekolah: 5 tahun
Mata pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.
Guru-guru: keluaran Kweekschool
Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu
Kelas II
Tujuan: Memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat umum
Lama bersekolah: 3 tahun
Mata paelajaran: Membaca, menulis dan berhitung.
Guru-guru: persyaratannya longgar
Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu
Pada tahun 1914 sekolah kelas I diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah vervolg (sekolah sambungan) dan merupakan sekolah  lanjutan dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.

b.    Politik Etika dan pengajaran
Indonesia yang kaya raya ini di keruk terus menerus oleh penjajah Belanda. Keuntungan mengalir terus ke negeri Belanda. Rakyat Indonesia tetap miskin. Keadaan ini sangat menggelisahkan kaum Importir Belanda yang membawa barang hasil industry dari Eropa ke Indonesia. Mereka tidak dapat menjual barangnya karena daya beli masyarakat sangat rendah, sedangkan industri di negeri Belanda sedang pesat. Mereka menginginkan agar Indonesia yang banyak penduduknya itu menjadi pasar bagi industry Belanda. Sedangkan para eksportir mendapat laba besar dengan membawa barang mentah dari Indonesia. Untuk memenuhi kaum importir tidak ada jalan lain yang harus segera ditempuh selain memperbaiki dan membuat ekonomi rakyat Indonesia yang sudah rusak.
Selain itu pada tahun 1899 terbit sebuah artikel oleh Van Devender berjudul “Hutang Kehormatan” dalam majalah De Gids. Disitu ia mengemukakan bahwa keuntungan yang diperoleh oleh Indonesia selama ini hendaknya dibayar kembali dari perbendaharaan Negara. Peristiwa itu dapat dipandang sebagai ekspresi ide yang baru kemudian dikenal dengan politik etika. Van Devender menganjurkan program ini untuk memajukan kesejahteraan rakyat dengan memperbaiki irigasi agar memprodusi pertanian, menganjurkan trasmigrasi dan perbaikan dalam lapangan pendidikan. Ia juga mengembangkan pengajaran bahasa Belanda secara cultural lebih maju dan dapat menjadi pelopor bagi bangsanya.
Factor lain yang menyebabkan berlangsungnya politik etika ini ialah kebangkitan Nasional dengan berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, serikat islam partai politik pertama di Indonesia yang didasarkan atas organisai Barat didirikan tahun 1919, adanya volksraad tahun 1918 yang merupakan saluran bagi orang Indonesia untuk menyatakan pendapatnya. Sejak dilaksanakannya politik etika tampak sekali kemajuan dalam pendidikan dengan diperbanyaknya sekolah rendah, sekolah yang berorientasi Barat untuk orang Cina dan Indonesia didirikan .Demikian juga pendidikan dikembangkan secara vertical dengam didirikannya MULO dan AMS yang terbuka bagi anak Indonesia untuk melanjutkan ke tingkat universitas.

Dalam rangka memperbaiki pengajaran rendah bagi kaum bumi putra, maka pada tahun 1907 diambil dua tindakan penting yaitu:
1. Memberi corak dan sifat kebelandaan-belandaan pada sekolah kelas I, misalnya:
a)   Bahasa Belanda dijadikan mata pelajaran sejak kelas 3
b)   Di kelas 6 bahasa Belanda dijadikan bahasa pengantar
c)   Lama belajar menjadi 7 tahun
d)  Tahun 1914 dijadikan  KIS dan menjadi bagian pengajaran rendah barat
e)   Murid-muridnya anak-anak bangsawan dan terkemuka
2. Mendirikan Sekolah Desa
Maksud pemerintah untuk memperhatikan kepentingan rakyat Indonesia tidak tercapai, karena sekolah-sekolah bumi putra kelas II merupakan lembaga yang mahal dan memerlukan anggaran yang besar. Maka atas perintah Gubernur Jendral Van Heutsz tahun 1907 didirikan sekolah-sekolah desa. Bangunannya didirikan oleh desa dan guru-gurunya juga diangkat oleh desa pula, jadi bukan pegawai negeri.
Jadi susunan pengajaran bagi anak-anak Indonesia untuk sekolah rendah ada tiga, yaitu:
a)   Sekolah Desa, bagi anak-anak biasa
b)   Sekolah kelas II, yang kemudian diubah menjadi sekolah Vervolg
c)   Sekolah kelas I, yang sejak tahun 1914 dijadikan HIS bagi anak-anak     bangsawan dan aristocrat




c.       Sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda
Secara umum sistem pendidikan khususnya system persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau lapisan (kelas) social yang ada dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku waktu itu.
Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs)
Pada hakikatnya pendidikan dasar untuk tingkatan sekolah dasar mempergunakan system pokok yaitu:

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
Ø  Sekolah rendah Eropa, yaitu ELS (Europese Lagere school), yaitu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan Eropa atau anak-anak turunan Timur asing  atau Bumi putra dari tokoh-tokoh terkemuka. Lamanya sekolah tujuh tahun 1818.
Ø  Sekolah Cina Belanda, yaitu HCS (Hollands Chinese school), suatu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan tmur asing, khususnya keturunan Cina. Pertama didirikan pada tahun 1908 lama sekolah tujuh tahun.
Ø  Sekolah Bumi  putra Belanda HIS (Hollands inlandse school), yaitu sekolah rendah untuk golongan penduduk Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka atau pegawai negeri. Lamanya sekolah tujuh tahun dan pertama didirikan pada tahun 1914.
Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah:
Ø  Sekolah Bumi Putra kelas II (Tweede klasee). Sekolah ini disediakan untuk golonagan bumi putra. Lamaya sekolah tujuh tahun, pertama didirikan tahun 1892.
Ø  Sekolah Desa (Volksschool). Disediakan bagi anak-anak golongan bumi putra. Lamanya sekolah tiga tahun yang pertama kali didirikan pada tahun 1907.
Ø  Sekolah Lanjutan (Vorvolgschool). Lamanya dua tahun merupakn kelanjutan dari sekolah desa, juga diperuntukan bagi anak-anak golongan bumi putra. Pertama kali didirikan pada tahun 1914.
Ø  Sekolah Peralihan (Kweekschool) Merupakan sekolah peralihan dari sekolah desa  (tiga tahun) kesekolah dasar dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya lima tahun dan diperuntukan bagi anak-anak golongan bumi putra. Disamping sekolah dasar tersebut diatas masih terdapat sekolah khusus untuk orang Ambon seperti Ambonsche Burgerschool yang pada tahun 1922 dijadikan HIS. Untuk anak dari golongan bangsawan disediakan sekolah dasar khusus yang disebut sekolah Raja (Hoofdensschool). Sekolah ini mula-mula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872, tetapi kemudian diintegrasi ke ELS atau HIS.
Pendidikan lanjutan = Pendidikan Menengah
Ø  MULO (Meer Uit gebreid lager school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang  pertama didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukan bagi golongan bumi putra dan timur asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya sejak tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya dua tahun.
Ø  AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan (afdeling= bagian), Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ) pada zaman jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan disebut SMA.
Ø  HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh terkemuka. Bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda dan berorentasi ke Eropa Barat, khususnyairikan pada belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun. Didirikan pada tahun 1860
Pendidikan Kejuruan (vokonderwijs )
Sebagai pelaksanaan politik etika pemerintah belanda banyak mencurahkan perhatian pada pendidikan kejuruan. Jenis sekolah kejuruan yang ada  adalah sebagai berikut:
Ø  Sekolah pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah  dan menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. didirikan pada tahun 1881
Ø  Sekolah pertukangan (Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS, HCS  atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan piñata batu
Ø  Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
Ø  Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
Ø  Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian Yang menerima lulusan sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda. Pada tahun 1911 mulai didirikan sekolah pertanian (cultuurschool) yang terdiri dari dua jurusan, pertanian dan kehutanan. Lama belajaranya sekitar 3-4 tahun, dan bertujuan untuk menghasilkan pengawas-pengawas pertanian dan kehutanan. Pada rtahun 1911 didirikan pula sekolah pertanian menengah atas (Middelbare Landbouwschool) yang menerima lulusan MULO atau HBS yang lamanya belajar 3 tahun.
Ø  Pendidikan kejuruan kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs).
Pendidikan ini merupakan kejuruan yang termuda. Kemudian sekolah yang sejenis yang didirikn oleh swasta dinamakan Sekolah Rumah Tangga (Huishoudschool). Lama belajarnya tiga tahun.
Ø  Pendidikan keguruan (Kweekschool). Lembaga keguruan ini adalah lembaga yang tertua dan sudah ada sejak permulaan abad ke-19. Sekolah guru negeri yang pertama didirikan pada tahun 1852 di Surakarta. Sebelum itu pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru sekolah desa. Pada abad ke-20 terdapat tiga macam pendidikan guru, yaitu:
o   Normalschool,sekolah guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun, berbahasa pengantar bahasa dearah.
o   Kweekschool, sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa belanda.
o   Hollandschool Indlandschool kweekschool, sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.
Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)
Karena terdesak oleh tenaga ahli, maka didirikanlah:
Ø  Sekolah Tehnik Tinggi (Technische Hoge School).
Sekolah Tehnik Tinggi ini yang diberi nama THS didirikan atas usaha yayasan pada tahun 1920 di Bandung. THS adalah sekolah Tinggi yang pertama di Indonesia, lama belajarnya lima tahun. Sekolah ini kemudian menjelma menjadi ITB.
Ø  Sekolah Hakim Tinggi (Rechskundige Hoge school).
RHS didirikan pada tahun 1924 di Jakarta. Lama belajarnya 5 tahun, yang tama AMS dapat diterima di RHS. Tamatan ini dijadikan jaksa atau hakim pada pengadilan.
Ø  Pendidiakn tinggi kedokteran.
Lembaga ini di Indonesia di mulai dari sekolah dasar lima tahun. Bahasa pengantarnya bahasa melayu . pada tahun 1902 sekolah dokter jawa diubah menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Indische Artsen) yang menerima lulusan ELS, dan berbahasa pengantar Belanda. Lama belajarnya 7 tahun. Kemudian syarat penerimaannya ditingkatkan menjadi lulusan MULO. Pada tahun 1913 disamping STOVIA di Jakarta didirikan sekolah tinggi kedokteran (Geneeskundige Hogeschool) Yang lama belajaranya 6 tahun dan menerima lulusan AMS  dan HBS.


















B.  Pendidikan pada masa penjajahan Jepang
Didorong semangat untuk mengembangkan pengaruh dan wilayah sebagai bagian dari rencana membentuk Asia Timur Raya yang meliputi Manchuria, Daratan China, Kepulauan Filiphina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo China dan Rusia di bawah kepemimpinan Jepang, negera ini mulai melakukan ekspansi militer ke berbagai negara sekitarnya tersebut. Dengan konsep “Hakko Ichiu” (Kemakmuran Bersama Asia Raya) dan semboyan “Asia untuk Bangsa Asia”, bangsa fasis inipun menargetkan Indonesia sebagai wilayah potensial yang akan menopang ambisi besarnya. Dengan konteks sejarah dunia yang menuntut dukungan militer kuat, Jepang mengelola pendidikan di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan di masa pndudukan Jepang sangat dipengaruhi motif untuk mendukung kemenangan militer dalam peperanganPasifik.

       Setelah Februari 1942 menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:
Ø  Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda;
Ø  Adanya integrasi system pendidikan dengan dihapuskannya system pendidikan berdasarkan kelas social di era penjajahan Belanda
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
Ø  Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
Ø  Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
Ø  Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
Ø  PendidikanTinggi.
      Guna memperoleh dukungan tokoh pribumi, Jepang mengawalinya dengan menawarkan konsep Putera Tenaga Rakyat di bawah pimpinan Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur pada Maret 1943. Konsep ini dirumuskan setelah kegagalan the Triple Movement yang tidak menyertakan wakil tokoh pribumi. Tetapi PTR akhirnya mengalami nasib serupa setahun kemudian. Pasca ini, Jepang tetap merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan mereka. Upaya Jepang mengambil tenaga pribumi ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem pendidikan mereka di Manchuria dan China yang menerapkan sistem Nipponize (Jepangisasi). Karena itulah, di Indonesia mereka mencobakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun patut dicatat bahwa pada menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang untuk menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya Sendenbu (propagator Jepang) untuk menanamkan ideologi yang diharapkan dapat menghancurkan ideologi Indonesia Raya.

      Jepang juga memandang perlu melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain:
Ø  Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu;
Ø  Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang;
Ø  Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang;
Ø  Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta
Ø  Olaharaga dan nyanyian Jepang. Sementara untuk pembinaan kesiswaan, Jepang   mewajibkan bagi setiap murid sekolah untuk rutin melakukan beberapa aktivitas berikut ini: (1) Menyanyikan lagi kebangsaan Jepang, Kimigayo setiap pagi;
Ø  Mengibarkan bendera Jepang, Hinomura dan menghormat Kaisar Jepang, Tenno Heika setiap pagi;
Ø  setiap pagi mereka juga harus melakukan Dai Toa, bersumpah setia kepada cita-cita Asia Raya;
Ø  Setiap pagi mereka juga diwajibkan melakukan Taiso, senam Jepang;
Ø  Melakukan latihan-latihan fisik dan militer;
Ø  Menjadikan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam pendidikan. Bahasa Jepang   menjadibahasa yang juga wajib diajarkan.

Setelah menguasai Indonesia, Jepang menginstruksikan ditutupnya sekolah-sekolah berbahasa Belanda, pelarangan materi tentang Belanda dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Termasuk yang harus ditutup adalah HCS, sehingga memaksa peranakan China kembali ke sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi Hua-Chino Tsung Hui, yang berimplikasi pada adanya proses resinification (penyadaran dan penegasan identitas sebagai keturunan bangsa China). Kondisi ini antara lain memaksa para guru untuk mentranslasikan buku-buku berbahasa asing kedalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan proses pembelajaran. Selanjutnya sekolah-sekolah yang bertipe akademis diganti dengan sekolah-sekolah yang bertipe vokasi. Jepang juga melarang pihak swasta mendirikan sekolah lanjutan dan untuk kepentingan kontrol, maka sekolah swasta harus mengajukan izin ulang untuk dapat beroperasi kembali. Taman Siswa misalnya terpaksa harus mengubah Taman Dewasa menjadi Taman Tani, sementara Taman Guru dan Taman Madya tetap tutup. Kebijakan ini menyebabkan terjadinya kemunduran yang luar biasa bagi dunia pendidikan dilihat dari aspek kelembagaan dan operasonalisasi pendidikan lainnya.

      Sementara itu terhadap pendidikan Islam, Jepang mengambil beberapa kebijakan antara lain: (1) Mengubah Kantoor Voor Islamistische Zaken pada masa Belanda yang dipimpin kaum orientalis menjadi Sumubi yang dipimpin tokoh Islam sendiri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari. Di daerah-daerah dibentuk Sumuka;
Ø  Pondok pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang;
Ø  Mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar seni kemiliteran bagi pemuda Islam di bawah pimpinan K.H. Zainal Arifin;
Ø  Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta di bawah asuhan K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta;
Ø  Diizinkannya ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang belakangan menjadi cikal-bakal TNI di zaman kemerdekaan; dan
Ø  Diizinkannya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun kemudian dibubarkan dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan dua ormas besar Islam, Muhammadiyah dan NU. Lepas dari tujuan semula Jepang memfasilitasi berbagai aktivitas kaum muslimin ketika itu, nyatanya hal ini membantu perkembangan Islam dan keadaan umatnya setelah tercapainya kemerdekaan.











C. Pendidikan pada jaman kemerdekaan hingga sekarang

Berbicara tentang sejarah pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari nama-nama tokoh terkemuka dalam dunia pendidikan di negeri ini, yaitu R.A Kartini penulis buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia dan nama-nama tokoh yang lain.
Menurut Dictionary of Education menyebutkan pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku di dalam masyarakat dimana ia hidup.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat  dan kebudayaan.

Sejak diplokramilkannya kemardekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, dimana dalam UUD 1945 Bab II pasal 3 dicantumkan dengan tegas dinyatakan “Tujuan Pendidikan dan Pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”, jadi kurikulum harus bisa mengapliklasikan rencana pendidikan dan pengejaran awal kemardekaan adalah:

• Meningkatkan kecerdasan kesadaran hidup bernegara dan bermasyarakat
• Meningkatkan pendidikan jasmani
• Meningkatkan pendidikan watak
• Memberikan perhatian pada kesenian
• Menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kurikulum terus berubah sesuai dengan tuntunan perubahan kebutuhan masyarakat mqsa sekarang dan masa yang akan datang.
Sistem pendidikan pun harus disesuaikan dan disempurnakan jika setelah berjalan sudah tidak bisa lagi memenuhi tuntunan, baik dari segi content (isi), Strategi Pembelajaran, media/alat bantu pembelajaran dan cara penilaiannya. Prinsip”Live Long education”, dapat diterapkan dan pemerintah telah mengundang dan menerapkan wajib belajar 9 tahun setiap warga Negara. Setiap warga Negara berhak untuk mendapat pendidikan yang layak sesuai dengan kemampuannya.



Sistem Pendidikan pada masa Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan, tujuan pendidikan adalah untuk mendidik warga Indonesia menjadi masyarakat yang sejati. Bersedia menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk masyarakat.
Periode 1945-1950
v  Pendidikan Rendah (SR) selama enam tahun
v  Pendidikan Menengah Umum terdiri atas Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), masing-masing tiga tahun.
v  Pendidikan Kejuruan, Kejuruan tingkat pertama terdiri atas ; Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Sekolah Teknologi (ST), Sekolah Teknologi Pertama (STP), Sekolah Keguruan Pertama (SKP), Sekolah Guru B (SGB), Sekolah Guru Darurat untuk kewajiban belajar (KPKPKB),
v  Kejuruan tingkat menengah terdiri atas ; Sekolah Tehknik Menengah (STM), Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Menengah Kejuruan Atas (SMKA), Sekolah Guru A (SGA), Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK), Sekolah Guru Kepandaian Puteri (SGKP), Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPD).
v  Perguruan Tinggi terdiri atas ; Universitas, Konservasi/karawitan, Kursus B-1 dan ASRI.

Periode 1950-1975
v  Pendidikan Pra-Sekolah dan pendidikan dasar yaitu; Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah (SD)
v  Pendidikan Menengah Umum terdiri atas: Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
v  Sekolah Menengah Kejuruan terdiri atas; SMEP, SKP, ST, SGB, KPKPKB dan tingkat menengah terdiri; SMEA, SGA, SMKA, SGKP, SPMA, SPM, STM dan SPK.
v  Perguruan Tinggi terdiri atas; Universitas, Institut Teknologi, Institut Pertanian, Institut Keguruan, Sekolah Tinggi dan Akademik.

Periode 1978-sekarang
v  Pendidikan pra-Sekolah; Taman kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
v  Sekolah Dasar
v  Sekolah Menengah Umum (SMU), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
v  Sekolah Kejuruan tingkat pertama; ST, SKKP, tingkat atas; SMK
v  Pendidikan tinggi; Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi, Diploma dan Politeknik.


































Daftar Pustaka

Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 29

Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 36

Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 37

Prof. Dr. S. Nasution, Sejarah Pendidikan Nasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 20

Djojonegoro, Wardiman. (1996). Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia.

Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudyaan.

Djumhur, dkk. (1976). Sejarah Pendidikan. Bandung : CV Ilmu Bandung.

Raisyidin, Waini, dkk. (2007). Landasan Pendidikan. Bandung.



































































































































Daftar pustaka


H. Ihsan Fuad, Dasar-dasar Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta 2008
                                 

File:///.D:/Pendidikan pada masa kerajaan islam di Indonesia<ranuwa.htm

File:///.D:/Sejarah Pendidikan.htm