Selasa, 07 Januari 2014

Patisandhi



RANGKUMAN PATISANDHI (PUNABBHAVA)

Pengertian Patisandhi  (PUNABBHAVA)
Patisandhi adalah proses kelahiran kembali kesadaran seseorang setelah kematian. Patisadhi (punabbahava) memiliki pengertian yang berbeda dengan reinkarnasi (perpindahan roh) dari satu jasmani ke jasmani yang lain tanpa mengalami perubahan (kekal). Agama Buddha mengajarkan bahwa  Vinnana (kesadaran) memiliki sifat yang selalu berubah (anicca) sehingga kesadaran yang terlahir kembali tidak memiliki sifat yang kekal. Agama Buddha memiliki perspektif yang berbeda dengan ajaran agama lain, agama Buddha menyatakan bahwa kesadaran yang terlahir kembali selalu di pengaruhi oleh karma baik atau buruk dari akibat perbuatan yang lampau. Dengan melihat hukum sebab akibat (paticca samuppada) yang menyatakan bahwa segala sesuatu terbentuk bergantung pada peristiwa yang mendahuluinya, maka sangat jelas bahwa kesadaran yang bertumimbal lahir akan mengalami perubahan dari pada kesadaran yang sebelumnya. Seseorang yang meninggal dunia, kesadaranya mendekati kepadaman dan di dorong olek kekuatan-kekuatan karma. Padamnya kesadaran langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi vinnana) untuk terlahir pada salah satu dari 31 alam kehidupan sesuai dengan karmanya. Hal ini secara umum disebut sebagai suatu permulaan dari kehidupan yang baru.
Prinsip yang menggerakkan hidup
Didalam paticcasamuppada di jelaskan bahwa keinginan yang muncul akan menimbulkan  kemelekatan yang mendorong kesadaran seseorang pada penjelmaan, sehingga mengakibatkan seseorang terlahir di 31 alam kehidupan. Guru Buddha bersabda “tanha” atau “keinginanlah” yang merupakan prinsip yang menggerakan arus kehidupan ini. Arus kehidupan ini akan terus bergerak selama “tanha” belum di lenyapkan.
Ketika salah satu dari keenam indera kita mengalami kontak dengan objek yang menyenangkan, maka timbullah keinginan kepadanya, kita mulai terikat dan berdaya upaya untuk mencapainya. Oleh karena itu muncullah keadaan pikiran yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, yang di akibatkan oleh perasaan ingin memuaskan keenam indera. Demikianlah arus kehidupan terus berputar dan kesadaran terus mengalir.
Tidak ada suatu “diri” atau atman. Pribadi kita terbentuk dari batin kita yang terus mengalami proses perubahan. Segala yang terbentuk di pengaruhi oleh keadaan batin kita, ketika kita telah mampu mengarahkan batin dan pikiran kita pada pencapaian tingkatan tertinggi (Nibbana), maka proses terbentuknya nama rupa telah berakhir.

Apa yang kita lupakan tidak hilang atau lenyap sama sekali.
Sekalipun cepat atau lambat kita akan melupakan segala sesuatu yang kita sadari, pengalaman-pengalaman itu tetap tinggal di dalam batin kita. Batin kita seperti gudang besar yang dapat menampung segala bentuk pikiran, pengalaman dan kesan-kesan yang pernah kita alami, sampai kapanpun kondisi itu tidak akan pernah hilang dan lenyap dari batin kita. Sejak kita dilahirkan sampai pada kematian datang menjemput, kondisi-kondisi itu disimpan dan disusun pada tempatnya masing-masing. Pada waktunya kondisi-kondisi itu akan muncul dengan sindirinya dan ketika kita menghendaki untuk memunculkan kondisi-kondisi tersebut.
Dengan demikian terdapat dua factor yang membentuk batin kita.
1.      Yang merasakan, menyadari dan berbuat pada saat sekarang
2.      Timbuanan besar dari semua bentuk-bentuk pikiran dan kesan-kesan yang dilupakan.

Bawah sadar kita sangat giat bekerja
Bergson, seorang ahli jiwa mengatakan: “segala sesuatu yang kita rasakan, kita cari dan ingini sejak masa kecil kita, sekarangpun tetap ada; mendesak kemasa sekarang dan bergabung dengan pikiran-pikiran masa sekarang, mendorong pintu gerbang kesadaran, yang hendak mengurungnya di bawah sadar”
Sang Buddha juga mengajarkan hal yang sama, yaitu bahwa kepribadian sekarang adalah hasil dari segala yang kita rasakan,pikirkan dan lakukan di masa lalu. Apa yang telah terjadi di masa lampau tidaklah pergi dan hilang begitu saja, melainkan tetap hidup di masa sekarang. Perbuatan-perbuatan kita yang lampau selalu mengikuti kita dengan pasti, seperti roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya atau seperti bayangan yang selalu mengikuti tubuhnya.
Seseorang yang telah banyak berlatih meditasi,dimana kesadaranya telah terlatih untuk tenang dan memusat,akan mempunyai daya ingatan yang jauh lebih baik daripada seseorang yang kesadaranya masih lemah dan tidak dapat tenang.makin tenang dan kuat kesadaran kita, makin besar pula kekuasaanya atas bawah sadar kita.seperti sang Buddha yang telah melatih kesadarannya dengan sempurna,sehingga beliau dapat mengingat kembali dari bawah sadarnya hal-hal yang telah dialami dalam kehidupan lampaunya.segala sesuatu yang tersimpan di bawah sadar kita dan dapat kita ingat-ingat kembali setelah dilatih secukupnya.
 Proses Berpikir
Menurut abhidhamma,dalam keadaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran ,yang berlangsung dengan cepat.adapun proses berpikir dalam keadaan biasa tersebut adalah:
1.bhavanga atita (kesadaran tak aktif lampau)
2.bhavanga calana (bhavanga bergetar)
3.bhavanga upaccheda (bhavanga berhenti bergetar)
4.pancadvaravajjana (lima gerbang tempat masuk objek)
5.panca vinnana (lima kesadaran)
6.sampaticchana (kesadaran penerima)
7.santirana (kesadaran pemeriksa)
8.votahapana (kesadaran memutuskan)
9-15 javana (kesadaran impuls)
16-17 tandalambana (kesadaran merekam)
Tahap pertama:
Bhavanga citta adalah kesadaran yang pasif.kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam .kesadaran ini dipandang sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses berpikir itu belum dimulai.
Tahap kedua:
Bhavanga calana adalah kesadaran yang bergetar, karena misal ada objek dari luar atau stimulasi oleh suara cahaya(bentuk)atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang tidur,pada tahap ini bhavanga atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta mulai aktif.
Tahap keenam belas dan ketujuh belas:
Tadalambana adalah dua saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Tadalambana berfungsi mencatat atau merekam kesan yang di buat di buat oleh javana.
Suatu hal yang perlu sekali diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses berfikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali.

Proses kematian
Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dengan mudah dapat mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.
Pengaruh kelahiran pada jasmani
Manusia terdiri dari jasmani dan batin (nama dan rupa). Hubungan antara keduanya bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan antara dua factor ini. Bilamana orang berada pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah, hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arusnya terputus sehingga tidak ada kekuatan lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap, jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk. Jasmani akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen-elemen ini tak akan lenyap, tetapi hanya bentuk elemen ini yang akan berubah.

Pengaruh kematian pada batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal? Batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat, sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap bahwa batin ini tetap kekal. Kematian tidak menghentikan proses batin.
Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum kematian yang di sebut maranasanna javanna citta walaupun lemah dan tidak dapat membuah buah pikiran baru, namun memiliki potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga obyek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang akan segera meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak. Munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru umncul. Pemunculan dari salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi dari perbuatan-perbuatan (kamma) orang tersebut selama hidupnya. Kamma yang bekerja pada saat seperti ini disebut janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatan kita sendiri.

Proses kematian
Menurut pandangan Buddhis kematian terjadi karena 4 hal, yaitu:
1.      Kamakhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma. Jika potensi dari janaka kamma atau kamma yang mengatur tentang kelahiran telah babis, maka aktifitas organism jasmani yang memiliki daya hidup (javitindriya) mati walaupun batas usia kehidupan di alam itu belum habis. Hasil ini biasanya terjadi pada mahluk-mahluk yang lahir di alam apaya: neraka, binatang, asura dan peta; tetapi hal ini juga terjadi di alam-alam lain.

2.      Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan. Hal ini terjadi sesuai dengan usia mahluk di masing-masing alam


3.      Ubhayakkhaya habisnya janaka kamma dan ayu (masa kehidupan) secara bersama-sama.

4.      Upaccahedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan ayu belum selesai orang tersebut meninggal dengan cepat.

Kamakhaya, Ubhayakkhaya, Ayukkhaya disebut meninggal pada waktunya, sedangkan Upaccahedaka kamma disebut meninggal bukan pada waktunya
Untuk memperjelas keempat hal di atas tentang kematian, misalkan mahluk itu adalah lampu minyak. Lampu bisa padam karenaempat hal yaitu; jika minyak habis, sumbu mati, minyak dan sumbu mati atau karena ada angin kencang. Ini adalah proses kematian yang secara umum.
Proses kematian secara khusus yang berlangsung pada batin seseorang  hampir mirip dengan Prose berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang di bicarakan dalam proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut:
1.      Bhavanga atita. Keadaan kesadaran ini tidak berbeda dengan pada keadaan proses berpikir biasa.

2.      Bhavanga calana


3.      Bhavabga upaccheda. Ketentuan kedua bhavanga ini perti diatas. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4.      Manodvaravajjana-kesadaran mengarah pada pintu indriya pikiran. Pada waktu membicarakan tentang berpikir normal, dibicarakan tentang pancavaravajjana; yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui dari salah satu atau lima indriya melalui pintu dari salah satu indriya-indriya itu, yaitu melihat, mendengar, membau, merasa dan sentuhan. Tetapi dalam kasus proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dari dalam pikiran atau ingatan yang dapat dikenal melalui pikiran.

5.      Marana javana citta-impuls javana mendekati kematian. Marana javana citta merupakan tahap psikologis yang penting. Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah:

a.       Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting ang pernah dilakukan seseorangsebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian terjadi secara tiba-tiba.

b.      Kamma Nimita
Bayangan-bayangan karma masa lalu yang muncul pada saat seseorang akan meninggal dunia. misalnya seorang tukang jagal, maka ketika akan meninggal ia melihat bayangan-bayangan  pisau, pemabuk melihat botol dan orang yang rajin sembahyang melihat altar.
6.      Tadalambana
Setelah tahap kesadaran implus dari marana javana citta, muncul tahapan tadalambana.

7.      Cuti-citta kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang.

8.      Patisandhi vinnana-kesadaran kelahiran yang terjadi pada kehidupan berikut.
Pada saat cuti-citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya patisandhi vinnana atau patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan yang baru.


Proses kelahiran kembali

Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali berfungsi, karena proses kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kematian kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut:
1.   Patisandhi Vinnana
2.   Bhavanga Citta
3.   Manodvaravajjana
4.   Javana
5.   Bhavanga Citta
Kehidupan manusia dan mahluk lain hanya tergantung pada jasmani dan batin. Secara teknis batin dibicarakan sebagai kesadaran yang berubah-ubah. Meskipun dalam penjelasan diatas diuraikan beberapa jenis kesadaran, tetapi pada intinya kesadaran hanyalah satu pada setiap saat. Perubahan nama kesadaran dikarenakan kesadaran itu sendiri selalu berubah.

1 komentar: