Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Semenjak Sang
Buddha parinibbana terdapat beberapa usaha untuk menlestarikan ajaran Buddha.
Diprakarsai oleh Maha Kassapa terbentuklah Sanghayana I yang berusaha
melestarikan ajaran Buddha dengan mengulang kembali ajaran-ajaran Buddha
melalui bhikkhu Ananda dan Bhikkhu Upali yang mengulang Dhamma dan Vinaya. Demikian seterusnya guna melestarikan Dhamma dan Vinaya
dilakukan Sanghayana-Sanghayana yang lain.
Pada Sanghayana ke dua terdapat permasalahan
dimana bhikkhu-bhikkhu dari suku Vajji mengajukan 10 point peraturan yang
berbeda sekali dengan yang telah ada. Menurut cullavagga hal ini teru
berlanjut menjadi konflik yang akhirnya menimbulkan munculnya gerakan baru
yaitu Mahayana sedangkan yang
konservatif disebut Hinayana. Tetapi menurut Mahavagga setelah
terjadinya perdebatan itu masalah selesai dan masing-masing pihak menerimanya.
Tidak terjadi sanghayana lain yang dilakukan oleh kelompok kontra konservatif.
Terlepas dari
semua histori kemunculan dua aliran besar yaitu hinayana dan Mahayana pada kenyataanya
sekarang terdapat dua aliran besar yaitu Theravada dan Mahayana yang diyakini
bibitnya berasal dari Hinayana dan Mahayana.
Kedua aliran
itu telah berkembang masing-masing dengan segala atributnya masing-masing.
Keduanya telah memperkaya kompleksitas Buddhisme. Kedua aliran ini mempunyai
persamaan karena berasal atau bersumber pada hal yang sama yaitu Buddha.
Keduanya juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar karena
prinsip-prinsip diantara keduanya berbeda.
Pada prinsipnya
semua ajaran Buddha hanya mengacu pada satu tujuan, yaitu Pembebasan
(pelenyepan penderitaan). Dan yang lebih unik dalam ajaran Buddha adalah
banyaknya metode yang berbeda-beda untuk merealisasi pembebasan. Hal ini di
karenakan kualitas pencerapan yang berbeda-beda dari para siswa Guru Buddha
ketika mendengar ajaran langsung dari Buddha. Tetapi perbedaan kualitas
pencerapan dari setiap siswa Buddha tidak mengurangi esensi ajaran yang
sesungguhnya.
Bagi mereka
yang dapat mengerti hal tersebut diatas dan telah banyak membaca sejarah
kehidupan Buddha, akan mengerti mengapa banyak perbedaan dan metode yang
digunakan dalam Buddha Dhamma untuk mencapai pembebasan. Tetapi bagi mereka
yang menutup pandangannya dari ajaran sepihak, baik itu Mahayana maupun
Theravada, maka pastilah sulit untuk menerima pandangan-pandangan dari berbagai
aliran. Mengacu pada tujuan untuk mewujudkan rasa Pluralitas terhadap berbagai
aliran dalam Buddha Dhamma, maka perlu kita mengerti dan mengkaji secara
mendalam apa sesungguhnya yang menjadi inti Ajaran Buddha serta pokok-pokok
penting yang menjadi landasan praktek untuk mencapai pembebasan akhir, Nibbana.
Perkembangan
aliran Vajrayana, yang merupakan salah satu aliran besar dalam agama Buddha,
Justru tidak begitu membuat pertentangan banyak orang, khususnya umat Buddha.
Aliran Vajrayana merupakan salah satu aliran yang terdapat dalam Mahayana.
Sehingga banyak praktek-praktek yang mirip dengan Mahayana dan sebagian mantra
yang digunakan Mahayana pun digunakan juga oleh aliran Vajrayana. Tetapi sejauh
ini hanya kedua aliran besar Mahayana dan Hinayana yang memiliki kecenderungan
selisih paham.
Inti dan
landasan praktek ajaran Buddha adalah salah satu pokok yang penting untuk
membuka cakrawala seseorang yang menutup dirinya dari pandangan-pandangan orang
lain. dengan demikian penulis akan berusaha memberikan pemahaman mengenai
pluralitas dalam agama Buddha melalui makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
Apa persamaan konsep dalam buddhisme
antara Hinayana dan Mahayana?
2.
Apa perbedaan konsep dalam buddhisme
antara Hinayana dan Mahayana?
3.
Apakah pokok dasar yang menjadi
pemersatu pandangan kedua aliran dalam agama Buddha, yaitu Mahayana dan
Hinayana?
4.
Bagaimanakah misionaris
berkembangnya aliran Vajrayana?
C. Batasan Masalah
1.
Persamaan konsep dalam buddhisme
antara Hinayana dan Mahayana
2.
Perbedaan konsep dalam buddhisme
antara Hinayana dan Mahayana
3.
Munculnya aliran Vajrayana
D. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan
untuk mengetahui tiga aliran besar dalam agama Buddha, mengetahui perbedaan dan
persamaan dua aliran besar yaitu, Mahayana dan Theravada, serta memunculkan
rasa pluralitas dalam agama Buddha.
E. Manfaat
Dapat memberikan pemahaman yang
benar terhadap setiap aliran dalam agama Buddha, sehingga dapat menumbuhkan
rasa pluralitas tinggi terhadap ajaran Buddha.
Bab II
Pembahasan
A. Aliran Mahayana dan Theravada
Dalam perkembanganya, agama Buddha
terbagi menjadi dua aliran besar yang terbentuk pada saat sidang Sangha yang
kedua. Kedua aliran besar yang muncul
adalah Mahayana dan Hinayana. Munculnya dua aliran besar tersebut tentunya
menjadi satu hal yang memberikan pandangan berbeda pada setiap orang mengenai
ajaran Buddha. Perbedaan pandangan tersebut hingga saat ini masih terus
berkembang dan menyebabkan perpecahan umat Buddha menjadi beberapa golongan.
Mahayana
terdiri dari dua kata yakni maha (besar) dan yana (kendaraan),
jadi secara etimologis berarti kendaraan besar. Ide maha merujuk pada
tujuan religius seorang buddhis yaitu menjadi Bodhisatva Samasamboddhi
(Buddha sempurna), sedangkan Hinayana terdiri dari hina (kecil)
dan yana sering disebut sebagai kendaraan kecil karena bertujuan
menjadi arahat maupun paccekabuddha yang dianggap lebih rendah (inferior).
Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah yang diberikan oleh kaum
Mahayana.
Kedua aliran
ini jelas mengakui Buddha Sakyamuni sebagai guru mereka, sehingga ajaran-ajaran
yang berkembangpun banyak yang sama.Aliran Mahayana berkembang di Negara-negara
seperti, China, Korea, Vietnam, jepang dan Indonesia sedangkan Hinayana
berkembang di Negara srilanka, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Indonesia.
Meskipun Hinayana lebih dikenal sebagai aliran yang ortodoks namun dalam
perkembangannya disetiap Negara tetap masih menyesuaikan dengan kebudayaan
setempat, hanya Vinaya dan Sila tidak berubah.
Pada saat
pengukuhan Persahabatan Umat Buddha
Sedunia tahun 1950, orang yang tau dengan baik, di Timur maupun Barat, menggunakan
istilah Theravada, bukan istilah Hinayana, untuk merujuk umat Buddha yang
tinggal di Negara Asia Tenggara. Namun
ada orang yang ketinggalan jaman yang masih menggunakan istilah
Hinayana. Kenyataannya, Samadhi Nirmocana Sutra (suatu Sutra Mahayana) dengan
jelas berkata bahwa Sravakayana-Theravada dan Mahayana mengandung satu Yana
(Ekayana) dan bahwa mereka bukanlah dua “kendaraan” yang berbeda.
B. Ciri-ciri
Mahayana dan Theravada
1. Aspek
Penafsiran
Mahayana lebih bersifat progresif dan liberal
dalam arti tidak kaku dan melekat begitu saja terhadap ajaran Buddha yang
tersurat. Dalam hal penafsiran Theravada lebih bersifat konservatif yaitu
menjaga yang sudah ada, mengacu pada apa yang sudah ditetapkan pada
konsili-konsili yang sudah ada. Hal ini dipertahankan guna mengantisipasi
adanya kesalahan penafsiran.
2. Aspek
Cita-cita
Kemunculan
Mahayana merupakan suatu revolusi cita-cita keselamatan, pembebasan atau tujuan
tertinggi dalam Buddha Dharma, yaitu berjuang melaksanakan Bodhisattvayana
untuk meraih kesempurnaan menjadi Buddha. Cita-cita religious dalam Mahayana
ini menunjukan bahwa tak ada sesuatupun yang tidak dapat dikorbankan oleh Bodhisattva
demi kebaikan makhluk-makhluk lain. Sedangkan Theravada yang merupakan
paham yang konservatif bercita-cita pada pencapaian arahat, dianggap arahat
adalah satu level dengan sammasambuddha. Tetapi aspek cita-cita pada Theravada
ini tidak sepenuhnya ingin menjadi arahat karena beberapa pengikut
aliran ini ada yang bertujuan menjadi sammasambuddha.
3. Aspek
Metodik
Dalam
melaksanakan cita-citanya, Bodhisattva mempergunakan berbagai metode
yang sifatnya praktis yang dimaksudkan untuk melatih, membina, dan membimbing
semua makhluk ke tujuan akhir kehidupan, penyadaran terhadap Yang Mutlak, yang
dikenal dengan metode Upaya-Kausalya. Bodhisattva melaksanakan
disiplin Bodhi (Bodhicittopada), dan mengarah ke penyadaran Bodhicitta
(Batin pencerahan) yang memiliki dua aspek : Sunyata (Kekosongan)
dan Karuna (Welas asih). Sunyata merupakan implikasi praktis dari
Prajna (Pengetahuan sempurna), dan identik dengan Yang Mutlak, Yang
abosulut. Sedangkan Karuna merupakan prinsip aktif yang merupakan
ungkapan nyata Sunyata dalam fenomena. Sedangkan Theravada lebih
menekankan pada Vippasana sebagai metode untuk mencapai pembebasan akhir.
C. Persamaan antara Theravada dan
Mahayana:
1.
Mengakui Buddha Sakyamuni sebagai guru agung yang telah tercerahkan.
2. Bersumber pada kitab Suci Tipitaka
(Pali=Hinayana) atau Tripitaka (Sanskrit=Mahayana).
3. Mengakui bahwa keberadaan suatu
individu adalah penderitaan dan menginginkan terbebas dari penderitaan ini.
4.
Kebebasan hanya tercapai jika telah melenyapkan Lobha/raga,
dosa/dvesa dan Moha.
5. Mengakui hukum karma/kamma yaitu
hukum perbuatan siapa yang berbuat dia yang akan menerima buah akibatnya.
Percaya pada kelahiran kembali yang sangat dekat dengan hokum karma yaitu ia
yang berbuat baik akan terlahir di alam yang bahagia demikian sebaliknya.
6. Mengakui adanya hukum sebab-musabab
yang saling bergantungnan meski menurut TH.Stcherbatsky, Ph.D mereka mempunyai
interpretasi masing-masing tetapi dalam hal ini mereka mengakui bahwa segala
sesuatu adalah bergantungan (Paticcasamuppada/pratityasamutpada).
7.
Mengakui Empat Kesunyataan Mulia sebagai doktrin Buddha yang benar dan
mulia.
8. Mengakui anicca/ksanika,
dukkha/santana, dan anatta/anatmakam.
9. mengakui 37 Bodhipaksyadhamma/Bodhipakiyadhamma
10. Mengakui
bahwa dunia ini tiada permulaan atau awal begitu pula akhirnya.
D. Perbedaan
antara Hinayana dan Mahayana:
1.
Dalam memandang kenyataan dunia
hinayana menggunakan realisme psikologis, sedangkan Mahayana adalah idealis,
implikasinya hinayana memandang penderitaan di dunia ini adalah sebuah kesunyataan
sedang Mahayana menganggap hal ini sebagai sebuah ilusi.
2.
Hinayana menolak adanya keberadaan
yang sejati di dalam fenomena dan menolak pernyataan-pernyataan metafisika,
Mahayana mnegajarkan Kemutlakan yang abadi (eternal absolute).
3.
Mahayana menganggap Buddha Gotama
adalah guru yang merupakan manifestasi dari proyeksi yang absolut, sedangkan
dalam Theravada/Hinayana beliau dianggap sebagai manusia normal yang mempunyai
kekuatan lebih. Mahayana memandang Buddha adalah transenden, mutlak, dan dipuja
sangat tinggi dalam Hinayana Buddha dipuja layaknya seorang guru yang
membimbing ke kesucian tidak dilebih-lebihkan.
4.
Nibbana hanya dapat
dicapai oleh usaha sendiri. Mahayana percaya bahwa nibbana dapat
tercapai melalui bantuan orang luar.
5.
Menurut Mahayana jasa dapat
ditransfer (punya parinamana) kepada orang lain, sedang hinayana tidak
menyetujuinya hanya dapat menginspirasi mahkluk lain (punya anumodana).
6.
Menurut Hinayana Nibbana
adalah tujuan tertinggi dari seseorang sedangkan Mahayana memandang kehidupan
sebagai Bodhisatva adalah tujuan yang harus dilalui sebelum mencapai
Kebuddhaan.
7.
Nibbana adalah
kebebasan terakhir dari penderitaan sedang dalam Mahayana hal ini dimengerti
sebagai kesadaran akan sesuatu yang absolut. Menurut Mahayana seseorang
sudah mempunyai kehidupan kebudhaan dan secara sungguh-sungguh menyadari akan
hal ini.
8.
Hinayana bersifat rasionalistik
sedangkan Mahayana bersifat ghaib. Misalnya dalam memandang mantra
Mahayana mengakui adanya hal mistis dalam mantra-mantra tetapi hinayana memandang
bahwa hal itu didukung oleh banyak factor misal keyakinan, kamma, dan
kebersihan bathin sehingga mantra atau paritta akan mempunyai sifat mistik.
9.
Dalam hal bodhisatva Mahayana
mengakui bahwa Bodhisatva telah mencapai penerangan sempurna seperti
Avalokitesvara Bodhisatva, dalam Hinayana Bodhisatva adalah mahkluk calon
Buddha yang masih menyempurnakan paramita untuk meraih penerangan
sempurna.
10. Dalam Hinayana
mahkluk suci ada empat macam tingkatan yaitu Sottapana, Sakadagami, Anagami,
Arahat. Dalam Mahayana mahkluk suci selain empat tersebut yakni Srotapana,
Sakadagamin, Anagamin, Arhat juga terdapat sepuluh tingkat kesucian yaitu Dasabhumi
yaitu Pramudita, Vimala, prabhakari, Archismati, Sudurjaya, Abhimukti,
Durangama, Acala, Sadhumati, Dharmamegha.
11. Do`a dan ritual
dalam Mahayana menjadi aspek yang dipentingkan karena dapat membimbing kepada
pencerahan. Berbeda dengan Hinayana yang tidak terlalu mementingkan do`a dan
ritual bahkan melekat pada ritual dan do1a akan terjerumus dalam penderitaan (Silabataparamamsa)
12. Pencapaian
kesucian dalam Hinayana adalah dengan melenyapkan rintangan kekotoran bathin (Kilesaavarana)
sedangkan dalam Mahayana pencapaian kesucian adalah dengan melenyapkan
rintangan kekotoran bathin (Klesavarana) dan rintangan pengetahuan (Jneyaavarana)
13. Paramita (kesempurnaan)
untuk mencapai sammasambuddha dalam Hinayana berjumlah sepuluh (dasa
paramita) yaitu Dana, Sila, Nekhama, Panna, Viriya, Khanti, Sacca,
Adhithana, Metta, Upekha. Dalam Mahayana paramita yang ditekankan adalah
enam paramita (Sad Paramita) yaitu Dana, Cila, Ksanti, Virya, Dhyana,
Prajna. Kadang-kadang menjadi dasa paramita ditambah dengan Upaya-Kausalya,
Pranidhana, Bala, Jnana. Penekanan pelaksanaan paramita Mahayana
berdasarkan atas Karuna dan Prajna.
14. Kilesa menurut
Hinayana ada sepuluh yaitu Lobha, Dosa, Mana, Dithi, Vicchikicha,
Thinamidha, uddhacca, Ahirika, dan Anotappa. Menurut Mahayana ada enam
yaitu Raga, Pratigha, Mana, Avidya, Kudrasti, Vicikitsa.
F. Pokok-pokok pemersatu aliran
Mahayana dan Theravada
Dalam suatu faham,
kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun
ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham,
kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang
beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep
ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga
aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun
agama induknya.
Buddhisme
merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi.
Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada
dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari
Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari
Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep
ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.
Dalam tulisan
kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran
besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar
pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari,
disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan
Sangha Buddhis Sedunia.
Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis
Sedunia.
Pada tahun
1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council
(WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan
organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha
dari seluruh dunia.
WBSC memiliki
perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari
berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis,
Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia,
Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan,
Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.
Pada Kongres
WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita
Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan
ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara
bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada
dan Mahayana”:
1.
Sang Buddha hanyalah satu-satunya
Guru dan Penunjuk Jalan.
2.
Kami berlindung dalam Ti Ratana (Buddha,
Dhamma, dan Sangha).
3.
Kami tidak mempercayai dunia ini
diciptakan dan diatur oleh tuhan.
4.
Kami mengingat bahwa tujuan hidup
adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan
berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk
mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran
Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya
dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima
hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).
5.
Segala sesuatu yang berkondisi
(sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan
segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa
inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).
6.
Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37)
kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma)
sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang
mengarah pada Pencerahan.
7.
Ada tiga jalan mencapai bodhi atau
Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha /
Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya
sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir
Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan
makhluk lain.
8.
Kami mengakui bahwa di negara yang
berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik
Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh
dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran
Sang Buddha.
Perluasan Rumusan.
Pada tahun 1981
Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar
dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:
- Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
- Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
- Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
- Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
- Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
- Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
- Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
- Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
- Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
- Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
- Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
- Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
- Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
- Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
- Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).
- Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.
- Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.
Rumusan Lain
Ada beberapa
tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara
Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.
Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti
berikut:
- Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
- Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
- Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
- Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
- Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
- Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.
Rumusan dari Oo Maung:
- Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
- Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
- Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
- Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
- Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
- Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.
Rumusan dari Tan Swee Eng:
- Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
- Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
- Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
- Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
- Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.
G. Munculnya dan berkembangnya aliran
Vajrayana, Tantrayana atau Mantrayana
Vajrayana alias
Tantrayana alias Mantrayana adalah sebuah sub sekte daripada Mahayana. Boleh
dibilang, Tantrayana adalah aspek esoterik dari Buddhism, khususnya Mahayana.
Yang mana seharusnya merupakan tahap akhir dalam perjalanan spiritual seorang
Buddhist setelah sebelumnya menapaki Staviravada (Theravada), lalu kepada
Mahayana tradisi Sutra, lalu berlanjut kepada Mahayana tradisi Tantra
(Vajrayana).
Peristiwa terpenting
yang terjadi di India pada periode ketiga (500-1000 M) adalah munculnya Tantra.
Tantra adalah pencapaian pemikiran kreatif Buddha di India yang ketiga,
tertinggi, dan terakhir. Perkembangan Tantra mengalami tiga tahap. Tahap
pertama disebut Mantrayana, dimulai pada abad ke-4 dan mencapai kemajuan
setelah tahun 500 M. Tahap ini memperkaya Buddha, melalui tradisi yang bersifat
gaib, serta memanfaatkannya sebagai alat atau perlengkapan yang mempermudah
mencapai tujuan Pencerahan. Dengan cara ini banyak mantra, mudra, mandala, dan
makhluk-makhluk luhur baru diperkenalkan ke dalam agama Buddha walau belum
secara sistematis. Setelah tahun 750, terjadi perkembanagn yang sistematis yang
disebut Vajrayana, yang mengkoordinasikan ajaran-ajaran terdahulu dalam
suatu kumpulan yang berisi Lima Tathagata. Dengan berlalunya waktu,
kecenderungan-kecenderungan dan perkembangan sistem berikutnya memperbaharui
penampilan mereka. Hal yang patut diperhatikan di antaranya adalah Sahajayana
menekankan pula praktik-praktik meditasi dan pengembangan intuisi yang
diajarkan melalui teka-teki, paradoks-paradoks, dan patung-patung, serta
menghindari kemungkinan berubah menjadi sistem filasafat yang statis dengan
mempertahankan ajaran-ajaran atau prinsip-prinsip yang tidak tegas. Menjelang
akhir periode ini, pada abad kesepuluh, ada Kalacakra, “Roda Waktu” yang
ditandai dengan luasnya sinkretisme berbagai aliran, dan penekanan pada
astrologi.
Gerakan baru ini timbul di
Selatan dan Barat Laut India. Pengaruh-pengaruh non-India, yaitu dari Cina,
Asia Tengah, dan daerah-daerah perbatasab di seitar India, memegang peranan
penting dalam pembentukan gerakan ini. Juga banyak menyerap gagasan dari suku
bangsa asli dari India sendiri. Tantra berusaha memberikan peranan terhormat
kepada semua roh, bidadari, peri, makhluk halus, raksasa, dan hantu-hantu yang
telah menghantui imajinasi penduduk, juga kepada perbuatan-perbuatan gaib yang
tidak asing bagi penduduk pertanian maupun penduduk nomaden. Langkah lanjut
untuk mempopulerkan agama ini, dimaksudkan untuk memberikan dasar yang lebih
kuat di dalam masyarakat. Tetapi sepanjang menyangkut kepentingan kaum elit,
ada perbedaan penting dimana non-Buddhis menggunakan ilmu gaib dalam rangka
untuk memperoleh kekuasaan, sedangkan umat Buddha menggunakannya untuk
membebaskan diri mereka sendiri dari kekuatan-kekuatan asing untuk menemukan
jati diri.
1.
Aliran Tantrayana
Tantrayana adalah satu
mazhab dalam agama Buddha yang sangat istimewa karena memiliki cirri-ciri khas
yang unik. Mazhab ini berkembang pesat diantaranya negara India, China, Tibet,
Jepang, Korea dan Asia Tenggara serta benua Eropa, Australia hingga benua
Amerika. Mazhab ini merupakan perpaduan puja bhakti dengan praktek meditasi
yogacara serta metafisika Madhyamika. Maka dari itu mazhab Tantrayana bukan
hanya membicarakan teori, akan tetapi praktek dalam pelaksanaannya. Di dalam perkembangannya,
mazhab ini kadangkala dinamakan Tantra-Vajrayana atau Tantra-Mahayana.
Menurut Dr. Pdt. HS. Rusli
MA., PhD., pengertian istilah tantra ini pada mulanya berhubungan dengan kata
dalam bahasa sanskerta Prabandha yang berarti "hubungan kelestarian yang
tiada putus-putusnya". Pada mulanya tanggapan orang memandang tantra
banyak menimbulkan pikiran yang salah. Sebenarnya perkataan tantra
diperkenalkan pada publik di dunia Barat pada tahun 1799, yakni pada saat
literatur-literatur mengenai mazhab Tantrayana ini diketemukan oleh misionaris
Eropa di India.
Menurut dr. W. Kumara D.
yang dikutip dari literatur-literatur mazhab Tantrayana, kata tantra itu
sendiri dapat juga berarti Sadhana (sarana mengerjakan). Mazhab Tantrayana
memiliki akar-akar pandanga yang sama dengan Mahayana khususnya Yogacara. Namun
demikian, Tantrayana memiliki perbedaan dengan Mahayana dalam hal tujuan,wujud
manusia yang telah mencapai tujuan tantrayana dan cara pengajarannya.
Para misionaris Barat
sangat kagum setelah mempelajari mazhab tantrayana, karena terdapat konsepsi
maupun ide-ide religi serta filsafat yang sangat kenal, berlainan dengan
konsepsi maupun ide yang mereka kenal sebelumnya. Tantra Timur adalah
tantra yang berkembang di daratan China dikenal sejak abad IV Masehi,setelah
Srimitra yang berasal dari Kucha (sekarang Xinqiang-China) berhasil
menerjemahkan sebuah kitab Tantrayana yang berisi mantra-mantra, pengobatan,
doa pemberkahan dan ilmu gaib lainnya. Hal tersebut sesungguhnya belum
mencerminkan nilai-nilai agung dari aliran Tantrayana itu sendiri, kata Mr.
Chauming. Tantra Timur bercorak perfeksionis dimana semua rupang Buddha maupun
Bodhisattva serta vajrasatva baik yang bersifat maskulin dan feminim, lebih
menunjukkan kesempurnaan, keagungan yang sesuai dengan sopan santun yang ada
pada masyarakat China.
Tantra Timur berkembang di
China pada abad VII, ketika dikunjungi oleh tiga orang Maha Acharya Tantrayana
dari India, yakni:
a. Subhakarsinha (637-735M), beliau tiba di Ch'an An setelah belajar di
Nalanda (India) pada tahun 716 M. Kemudian bersama-sama dengan I Ching
menerjemahkan Sutra Tantra yang terkenal, yakni Maha Vairocana Sutra pada tahun
725 M.
b. Vajra Bodhi (663-725M), beliau juga pernah belajar di Nalanda (India) dan kemudian menerjemahkan Vajrasakhara pada tahun 720 M.
c. Amoghavajra
(705-784 M), beliau adalah siswa dari Vajrabodhi yang tiba di Ch'an pada tahun
756 M.
Selanjutnya,perkembangan
mazhab Tantrayana di China sangat pesat selama lebih kurang tiga abad, antara
abad V hingga abad VIII Masehi. Selama tiga abad tersebut, berkembang delapan
aliran besar di China, yakni:
a.
Lu-Tsung (Vinayavada), didirikan
oleh Tao-hsuan (595-667 Masehi).
b.
San Lun Tsung (Madhyamika), didirikan oleh
Chi-Tsang (549-623 M).
c.
Wei Shih Tsung (Yogacara)
didirikan oleh Huan Tsang (596-664 M).
d.
Mi-Tsung (Tantrayana), didirikan oleh
Amoghavajra (705-784 M).
e.
Hua Ten Tsung (Avatamsaka),
didirikan oleh Tu Hsun (557-640 M).
f.
Tien Tai Tsung, didirikan oleh
Chih K'ai (538-597 Masehi).
g.
Chin Thu Tsung (Amida/Pure Land).
Didirikan oleh Shan Tao (613-
681 masehi).
h. Ch'an (Zen), didirikan oleh Bodhidharma sekitar tahun 500.
Tantra Barat adalah
tantra yang berkembang di Tibet dan sekitar pegunungan Himalaya batas antara
China dan India, yang sebenarnya hanya dalam letak geografis saja. Daerah ini
memiliki tradisi dan sejenis kepercayaan yang disebut Bon-Pa. Dan orang-orang
Tibet umumnya memiliki kemampuan untuk menguasai roh-roh halus. Di samping
symbol dari jenis rupang Buddha sedikit ada perbedaan. Bila dilihat Tantra
Barat lebih bercorak naturalis terlihat jelas pada anggota tubuhnya, yakni
bersifat feminisme (dalam bentuk wanita). Terdapat pula rupang angkara murka,
seperti Angry Vajra (Vajravarahi dalam wajah murka).
Pandangan Dr. Pdt.
Rusli PhD, para misionaris Buddhis pada awal kedatangannya di Tibet, banyak
menghadapi kendala dan kurang mendapat sambutan dari penduduk Tibet. Bahkan
kehadiran misionaris di Tibet merupakan ancaman bagi dukun-dukkun Bon Pa, oleh
karena itu para misionaris Buddhis mengalami kendala dan tak jarang banyak
korban kena ilmu magis` terjadi pada misionaris.
Pada tahun 747 masehi,
Maha Guru Padma Sambhava menjalankan misi ke Tibet. Beliau pada masa mudanya
adalah seorang pangeran dan sangat menyenangi hal-hal yang bersifat magis.
Beliau memiliki kemampuan supranatural yang dipadukan dengan ajaran-ajaran
Hyang Buddha. Berkat kemampuan beliaulah, dukun-dukun Tibet dapat ditundukkan
dan memperoleh simpati dari bangsa Tibet. Tantrayana di Tibet berkembang hingga menjadi tiga
periode. Yakni periode pertengahan dan pembaharuan serta periode permulaan
gelar Dalai Lama (dari abad XVII hingga sekarang ini).
Mazhab Tantrayana,baik
Tantra Barat maupun Tantra Timur disebut esoterik (rahasia/tersembunyi), karena
dalam penyebarannya tidaklah bersifat terbuka. Tantra diajarkan oleh seorang
guru pada siswanya setelah melalui upacara-upacara ritual dan berbagai bentuk
ujian.
Kitab Suci Mazhab Tantrayana di Tibet
Mazhab Tantrayana di
Tibet memiliki naskah terjemahan kitab suci yang kebanyakan berasal dari India
dan terdiri lebih dari 4.566 naskah. Kumpulan naskah dalam bahasa Tibet
tersebut digolongkan dalam
dua bagian, masing-masing :
1)
Bkahgyur(dibaca Kanjur) yang sebahagian besar adalah terjemahan dari bahasa Sanskerta dan sebahagian kecil terjemahan dari bahasa
mandarin, terdiri dari 3.458 naskah serta dihimpun dalam tiga bagian, yakni :
a)
Dulva (Vinaya), terdiri dari 13
bagian, merupakan peraturan-peraturan,disiplin, tata tertib untuk anggota
Sangha.
b)
Do (Sutra),
terdiri dari 66 bagian yang mencatat ajaran Hyang Buddha, seperti halnya
dalamsutra-sutra canon pali dan sutta-sutta kanon sanskerta dan selalu diawali
dengan "Demikianlah yang saya dengar".
c)
Chon non pa (Abhidhamma), terdiri
dari 21 bagian yang merupakan pelajaran filsafat dan pembahasan dari ajaran
Hyang/Sang Buddha.
2)
Bstanghyur (dibaca Tanjur), merupakan
pembahasan atau komentar (tafsir) yang dihimpun dalam dua kitab :
a)
Tantra (Rgyud), terdiri dari 22
bagian yang berisi doa-doa,dharani-dharani, mudra, mandala dan lain-lainnya.
b)
Sutra,
merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) dari Do (sutra).
Tantra terpisah dari
Mahayana dalam hal pendefinisian tujuan dan tipe manusia ideal dan juga dalam
cara pengejaran. Tujuannya masih sama, yaitu Kebuddhaan, walaupun tidak lagi
terjadi di masa depan, berkalpa-kelpa kemudia, tetapi saat ini, “dengan tubuh ini”,
“dalam satu piiran” yang diperoleh secara ajaib dengan cara-cara yang baru,
cepat, dan mudah. Orang suci yang ideal sekarang adalah Siddha atau ahli
mukjizat, walaupun agak mirip dengan Bodhisattwa yang telah melewati tahap
kedelapan dengan kekuatan-kekuatannya yang ajaib dan berkembang sempurna.
Tantra itu mewakili di
antara sekte-sekte Mahayana, panca indera mengenai semangat, secara tradisi
ditegaskan sebagai terdiri dari perawatan dan hasil dari yang bermanfaat, dan
menghapuskan serta gangguan dari yang tidak bermanfaat, keadaan mengenai
pikiran. Dengan keadaan bermanfaat dari Jhana, atau Dhyana, pikiran yang
terutama dimaksudkan. Maka dari itu kepentingan yang didominasi Tantra bukanlah
teori tetapi praktek.
Tantra, walaupun
secara jelas menggabungkan doktrin dari sekte-sekte yang lebih dahulu, berbeda
secara radikal dari mereka semuanya di dalam mengenai bukan dengan perluasan
teori yang lebih lanjut dari doktrin-doktrin ini, tapi dengan penerapan metode
menuju pada realisasi realitas dari mana mereka adanya namun simbol konseptual.
Jadi Tantra memiliki sebegitu banyak pada bidang menguasai doktrin sebagaimana
pada bidang menguasai metode. Tradisi-tradisi Buddhist yang ada diterima
sebagaimana adanya, asalkan bukan sebagai suatu titik awal untuk tindakan.
Lebih daripada setiap sekte lainnya, Tantra mewakili segi latihan mengenai
Buddhism, dan karena alasan ini, jadi Dr. Herbest V. Guenter sangat menekankan, ‘Itulah di dalam
Tantra bahwa Buddhism menemukan kemekaran dan peremajaan lagi yang konstan’.
Tetapi walaupun Tantra
berarti tindakan, dan karenanya untuk kekuatan di dalam semua modenya, itu
tidak berarti tindakan secara umum, yang akan lebih baik dimiliki hanya
aktivitas, tapi terutama untuk ritual atau perbuatan sakral. Di dalam prinsip
ringan yang fundamental ini, dasar ‘kebenaran bagi eksistensi’ lebih dari
penekanan Tantra dengan ciri-cirinya secara jelas diperlihatkan. Pentingnya aspek dan tradisi yang permulaan di mana memberikan dasar
teori yang paling dekat mengenai kesakramenan Tantra; dikarenakan, sebagaiman
Conze mengamati secara dekat; ‘jikalau Tantra mengharapkan keselamatan dari
perbuatan suci, itu haruslah mempunyai suatu konsepsi mengenai Alam Semesta
yang menurut perbuatan seperti itu dapatlah pada pengangkatan pembebasan’.
Jikalau realitas
transendental menunjukkan Aksobhya, misalnya, sungguh-sungguh ada, itu haruslah
memungkinkan untuk menempatkan Dia pada suatu tempat yang penting di dalam
setiap bentuk mengenai kehidupan fenomena dan aktivitas. Bukanlah itu, walaupun
dikatakan Bulan itu dipantulkan sebuah kolam air, tidak dipantulkan dalam
keseluruhan kolam itu, tapi hanya dalam satu bagian penting darinya. Untuk
mengetahui bahwa Akshobhya dipantulkan dalam dunia fenomena tidaklah cukup.
Dunia itu terdiri dari lima skandha. Salah satu dari mereka itu haruslah
pentulan aksobhya. Karena pengertian harfiah dari Aksobhya adalah ‘Yang Tenang
Sekali’. Tantra mengenali Aksobhya dengar Vijnanaskandha atau kumpulan dari
kesadaran. Pada prinsip ini Tantra membangun sistem dalam Buddha, Bodhisattva
dan Dewa yang tidak terhitung semua mewakili baik aspek yang berbeda mengenai
Realitas atau tingkatan yang berbeda mengenai Jalan Transendental, dihubungkan
tidak hanya dengan suatu kumpulan (skandha) dari milik mereka, tapi juga dengan
suatu kumpulan yang penting ‘mantra, mudra, unsur (elemen), arah, hewan, warna,
indera-perasaan, bagian dari tubuh dan sebagainya.
Tantra adalah lebih
sulit untuk memberikan suatu penjelasan daripada sekte lainnya dalam Buddhisme.
Alasannya ialah kedua-duanya mengenai ajaran bagi internal dan eksternal. Untuk
memulai dengan Tantra ialah bukan dengan penyamarataan teori tapi dengan
latihan yang teratur dan mendalam, karena mengenai suatu tingkat yang lebih
tinggi bukanlah eksoterik melainkan esoterik, yang selama berabad-abad dijaga
secara bersama-sama dengan cara tradisi lisan dan dengan hati-hati melindungi
dari keinginan-keinginan yang kotor. Pada jaman sekarang, Tantrayana lebih dikenal
berasal dari Tibet.
Sehingga orang awam
berpendapat bahwa Tantrayana adalah agama Buddha Tibet,dan bersumber dari
kepercayaan dan "rekayasa/ciptaan" bangsa Tibet.
Hal ini tidaklah
mengherankan, karena hanya di Tibet, Bhutan, Nepal, Ladakh, India dan
Mongolialah Tantra tetap eksis dan bertahan sampai sekarang, terutama sekali di
Tibet.
2.
Aliran Mantrayana
Bahwa Mahayana lambat
laun menuju ke arah jalan kelepasan yang lain daripada yang ditawarkan oleh
Buddha semula. Maka dengan jelas orang mulai merumuskan berbagai jalan
kelepasan, seperti yang diperkembangkan juga oleh agama Hindu.Pada mulanya perkembangan
Mantrayana ini merupakan reaksi alami terhadap tren sejarah yang makin tidak
sesuai dan mengancam kepunahan agama Buddha India. Untuk mempertahankan dan
melindungi diri, penganut-penganutnya semakin banyak menggunakan kekuatan mukjizat
dan meminta pertolongan dari makhluk-makhluk luhur, yang keberadaan sebenarnya
telah dibuktikan oleh mereka sendiri melalui pelaksanaan meditasi trans.
Di antara ini, perhatian besar ditunjukkan kepada
makhluk luhur berpenampilan menyeramkan, seperti “Pelindung Dharma”, yang
disebut juga vidyaraja, “raja adat dan pengetahuan yang suci” yang
bermaksud baik tetapi menampilkan wajah yang megerikan untuk melindungi orang
yang percaya. Menarik juga untuk dicatat bahwa utuk mendapatkan perlindungan,
umat Buddha pada masa itu mengandalkan makhluk-makhluk luhur feminin. Sekitar
tahun 400 M, Tara dan Prajnaparamita dipuja sebagai Bodhisattwa Kosmis.
Di dalam abad ketujuh
timbul lagi suatu jalan yang ketiga yang disebut Mantrayana atau jalan dengan
kalimat-kalimat yang mempunyai daya gaib (mantra). Nama-nama lainnya yang
dipakai ialah Tantrisme, karena pandangan-pandangan mengenai jalan ini
dicantumkan dalam Tantra-tantra; dan Vajrayana atau jalan intan, perjalanan
intan, ialah yang keras dan tak terbinasakan, yaitu kenyataan yang tertinggi. Menurut namanya,
maka aliran ini mencari alat gaib teristimewa di dalam mantra, kalimat yang
berkekuatan gaib. Tetapi selanjutnya, gambaran-gambaran (mandala) dan
perbuatan-perbuatan upacara keagamaan, di mana sikap tangan (mudra) sangat
penting memainkan peranan juga. Juga pertarakan dan yoga di sini mendapat
tempat pula, seperti pendapat yang kita jumpai di dalam zaman yang jauh lebih
tua lagi di dalam agama Buddha, bahwa manusia yang mebuat kemajuan-kemajuan di
jalan yang menuju kepada pengertian yang mendalam, mendapat kekuatan-kekuatan
yang istimewa pula.
Shadaka, ialah orang
yang menjalankan perbuatan-perbuatan magis, atau sebenarnya orang yang berusaha
ke arah tujuannya, menghubungkan dirinya sendiri dengan alat-alat magis
(mantra, mudra) ke dalam keseluruhan tenaga-tenaga kosmis dan mengekang serta
menguasainya. Hal ini berarti bahwa dalam setiap usaha untuk membentuk suatu Mandala
haruslah memiliki suatu nilai praktis yang mempengaruhi prilaku perseorangan
(carya). Mantrayana ini juga memiliki sikap yang tegar menentang segala bentuk
khayalan dan menumbuhkan bodhi sebagai lawan dari nirodha. Kesemua hal ini,
dilaksanakan untuk mencapai langkah terakhir yakni guru yoga sebagai sarana
kekuatan untuk mengatasi diri seseorang.
Dalam pengertian yang
dalam dapat dikatakan, bahwa guru yoga adalah kenyataan itu sendiri yang dapat
kita saksikan dan berada dimana-mana. Namun tanpa bimbingan seorang guru
(manusia) yang telah mempraktekkan yoga dan mampu membimbing siswanya dalam
menempuh halangan-halangan yang sulit.
Istilah Mantrayana kelihatannya telah
menerima aslinya pada keperluan khusus bahwa cabang Mahayana yang menganjurkan
pembacaan ulang mengenai mantra sebagai usaha prinsip mengenai paramita.
Menurut Shashi Bhusan Dasgupta: ‘Mantrayana adalah sekte dari Mahayana’,
kelihatannya adalah tingkat perkenalan mengenai Buddhisme Tantra dari semua
cabang mengenai Vajrayana, Kalacakrayana, Sahajayana, dan seterusnya yang
timbul dikemudian hari.
Meskipun demikian,
sebagai keadaan hal yang sebenarnya dengan cabang-cabang Tantra Cina dan
Jepang, istilah Mantrayana berlanjut di dalam penggunaan sebagai suatu petunjuk
kolektif tidak hanya untuk memperkenalkan tapi juga untuk tingkat lebih lanjut
dari gerakan Tantra, dan seperti itu dari satu waktu dipakai sampai dengan
sekarang.
3. Aliran Vajrayana
Berasal dari kosa kata
Sanskrit "Vajra" yang berarti berlian dalam aspek kekuatannya,
atau halilintar dalam aspek kedahsyatan dan kecepatannya. Serta dari kata
"yana" yang berarti wahana/kereta. Menurut Wang Shifu,
Vajrayana merupakan Jalan Intan. Kata "Tantra" sendiri berarti
"Tenun" dalam bahasa Sansekerta, merujuk kepada prakteknya yang
bertahap namun pasti.
Vajrayana adalah suatu
ajaran Buddha
yang di Indonesia
lebih sering dikenal dengan nama Tantra atau Tantrayana. Namun banyak juga
istilah lain yang digunakan, seperti misalnya: mantrayana, ajaran mantra
rahasia, ajaran Buddha eksoterik. Vajrayana adalah merupakan ajaran yang
berkembang dari ajaran Buddha Mahayana, dan berbeda dalam hal praktek, bukan dalam hal
filosofi. Dalam ajaran Vajrayana, latihan meditasi sering dibarengi dengan
visualisasi.
Adapun tujuan akhir
daripada Vajrayana, ialah mencapai kesempurnaan dalam pencerahan dengan tubuh
fisik kita saat ini, di kehidupan ini juga, tanpa harus menunggu hingga
kalpa-kalpa yang tak terhitung. Oleh karena tujuan akhir inilah, di dalam
Vajrayana ditemui metode-metode esoterik yang dengan cepat bisa membawa kita
kesana. Ajaran Vajrayana secara umum di berbagai negara lebih dikenal sebagai ajaran
agama Buddha Tibet, yang merupakan
bagian dari Mahayana
dan diajarkan langsung oleh Buddha Sakyamuni yang amat cocok untuk di
praktikkan oleh umat perumah tangga, umat yang hidup sendiri (tidak menikah),
ataupun umat yang memutuskan untuk hidup sebagai bhiksu di vihara Vajrayana.
Menurut catatan,
banyak sekali praktisi tinggi Vajrayana yang memiliki kemampuan (siddhi) yang
luar biasa, misalnya: menghidupkan kembali ikan yang telah dimakan (Tilopa),
terbang di angkasa (Milarepa), membalikkan arus sungai gangga (Biwarpa),
menahan matahari selama beberapa hari (Virupa), mencapai tubuh pelangi (tubuh
hilang tanpa bekas, hanya meninggalkan kuku dan rambut sebagai bukti), berlari
melebihi kecepatan kuda, merubah batu jadi emas atau air jadi anggur,
memindahkan kesadaran seseorang ke alam suci Sukavati (yang dikenal dengan
istilah phowa), dapat meramalkan secara tepat waktu serta tempat kematian &
kalahirannya kembali (H.H. Karmapa), lidah dan jantung yang tidak terbakar
ketika di kremasi, terdapat banyaknya relik dari sisa kremasi, dll. Di dalam
Vajrayana, semua hasil yang diperoleh dari latihan itu, haruslah disimpan
serapi mungkin, bukan untuk di ceritakan pada orang lain. Sebagai pengecualian,
boleh mendiskusikan hal tersebut dengan Guru, jika memang ada hal yang kurang
mengerti.
Dalam ajaran
Vajrayana, sekte menjadi penting karena merupakan sebuah identitas. Ini adalah
sekilas informasi tentang sekte-sekte besar yang mempunyai tradisi ciri khasnya
masing-masing :
a.
Sekte Gelugpa: pendirinya adalah
Tsongkhapa (1357-1419) lebih menekankan kepada disiplin intelektual, karenanya
para Bhiksu dari Gelug amatlah pandai dalam pembahasan Metafisika, filsafat,
dll. Pusaka ajaran yang terkenal dari tradisi ini adalah Krama Marga alias Lam
Rim (Jalan dan Tahap). Tradisi ini didirikan oleh Je Tsongkhapa, dengan Kadampa
sebagai pendahulu Gelug, yang mana Kadampa ini didirikan oleh seorang Maha Guru
India, yaitu Atisha Dipamkara.
b.
Sekte Skayapa: Kunchong Gyalpo
(1034-1102) terkenal dengan naskah-naskah autentiknya, pusaka ajaran dari
tradisi ini adalah Lam Dray (Jalan dan Hasil). Tradisi ini berawal dari Sakya
Shri Bhadra dari India, yang merupakan pemegang tahta terakhir dari Institut
Buddhist Nalanda yang mengungsi ke Tibet pada saat invasi dari Moch.Bhaktiar
Khalji, juga oleh beberapa Lotsava agung yg disebutkan oleh Vince Delusion sebelumnya.
c.
Sekte Kagyudpa: (Dagpo Kagyud)
didirikan oleh Gampopa (1079-1133). terkenal sebagai tradisi Meditatif, lebih
menekankan kepada metode-metode Yoga-nya. Pusaka ajaran dari tradisi ini adalah
Maha Mudra, yang meliputi Enam Yoga Naropa (tib.Naro Cho Drug ;
skt.Saddharmopadesa), serta metode-metode esoterik lain yang menyertainya dari
awal sampai akhir, juga pendidikan Shedras selama 12 tahun yang diikuti dengan
retreat Maha Mudra di dalam ruang tertutup selama 3 tahun 3 bulan 3 hari
merupakan ke-khas-an tersendiri dalam tradisi Kagyu.
d.
Sekte Nyingmapa: Dikenal sebagai
tradisi non-Monastic. Terkenal dengan pusaka Terma nya,serta ajaran-ajaran
esoterik langka di masa lampau. Ciri khas utama ajaran dari tradisi ini adalah
Dzogchen (Maha Sandhi). Tradisi ini berawal dari Vajra Guru Padmasambhava (Lian
Hua Sheng Da Shi) lebih kurang 700 M.
Dalam Vajrayana, terdapat banyak sekali metoda dalam
berlatih. Memang banyak sekali praktisi Vajrayana yang memiliki kemampuan luar
biasa, namun hal ini bukanlah sesuatu yang mistik. Hal ini sebenarnya merupakan
hasil samping dari latihan yang dilakukan, dan hal ini harus diabaikan. Seperti
kata sang Buddha, yang dapat menyelamatkan kita pada saat kematian adalah Dhar1ma, bukanlah kesaktian
yang kita miliki. Sering kemampuan yang didapat ini menjadi penghalang dalam
mencapai tujuan utama kita, yaitu mencapai pencerahan. Hasil samping berupa
kemampuan (siddhi) ini sering akan meningkatkan kesombongan (ke-aku-an) kita,
yang sebenarnya justru harus kita hilangkan, dan bukan merupakan sesuatu yang
harus dibanggakan. Namun sayang sekali, banyak orang yang berpandangan salah,
mereka mengagungkan kemampuan gaib yang dimiliki oleh seseorang, dan
mengabaikan Dharma yang mulia. Hal ini dapat terjadi karena adanya kebodohan /
ketidak tahuan (Moha) yang dimiliki.
Praktek Vajrayana tidak terlepas dari penyapaan mantra,
maka sering juga dikenal dengan istilah ajaran mantra rahasia. Ajaran Vajrayana
sering juga disebut dengan Praktek Rahasia, atau Kendaraan Rahasia. Hal ini
menggambarkan bahwa ketika seorang praktisi semakin merahasiakan latihannya,
maka ia akan semakin mendapatkan kemajuan pencapaian dan berkah dari latihan
yang ia lakukan. Semakin ia menceritakan tentang latihannya, maka semakin
sedikit berkah yang akan ia peroleh.
Sang Buddha sering berpesan kepada murid-muridNya, bahwa
mereka tidak boleh memperlihatkan kemampuan (siddhi) mereka, tanpa suatu tujuan
yang mulia. Demikian pula, Para praktisi tinggi Wajrayana tidak pernah
menunjukkan kemampuan mereka hanya demi ego, demi ketenaran, demi kebanggaan,
ataupun demi materi. Para praktisi tinggi ini biasanya menunjukkan kemampuan
pada murid-murid dekat, ataupun pada orang tertentu yang memiliki hubungan
karma dengannya, demi Dharma yang mulia, misalnya untuk menghapus selubung kebodohan,
ketidak tahuan, kekotoran batin, ataupun karena kurangnya devosi dalam diri
murid tersebut.
Mazhab Tantrayana yang berkembang di Tibet sekarang ini
pada umumnya adalah Vajrayana, mengenai Vajrayana di Tibet, Guru Rinpoche Padma
Sambhava memberikan instruksi yang mencakup enam cara untuk mencapai pembebasan
melalui proses pemakaian yang melibatkan Panca Skandha. Ke enam cara tersebut.
1.
Pembebasan melalui proses
pemakaian
2.
Pembebasan melalui proses
pendengaran
3.
Pembebasan melalui proses ingatan
4.
Pembebasan melalui proses
penglihatan
5.
Pembebasan melalui proses
Pengecapan
6.
Pembebasan melalui proses
sentuhan.
Panca Skandha adalah suatu konsep dalam agama Buddha yang
menyatakan bahwa manusia adalah merupakan kombinasi dari kekuatan atau energi
fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak dan berubah, yang disebut
lima kelompok kegemaran, terdiri atas:
1.
Rupaskandha/Rupakkhanda (kegemaran
kepada bentuk)
2.
Vedanaskandha/Vedanakkandha
(kegemaran kepada perasaan)
3.
Samjnaskhandha/Sannakkhandha (kegemaran kepada
pencerapan)
4.
Samskaraskhandha/Sankharakkhandha(kegemaran
kepada bentuk-bentuk pikiran)
5.
Vijnanaskhandha/Vinnanakkhandha
(kegemaran kepada kesadaran).
Vajrayana memandang alam
kosmos (alam semesta) dalam kaitan ajaran untuk mencapai pembebasan. Apabila di
Mahayana terdapat konsepsi Trikaya (tiga tubuh Buddha), maka didalam Vajrayana,
Buddha bermanifestasi dan berada dimana-mana. Oleh karenanya, Buddha adalah
wadah atau badan kosmik yang memiliki enam elemen, yakni : tanah, air, api,
angin, angkasa dan kesadaran.
Dalam rangkaian yang
tersusun sebagai sistim, Vajrayana selain memiliki pandangan filosofis di atas,
juga memiliki puja bakti ritual maupun sistim meditasi khusus yang disebut
Sadhana yaitu meditasi dengan cara memvisualisasikan dengan mata batin, menyatukan
mudra, dharani (mantra) dan mandala.
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Dari uraian pembahasan diatas,
mengenai tiga aliran besar dalam agama Buddha, sesungguhnya tidak perlu di
jadikan sebagai suatu hal yang membingungkan bagi setiap umat Buddha. Pada
dasarnya ajaran dari ketiga aliran yang telah disebutkan dalam pembahasan diatas,
memiliki satu kesamaan dalam hal pencapaian akhir, yaitu pembebasan dari
Penderitaan, Meskipun pada prakteknya memiliki banyak perbedaan.
Hal-hal yang menyebabkan perbedan
dari praktek dhamma dari setiap aliran tersebut tentu menjadi sangat jelas jika kita melihat
kembali sejarah kehidupan Buddha pada masa misionaris pertama. Guru Buddha
memerintah 60 arahat untuk menyebarkan dhamma, dan tidak ada satu Arahat pun
yang berjalan bersama. Sehingga perbedaan cara mengajar dari 60 arahat tersebut
menjadi salah satu tolak ukur mengapa banyak perbedaan dari segi praktek dhamma
dalam Agama Buddha.
Jalur praktek inilah yang sebenarnya
perlu ditekankan untuk mendalami, memahami dan mengerti secara benar ajaran
Buddha. Mereka yang telah menempuh jalur praktek yang benar dan merealisasi
kebenaran dhamma, tidak akan terjebak oleh konsep luar dari ajaran Buddha.
Sehingga mereka yang menjalani kehidupan dengan berpegang pada ajaran Buddha
akan mencapai kebahagiaan dan cita-cita yang mulia.
Referensi
Suwarto,T. Buddha
Dharma Mahayana. 1995. Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.
G.P,
Malasekera. Encyclopedia Of Buddhism. 2003.Colombo: Buddhist
Publications society.
http//MahayanaBuddist.org
. 2008 diakses pada tanggal 11 mei 2008
Suwarto. T. Buddha
Dharma Mahayana. Majelis Buddha Mahayana Indonesia.
Jakarta: 1995
Honig, J.R. Ilmu Agama.
BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1997
Conze, Edward. Sejarah
Singkat Agama Buddha. Oneworld Publication.Cet.12010
Good
BalasHapus