BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di
dalam studi pendidikan sangat baik sekali jika kita dapat melaksanakan
pendidikan itu dengan baik, tetapi di sisi lain sebagai warga Negara Indonesia
kita juga perlu mengetahui sejarah bagaimana perkembangan pendidikan pada
masa-masa awal muncul dan berkembangnya pendidikan di Indonesia. Pada masa awal
kerajaan hindu dan Buddha muncul di tanah air pendidikan sudah berjalan, namun
pada masa itu pendidikan lebih ditujukan pada ideologi tertentu seperti agama.Pendidikan pada masa
awal munculnya kerajaan di Indonesia sangat berbeda sekali dengan pada masa
sekarang ini, dengan kemajuan teknologi dan sarana pendidikan yang sangat
mendukung pendidikan pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat
sekali, dimana pada era modern ini
pendidikan sudah dapat dilakukan dengan berbagai metode, baik dengan
menggunakan sarana sederhana maupun dengan teknologi-teknologi yang sangat
mendukung dalam menunjang proses pendidikan. Di dalam pembahasan makalah ini
saya akan mengulas lebih jelas bagaimana sejarah pendidikan pada masa awal
kerajaan-kerajaan di Indonesia maupun
pada jaman kemerdekaan hingga saat ini.
Semoga
makalah ini dapat membantu para pembaca untuk
menambah pengetahuan mengenai
sejarah pendidikan dan proses pendidikan pada masa hindu-buddha, masa kolonial
maupun masa kemerdekaan hingga sekarang ini.
a.
Rumusan
masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka muncul rumusan-rumusan mengenai masalah dalam
pembahasan makalah ini, yaitu bagaimana perkembangan dan proses berjalannya
pendidikan pada masa hindu-buddha di Indonesia hingga pada masa sekarang ini?
b.
Tujuan
·
Memberikan pengetahuan sejarah
pendidikan di Indonesia
·
Memberikan pengetahuan mengenai sejarah
pendidikan pada masa Hindu Buddha
·
Memberikan pengetahuan mengenai sejarah
pendidikan pada masa colonial hingga sekarang
c.
Manfaat
·
Membantu menggali pengetahuan mengenai
sejarah pendidikan di Indonesia, sehingga para pembaca dapat menghargai dan
menghormati perjuangan para pelopor pendidikan yang menjadikan pendidikan pada
masa sekarang ini lebih maju, berkualitas dan dapat memberikan manfaat yang
baik untuk bangsa dan negara Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan
Pendidikan pada Zaman Hindu dan
Budha
Menurut teori Van Leur, yang oleh banyak ahli dapat
diterima, ditegaskan bahwa pada abad-abad permulaan terjadilah hubungan
perdagangan antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Indonesia.
Faktor-faktor yang memungkinkan berkembangnya Peradaban Hindu Budha diantaranya
sebagai berikut :
1. Faktor Politik
Terjadi peperangan antara kerajaan India bagian Utara dengan
kerajaan India bagian Selatan. Bangsa Aria dari Utara mendesak kerajaan dan
penduduk Selatan, sehingga penduduk di Selatan lari mencari tempat-tempat baru,
dan ada sampai ke Indonesia. Oleh karena itu peradaban yang masuk ke Indonesia
Nusantara dipengaruhi oleh bangsa India dari bagian Selatan.
2. Faktor Ekonomis atau Geografis
Indonesia terletak antara India dan dataran Tiongkok, dimana
pada waktu itu telah terjadi perdagangan antar India dan Tiongkok melalui jalur
laut. Akibatnya banyak orang India dan Tiongkok bergaul dengan bangsa
Indonesia, dari mulai perdagangan atau perniagaan sampai terjadi koloni yang
berdatangan dari India dan Tiongkok.
3. Faktor Kultural
Tingkat peradaban bangsa India lebih tinggi dibandingkan
dengan penduduk asli di Nusantara. Mereka sudah mengenal sistem pemerintahan
yang teratur dalam bentuk kerajaan, mereka juga telah mengenal tulisan dan
karya sastra yang tinggi. Fakta sejarah membuktikan dengan ditemukannya
prasasti batu bertulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang
menjelaskan tentang adanya kerajaan tertua. Di Kalimantan yaitu di Kutai abad
ke-5 Masehi dan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
Perkembangan
pendidikan pada zaman ini, sudah mulai menampakkan suatu gerakan pendidikan
dengan misi penyebaran ajaran agama dan cara hidup yang lebih universal
(keseluruhan) dibandingkan dengan pendidikan sebelumnya. Pendidikan masa
Hindu-Budha di Indonesia dimulai sejak pengaruh Hindu-Budha datang ke
Indonesia. Perkembangan agama Hindu Budha di Indonesia membawa perubahan besar
bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebenarnya masyarakat indonesia telah
memiliki kemampuan dasar yang patut dibanggakan sebelum masuknya Hindu dan
Budha. Setelah Hindu dan Budha berkembang di Indonesia kemampuan masyarakat
Indonesia makin berkembang karena berakulturasi dan berinteraksi dengan tradisi
Hindu dan Budha.
Di
daerah Kalimantan (Kutai) dan Jawa Barat (Tarumanegara) ditemukan prasasti
adanya kebudayaan dan peradaban Hindu tertua pada abad ke-5. Para cendekiawan,
ulama-biarawan, musafir dan peziarah Budha dalam perjalanannya ke India,
singgah di Indonesia untuk mengadakan studi pendahuluan dan persiapan lainnya. Negara India merupakan tanah suci dan
merupakan sumber inspirasi spiritual, ilmu pengetahuan dan kesenian bagi
pemeluk agama Budha. Agama Hindu di India terbagi dua golongan besar yaitu
Brahmanisme dan Syiwaisme. Hinduisme yang datang ke Indonesia adalah Syiwaisme,
yang pertama kali dibawa oleh seorang Brahmana yang bernama Agastya. Syiwaisme
berpandangan bahwa :
· Syiwa adalah dewa yang paling
berkuasa.
· Syiwa adalah penncipta dan perusak
alam, segala sesuatu bersumber pada Syiwa dan kembali
kepada Syiwa.
· Manusia hidup dalam rangkaian
reinkarnasi dan merupakan suatu samsara (penderitaan), yang ditentukan oleh
perbuatan manusia sebelumnya, jadi berlaku hukum “karma”.
· Tujuan hidup manusia ialah mencapai
“moksa”, suatu keadaan dimana manusia terlepas dari samsara, manusia hidup
dalam keabadian yang menyatu dengan Syiwa.
Agama Budha merupakan agama yang
disebarkan oleh Sidharta Gautama di India yang kemudian terpecah menjadi dua
aliran yaitu Mahayana dan Hinayana. Yang berkembang di Indonesia ialah bangsa
Hinayana. Agama ini berkembang pada masa kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan
pada zaman Wangsa Syailendra di Pulau Jawa.
Menurut ajaran agama Budha manusia hidup
dalam penderitaan karena nafsu duniawi. Manusia dalam hidup ini berusaha untuk
mengusir penderitaan, mencari kebahagiaan yang abadi yaitu untuk mencapai
nirwana. Adapaun langkah-langkah untuk mencapai nirwana, manusia harus
berperilaku benar diantaranya sebagai berikut :
§ Berpandangan yang benar.
§ Berpikir yang benar.
§ Berkata yang benar
§ Berbuat yang benar.
§ Berkehidupan yang benar.
§ Berdayaupaya yang benar.
§ Melakukan meditasi yang benar.
§ Konsentrasi kepada hak-hak yang
benar.
Meskipun Hinduisme dan Budhisme merupakan agama yang berbeda,
namun di Indonesia tampak terdapat kecenderungan sinkretisme yaitu keyakinan
untuk mempersatukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu sumber dari Ynag Maha
Tinggi. Seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi
satu jua adalah perwujudan dari keyakinan tersebut. dalam hal ini, Budha dan
Syiwa adalah dewa yang dapat diperbedakan (bhinna) tetapi dewa itu (ika) hanya
satu (tungal). Kalimat yang tadi adalah salah satu bait dari syair Sutasoma
karya Empu Tantular pada zaman Majapahit. Sehingga kebudayaan Hindu telah
membaur dengan unsur-unsur Indonesia asli dan memberikan ciri serta coraknya
yang khas, sampai jatuhnya kerajaan Hindu terakhir di Indonesia yaitu Majapahit
akan masih berkembang dalam hal
pendidikan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang sastra, bahasa, ilmu
pemerintahan, tata Negara dan hukum. Kerajaan-kerajaan seperti Kalingga,
Mataram, Kediri, Singasari, dan Majapahit akan melahirkan para Empu, Pujangga
yang menghasilkan karya-karya seni yang bermutu tinggi. Selain karya seni pahat
dan seni bangunan dalam arsitekstur yang bernilai tinggi juga ditemukan
beberapa karya ilmiah dalam bidang filsafat, sastra dan bahasa.
A. Pendidikan
Hindu Budha
Syiwaisme yang berkembang di Indonesia berbeda dengan India
yanga sangat bertentangan dan hidup bermusuhan dengan Budhisme. Di Indonesia
Syiwaisme dan Budhisme hidup dan tumbuh berdampingan, walaupun terjadi
penumpasan Wangsa Syailendra yang beragama Budha oleh Wangsa Sanjaya yang
beragaman Hindu, namun dimasyarakat biasa tidak nampak pertentangan tersebut,
bahkan mungkin dapat dikatakan telah terjadi sinkretisme antara Hinduisme,
Budhisme dan kepercayaan animism dan dinamisme, suatu keyakinan untuk
menyatukan Syiwa, Budha, dan arwah-arwah nenek moyang sebagai suatu sumber dan
amaha tinggi. Pendidikan formal ini diselenggarakan oleh kerajaan-kerajaan
Indonesia pada saat itu.
Pendidikan
pada zaman Hindu masih terbatas kepada golongan minoritas (kasta Brahmana,
Ksatria), belum menjangkau golongan mayoritas kasta Waisya dan Sudra apalagi
kasta Paria. Namun perlu diketahui bahwa penggolongan kata di Indonesia tidak
begitu ketat seperti halnya dengan di India yang menjadi asalnya agama Hindu.
Pendidikan zaman ini lebih tepat dikatakan sebagai “perguruan”dimana para murid
berguru kepada para cerdik cendekia. Kemudian lembaga pendidikan dikenal dengan
nama pesantren, jadi berbeda sekali dengan sekolah yang kita kenal sekarang
ini.
Sistem
perguruan yang dikenal dengan pesantren itu berkembang terus sampai pada
pengaruh Budha, zaman Islam sampai sekarang (pesantren tradisional). Pada zaman
Budha pendidikan berkembang pada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang
sudah terdapat perguruan tinggi Budha. Dimana para murid-muridnya banyak
berasal dari Indocina, Jepang dan Tiongkok. Guru yang terkenal pada saat itu
ialah Dharmapala. Perguruan-perguruan Budha tersebut mungkin menyebar keseluruh
kekuasaan Sriwijaya. Mungkin saja candi-candi Borobudur, Menndut, dana Kalasan
merupakan pusat pendidikan agama Budha.
Kalau kita memperjhatikan peninggalan-peninggalan
sejarah seperti candi-candi, patung-patung maka sudah pasti para santri atau
murid belajar tentang ilmu membangun dan seni pahat. Karena pembuatan candi
memerlukan kemampuan teknik dan seni yang tinggi. Dmeikian juga dengan memahat
relief-relief candi dibimbing oleh suatu alur cerita yang menceritakan
kehidupan sang Budha atau para dewa, bisa juga cerita tentang Ramayana. Karya
hasil sastra yang ditulis para pujangga banyak yang bermutu tinggi antara lain
: Pararaton, Negara Kertagama, arjuna Wiwaha, dan Brata Yudha. Para pujangga
yang terkenal diantaranya sebagai berikut : Mpu Kawa, Mpu Sedah, Mpu Panuluh,
Mpu Prapanca.
Dalam
perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu sperti Singasari, Majapahit dan kerajaan
Budha Sriwijaya, tidak terdapat uraian yang jelas mengenai pendidikan. Namun
sudah apsti bahwa pada zaman tersebut sudah berkembang pendidikan dengan
lembaga-lembaga yang dengan sengaja dibuat secara formal. Lembaga-lembaga
pendidikan tersebut berbentuk perguruan yang lebih dikenal dnegan sebutan
pesantren. Pada saat itu mutu pendidikan cukup memuaskan berbagai pihak yang
bersangkutan.
a. Tujuan
Pendidikan
Tujuan
pendidikan identik dengan tujuan hidup yaitu manusia hidup untuk mencapai moksa bagi agama Hindu, dan manusia
mencapai nirwana bagi agama Budha.
Karena itu secara umum tujuan akhir adalah mencapai moksa atau nirwana. Secara
khusus mungkin dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Bagi
kaum Brahmana (kasta tertinggi), pendidikan bertujuan untuk menguasai
kitab suci ( Weda untuk Hindu dan Tripitaka untuk Budha) sebagai sumber
kebenaran dan pengetahuan yang universal.
2. Bagi golongan Ksatria sebagai raja
yang berkuasa, pendidikan bertujuan untuk memiliki pengetahuan teoritis yang
berkaitan tentang pengaturan pemerintahan (kerajaan).
3. Bagi rakyat biasa, pendidikan
bertujuan agar warga masyarakat memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk
hidup, sesuai dengan pekerjaan yang secara turun temurun. Misalnya keterampilan
bercocok tanam, pelayaran, perdagangan, seni pahat dan sebagainya.
b. Sifat
Pendidikan
Beberapa
sifat dan ciri pendidikan yang menonjol pada waktu itu adalah :
1. Informal, karena pendidikan masih
bersatu dengan proses kehidupan.
2. Berpusat pada religi, karena
kehidupan atas dasar kepercayaan dan keagamaan menguasai segala-galanya.
3. Penghormatan yang tinggi terhadap
guru, karena gurunya adalah kaum Brahmana ( kasta tertinggi dalam masyarakat
Hindu) dan tidak memperoleh imbalan gaji. Mereka menjadi guru semata-mata
karena kewajiban sebagai Pandita atau Brahmana yang didasarkan pada perasaan
tulus, mengabdi tanpa pamrih ( tanpa memikirkan imbalan dunia ).
4.
Aristokratis artinya pendidikan
hanya diikuti oleh segolongan masyarakat saja yaitu golongan Brahmana, pendeta
dan golongan Ksatria dan golongan keturunan raja-raja. Dalam agama kita kenal
penggolongan berdasarkan kasta, namun di Indonesia perbedaan tidak begitu tajam
dan menonjol. Yang menonjol adalah antara golongan raja-raja dan rakyat jelata.
c.
Jenis-jenis Pendidikan
Beberapa
jenis pendidikan pada zaman Hindu Budha dapat dibedakan menjadi beberapa
golongan diantaranya sebagai berikut :
1. Pendidikan Intelektual
Kegiatan
pendidikan ini dikhususkan untuk menguasai kitab-kitab suci. Veda dipelajari
oleh kaum Brahmana, dan kitab Tripitaka dipelajari oleh penganut Budha. Pada
waktu itu hanya golongan Brahmanalah yang berhak mempelajari kitab suci Veda.
Pendidikan intelektual juga berkaitan dengan penguasaan doa dan mantera, yang
berkaitan dengan penguasaan alam semesta, pengabdian kepada Syiwa dan Budha
Gautama.
2. Pendidikan Kesatriaan
Kegiatan
pendidikan ini dilakukan untuk mendidik kaum bangsawan keluarga istana
kerajaan, untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan
mengatur pemerintahan (kerajaan), mengatur Negara, dan belajar untuk berperang.
3. Pendidikan Keterampilan
Pendidikan keterampilan dan pendidikan kesatriaan merupakan
pendidikan kegiatan yang deprogram secara tertib(dalam arti pendidikan bagi
kaum Brahmana dan bangsawan (keluarga raja)) sudah berjalan dengan teratur.
Sedangkan pendidikan keterampilan yang diajukan bagi masyarakat jelata
berlangsung secara informal yang berlangsung dalam keluarga sesuai dengan
keterampilan yang dimiliki orang tuanya. Seorang pemahat akan diwariskan
keterampilannya kepada anak-anaknya begitu pula dengan para petani, nelayan dan
sebagainya.
d. Lembaga
Pendidikan
Pendidikan pada waktu itu masih bersifat informal, belum ada
pendidikan formal dalam bentuk sekolah seperti yang kita kenal sekarang ini.
Namun dengan demikian ada beberapa tempat yang biasa dijadikan sebagai lembaga
pendidikan.
1. Padepokan atau Pecatrikan
Merupakan
tempat berkumpulnya para catrik, yaitu murid-murid yang belajar kepada guru
disuatu tempat, sehingga disebut pecatrikan dan dengan nama lain biasa juga
disebut padepokan. Dari kata-kata catrik dan pecatrikan itulah muncul kata
santri dan pesantren. Jadi lembaga pesantren sudah dikenal keberadaannya sejak
zaman Hindu Budha. Dipesantren dan atau padepokan itulah berkumpul para murid,
khususnya keturunan Brahmana utnuk mempelajari segala macam pengetahuan yang
bersumber dari kitab suci ( Veda dan Upanishad bagi Hindu serta Tripitaka bagi
Budha). Dicandi Borobudur terlihat suatu lukisan yang menggambarkan suatu
proses pendidikan seperti yang berlaku sekarang ini. Ditengah-tengah pendopo
besar seorang Brahmana atau pendeta duduk dilingkari oleh murid-muridnya,
semuanya membawa buku, dan mereka belajar membaca dan menulis. Guru tidak
menerima gaji namun dijamin oleh murid-muridnya untuk hidup. Yang menjadi dasar
pendidikan adalah agama Budha dan Hindu, seperti dapat kita lihat relief-relief
yang tertulis dicandi Borobudur ( Budha) dan candi Prambanan (Hindu).
2. Pura
Merupakan
tempat yang berada di istana. Tempat ini diperuntukkan bagi putra-putri raja
belajar. Mereka diberi pelajaran yang berkaitan dengan hidup sopan santun
sebagai keturunan raja yang berbeda dengan masyarakat biasa. Mereka belajar
tentang mengatur Negara, ilmu bela diri baik secara fisik maupun secara batiniah.
3. Pertapaan
Karena
orang yang bertapa dianggap telah memiliki pengetahuan kebatinan yang sangat
tinggi. Oleh karenaitu para pertapa menjadi tempat bertanya tentang segala hal
terutama berkaitan dengan hal-hal yang gaib.
4. Keluarga
Pada
waktu itu pendidikan keluarga juga ada sampai sekarang juga tapi hanya
pendidikan sebagai informal. Dalam keluargalah akan terjadi partisipasi dalam
menyelesaikan pekerjaan orang tua yang dilakukan anak-anak dan anggota keluarga
lainnya.
e.
Ilmu Pengetahuan dan Karya Sastra
Pada masa kejayaan kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia ini
telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan karya seni yang sangat tinggi.
Seperti telah dikemukakan pada kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan
Budha yang terbesar di Indonesia, pada saat iru telah berdiri lembaga
pendidikan setaraf “perguruan tinggi”. Perguruan tinggi tersebut dapat
menampung berates-ratus mahasiswa biarawan Budha dan adapat belajar dengan
tenang, mereka tinggal di asrama-asrama khusus.
Sistem
dan metode sesuai yang ada di India, sehingga biarawan Cina dapat belajar di
sriwijaya sebelum melanjutkan belajar di India. Di Sriwijaya terkenal mahaguru
yang berasal dari India yaitu Dharmapala dan mengajarkan agama Budha Mahayana.
Dipulau Jawa pada waktu Mataram diperintah oleh seorang ratu terdapat sekolah
agama Budha yang dipimpin oleh orang Jawa yaitu Janadabra.
Pada
sekitar abad ke-14 sampai kira-kira abad ke-16 menjelang jatuhnya kerajaan
Hindu di Indonesia, kegiatan pendidikan tidak lagi dilakukan secara meluas
seperti sebelumnya tetapi dilakukan oleh para guru kepada siswanya yang
jumlahnya terbatas dalam suatu padepokan. Pendidikan pada zaman tersebut, mulai
dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi pada umumnya dikendalikan
oleh para pemuka agama. Namun demikian pendidikan dan pengajaran tidak
dilaksanakan secara formal, sehingga seorang siswa yang belum puas akan ilmu
yang diperolehnya dapat mencari dan pindah dari guru yang satu ke guru yang
lainnya. Kelompok bangsawan, ksatria dan kelompok elit lainnya mengirimkan
anak-anaknya kepada guru untuk dididik atau guru diundang untuk datang mengajar
anak-anak mereka.
B.
Pendidikan pada masa Kolonial
A.
Pendidikan pada masa penjajahan Belanda
Pendidikan selama penjajahan Belanda
dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC
(Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda
(Nederlands Indie). pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan)
dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud
dan kepentingan komersial.
1.
Zaman
VOC (Kompeni)
Orang belanda datang ke indonesia bukan untuk
menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motifasi oleh hasrat untuk
mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi laut yang
berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil
rempah-rempah dari indonesia. Namun pedagang itu merasa perlunya memiliki
tempat yang permanen di daratan dari pada berdagang dari kapal yang berlabuh di
laut. Kantor dagang itu kemudian mereka perkuat dan persenjatai dan menjadi
benteng yang akhirnya menjadi landasan untuk menguasai daerah di sekitarnya.
Lambat laun kantor dagang itu beralih dari pusat komersial menjadi basis
politik dan teritorial. Setelah peperangan kolonial yang banyak akhirnya
indonesia jatuh seluruhnya di bawah pemerintahan belanda. Namun penguasaan
daerah jajahan ini baru selesai pada permulaan abad ke 20.
Metode kolonialisasi belanda sangat
sederhana. Mereka mempertahankan raja-raja yang berkuasa dan menjalankan
pemerintahan melalui raja-raja itu akan tetapi menuntut monopoli hak berdagang
dan eksploitasi sumber-sumber alam. Adat istiadat dan kebudayaan asli dibiarkan
tanpa perubahan aristokrasi tradisional digunakan oleh belanda untuk memerintah
negri ini dengan cara efisien dan murah. Oleh sebab belanda tidak mencampuri
kehidupan orang Indonesia secara langsung, maka sangat sedikit yang mereka
perbuat untuk pendidikan bangsa. Kecuali usaha menyebarkan agama mereka di
beberapa pulau di bagian timur Indonesia. Kegian pendidikan pertama yang
dilakukan VOC.
Pada permulaan abad ke 16 hampir se
abad sebelum kedatangan belanda, pedagang portugis menetap di bagian timur
Indonesia tempat rempah-rempah itu di hasilkan. Biasanya mereka didampingi oleh
misionaris yang memasukkan penduduk kedalam agama katolik yang paling berhasil
diantara mereka adalah Ordo Jesuit di bawah pimpinan Feranciscus Xaverius.
Xaverius memandang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran agama.
Seminari dibuka di ternate, kemudian di solor dan pendidikan agama yang lebih
tinggi dapat diperoleh di Goa, India, pusat kekuasaan portugis saat itu. Bahasa
portugis hamper sama populernya dengan bahasa melayu, kedudukan yang tak
kunjung di capai oleh bahasa Belanda dalam waktu 350 tahun penjajahan kekuasaan
portugis melemah akibat peperangan denngan raja-raja Indonesia dan akhirnya
dilenyapkan oleh belanda pada tahun 1605.
2.
Zaman
Pemerintahan Belanda Setelah VOC
Setelah VOC dibubarkan, para
Gubernur/ komisaris jendral harus memulai system pendidikan dari dasarnya,
karena pendidikan zaman VOC berakhir dengan kegagalan total. Pemerintahan baru
yang diresapi oleh ide-ide liberal aliran aufklarung atau Enlightenment menaruh
kepercayaan akan pendidikan sebagai alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan
social. Pada tahun 1808 Deandels seorang Gubernur Belanda mendapat perintah
Raja Lodewijk untuk meringankan nasib rakyat jelata dan orang-orang pribumi
poetra,serta melenyapkan perdagangan budak. Usaha Deandels tersebut tidak
berhasil, bahkan menambah penderitaan rakyat, karena ia mengadakan dan
mewajibkan kerja paksa (rodi).
Didalam lapangan pendidikan Deandels
memerintahkan kepada Bupati-bupati di Pulau Jawa agar mendirikan sekolah atas usaha
biaya sendiri untuk mendidik anak-anak mematuhi adat dan kebiasaan sendiri.
Kemudian Deandels mendirikan sekolah Bidan di Jakarta dan sekolah ronggeng di
Cirebon. Kemudian Pada masa (interregnum inggris) pemerintahan Inggris
(1811-1816) tidak membawa perubahan dalam masalah pendidikan walaupun Sir
Stamford Raffles seorang ahli negara yang cemerlang. Ia lebih memperhatikan perkembanagan
ilmu pengetahuan, sedangkan pengajaran rakyat dibiarkan sama sekali. Ia menulis
buku History of Java.
Setelah ambruknya VOC tahun 1816
pemerintah Belanda menggantikan kedudukan VOC. Statua Hindia Belanda tahun 1801
dengan terang-terangan menyatakan bahwa tanah jajahan harus memberikan
keuntungan yang sebesar-besarnya kepada perdagangan dan kepada kekayaan negeri
Belanda. Pada tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar
Gubernur Jendral berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan
bagi negerinya. Walaupuan setiap Gubernur Jendaral pada penobatannya berjanji
dengan hidmat bahwa ia akan memajukan kesejahteraan hindia Belanda dengan
segenap usuha prinsip yang masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa
hindia Belanda sebagai “negeri yang direbut harus terus member keuntungan
kepada negeri belanda sebagai tujuan pendidikan itu. Sekolah pertama bagi
anak Belanda dibuka di Jakarta pada tahun 1817 yang segera diikuti oleh
pembukaan sekolah dikota lain di Jawa. Prinsip yang dijadikan pegangan
tercantum distatuta 1818 bahwa sekolah-sekolah harus dibuka ditiap tempat bila
diperlukan oleh penduduk Belanda dan diizinkan oleh keadaan.
Gubernur Jendral Van der Capellen
(1819-1823) menganjurkan pendidikan rakyat dan pada tahun 1820 kembali
regen-regen diinstruksikan untuk menyediakan sekolah bagi penduduk untk
mengajar anak-anak membaca dan menulis serta mengenal budi peketi yang baik.
Anjuran Gubernur Jendral itu tidak berhasil untuk mengembangkan pendidikan oleh
regen yang aktif.
Tahun 1826 lapangan pendidikan dan
pengajaran terganganggu oleh adanyan usaha-usaha penghematan. Sekolah-sekolah
yang ada hanya bagi anak-anak Indonesia yang memeluk agama Nasrani.
Alsannya adalah karena adanya kesulitan financial yang berat yang dihadapi
orang Belanda sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan
menelan banyak korban seerta peperangan antara Belanda dan Belgia (1830-1839).
Kesulitan keuangan ini menyebabkan
raja belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana
yang dianjurkan Van den Bosch, bekas Gubernur di Guyana, jajahan Belanda di
Amerika selatan, untuk memanfaatkan pekerjaan budak menjadi dasar eksploitasi
colonial. Ia membawa ide penggunaan kerja paksa(rodi) sebagai cara yang ampuh
untuk memperoleh cara usaha maksimal, yang kemudian terkenal dengan cultuur
stelsel atau tanam paksa yang memaksa penduduk untuk menghasilkan tanaman yang
diperlukan dipasaran Eropa.
Van den Bosch mengerti, bahwa untuk
memperbaiki stesel pembangunan ekonomi bagi belanda dibutuhkan tenaga-tenaga
ahli yang banyak. Setelah tahun 1848 dikeluarkan peraturan-peraturan yang
menunjukan perintah lambat laun menerima tanggung jawab yang lebih besar atas
pendidikan anak-anak Indonesia sebagai hasil perdebatan diparlemen Belanda dan
mencerminkan sikap Liberal yang lebih menguntungkan tehadap rakyat Indonesia.
Terbongkarnya penyalahgunaan system tanam paksa merupakan factor dalam perbahan
pandangan. Peraturan pemerintah tahun 1854 mengimtruksikan Gubernur Jendral
untuk mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi.
Peraturan tahun 1863 mewajibkan Gubernur Jendral untuk mengusahakan terciptanya
situasi yang memungkinkan penduduk bumi putera pada umumnya menikmati
pendidikan.
Sistem tanam paksa dihapuskan tehun
1870 dan digantikan dengan undang-undang Agraria 1870. Pada tahun itu di
Indonesia timbul masa baru dengan adanya undang-undang Agraria dari De Waal,
yang member kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertania partikelir. Usaha-usaha
perekonomian makin maju, masyarakat lebih banyak lagi membutuhkan
pegawai. Sekolah-sekolah yang ada dianggap belum cukup memenuhi
kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai makin
dipergiat lagi. Kini tugas departemen adalah memelihara sekolah-sekolah yang
ada dengan lebih baik dan mempergiat usaha-usaha perluasan sekolah-sekolah
baru.
Pada tahun 1893 timbullah diferensiasi pengajaran bumi
putera. Hal ini disebabkan :
1.
Hasil sekolah-sekolah bumi putra kurang memuaskan pemerintah colonial.
Hal ini terutama sekali desebabkan karena isi rencana pelaksanaannya terlalu
padat.
2.
Dikalangan
pemerintah mulai timbul perhatian pada rakyat jelata. Mereka insyaf bahwa yang
harus mendapat pengjaran itu bukan hanya lapisan atas saja.
3.
Adanya
kenyataan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedua kebutuhan dilapangan
pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisa bawah.
Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi
pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang
membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:
a) Sekolah-sekolah kelas I
untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.
b) Sekolah-sekolah kelas II
untuk rakyat jelata.
Perbedaan sekolah kelas I dan kelas II antara lain:
Kelas I
Tujuan: memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan
dan perusahaan.
Lama bersekolah: 5 tahun
Mata pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi,
sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.
Guru-guru: keluaran Kweekschool
Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu
Kelas II
Tujuan: Memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat
umum
Lama bersekolah: 3 tahun
Mata paelajaran: Membaca, menulis dan berhitung.
Guru-guru: persyaratannya longgar
Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu
Pada tahun 1914 sekolah kelas I
diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa
Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah vervolg
(sekolah sambungan) dan merupakan sekolah lanjutan dari sekolah desa yang
mulai didirikan sejak tahun 1907.
b. Politik Etika dan pengajaran
Indonesia yang kaya raya ini di
keruk terus menerus oleh penjajah Belanda. Keuntungan mengalir terus ke negeri
Belanda. Rakyat Indonesia tetap miskin. Keadaan ini sangat menggelisahkan kaum
Importir Belanda yang membawa barang hasil industry dari Eropa ke Indonesia.
Mereka tidak dapat menjual barangnya karena daya beli masyarakat sangat rendah,
sedangkan industri di negeri Belanda sedang pesat. Mereka menginginkan agar
Indonesia yang banyak penduduknya itu menjadi pasar bagi industry Belanda.
Sedangkan para eksportir mendapat laba besar dengan membawa barang mentah dari
Indonesia. Untuk memenuhi kaum importir tidak ada jalan lain yang harus segera
ditempuh selain memperbaiki dan membuat ekonomi rakyat Indonesia yang sudah
rusak.
Selain itu pada tahun 1899 terbit
sebuah artikel oleh Van Devender berjudul “Hutang Kehormatan” dalam majalah De
Gids. Disitu ia mengemukakan bahwa keuntungan yang diperoleh oleh Indonesia
selama ini hendaknya dibayar kembali dari perbendaharaan Negara. Peristiwa itu
dapat dipandang sebagai ekspresi ide yang baru kemudian dikenal dengan politik
etika. Van Devender menganjurkan program ini untuk memajukan kesejahteraan
rakyat dengan memperbaiki irigasi agar memprodusi pertanian, menganjurkan
trasmigrasi dan perbaikan dalam lapangan pendidikan. Ia juga mengembangkan
pengajaran bahasa Belanda secara cultural lebih maju dan dapat menjadi pelopor
bagi bangsanya.
Factor lain yang menyebabkan
berlangsungnya politik etika ini ialah kebangkitan Nasional dengan berdirinya
Budi Utomo pada tahun 1908, serikat islam partai politik pertama di Indonesia
yang didasarkan atas organisai Barat didirikan tahun 1919, adanya volksraad
tahun 1918 yang merupakan saluran bagi orang Indonesia untuk menyatakan
pendapatnya. Sejak dilaksanakannya politik etika tampak sekali kemajuan dalam
pendidikan dengan diperbanyaknya sekolah rendah, sekolah yang berorientasi
Barat untuk orang Cina dan Indonesia didirikan .Demikian juga pendidikan
dikembangkan secara vertical dengam didirikannya MULO dan AMS yang terbuka bagi
anak Indonesia untuk melanjutkan ke tingkat universitas.
Dalam rangka memperbaiki pengajaran
rendah bagi kaum bumi putra, maka pada tahun 1907 diambil dua tindakan penting
yaitu:
1. Memberi corak dan sifat
kebelandaan-belandaan pada sekolah kelas I, misalnya:
a) Bahasa Belanda dijadikan mata pelajaran sejak
kelas 3
b) Di kelas 6 bahasa Belanda dijadikan bahasa
pengantar
c) Lama belajar menjadi 7 tahun
d) Tahun 1914 dijadikan KIS dan menjadi bagian
pengajaran rendah barat
e) Murid-muridnya anak-anak bangsawan dan
terkemuka
2. Mendirikan Sekolah Desa
Maksud pemerintah untuk memperhatikan kepentingan rakyat
Indonesia tidak tercapai, karena sekolah-sekolah bumi putra kelas II merupakan
lembaga yang mahal dan memerlukan anggaran yang besar. Maka atas perintah
Gubernur Jendral Van Heutsz tahun 1907 didirikan sekolah-sekolah desa.
Bangunannya didirikan oleh desa dan guru-gurunya juga diangkat oleh desa pula,
jadi bukan pegawai negeri.
Jadi susunan pengajaran bagi anak-anak Indonesia untuk
sekolah rendah ada tiga, yaitu:
a) Sekolah Desa, bagi anak-anak biasa
b) Sekolah kelas II, yang kemudian diubah
menjadi sekolah Vervolg
c) Sekolah kelas I, yang sejak tahun 1914
dijadikan HIS bagi anak-anak bangsawan
dan aristocrat
c. Sistem persekolahan pada zaman pemerintahan
Hindia Belanda
Secara umum sistem pendidikan
khususnya system persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut
keturunan atau lapisan (kelas) social yang ada dan menurut golongan kebangsaan
yang berlaku waktu itu.
Pendidikan Rendah (Lager
Onderwijs)
Pada hakikatnya pendidikan dasar
untuk tingkatan sekolah dasar mempergunakan system pokok yaitu:
Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
Ø Sekolah rendah Eropa, yaitu ELS (Europese
Lagere school), yaitu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan Eropa atau
anak-anak turunan Timur asing atau Bumi putra dari tokoh-tokoh terkemuka.
Lamanya sekolah tujuh tahun 1818.
Ø Sekolah Cina Belanda, yaitu HCS
(Hollands Chinese school), suatu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan tmur
asing, khususnya keturunan Cina. Pertama didirikan pada tahun 1908 lama sekolah
tujuh tahun.
Ø Sekolah Bumi putra Belanda HIS
(Hollands inlandse school), yaitu sekolah rendah untuk golongan penduduk Indonesia
asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak golongan bangsawan, tokoh-tokoh
terkemuka atau pegawai negeri. Lamanya sekolah tujuh tahun dan pertama
didirikan pada tahun 1914.
Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah:
Ø Sekolah Bumi Putra kelas II (Tweede
klasee). Sekolah ini disediakan untuk golonagan bumi putra. Lamaya sekolah
tujuh tahun, pertama didirikan tahun 1892.
Ø Sekolah Desa (Volksschool).
Disediakan bagi anak-anak golongan bumi putra. Lamanya sekolah tiga tahun yang
pertama kali didirikan pada tahun 1907.
Ø Sekolah Lanjutan (Vorvolgschool).
Lamanya dua tahun merupakn kelanjutan dari sekolah desa, juga diperuntukan bagi
anak-anak golongan bumi putra. Pertama kali didirikan pada tahun 1914.
Ø Sekolah Peralihan (Kweekschool) Merupakan
sekolah peralihan dari sekolah desa (tiga tahun) kesekolah dasar dengan
bahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya lima tahun dan diperuntukan
bagi anak-anak golongan bumi putra. Disamping sekolah dasar tersebut diatas
masih terdapat sekolah khusus untuk orang Ambon seperti Ambonsche
Burgerschool yang pada tahun 1922 dijadikan HIS. Untuk anak dari golongan
bangsawan disediakan sekolah dasar khusus yang disebut sekolah Raja (Hoofdensschool).
Sekolah ini mula-mula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872, tetapi
kemudian diintegrasi ke ELS atau HIS.
Pendidikan lanjutan = Pendidikan
Menengah
Ø MULO (Meer Uit gebreid lager
school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa
pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang
pertama didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukan bagi golongan bumi putra dan
timur asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya
sejak tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya
dua tahun.
Ø AMS (Algemene Middelbare School)
adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan
diperuntukan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun
dan yang petama didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan
(afdeling= bagian), Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan
alam ) pada zaman jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan
disebut SMA.
Ø HBS (Hoobere Burger School) atau
sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang
disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh
terkemuka. Bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda dan berorentasi ke Eropa
Barat, khususnyairikan pada belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun.
Didirikan pada tahun 1860
Pendidikan Kejuruan (vokonderwijs )
Sebagai pelaksanaan politik etika pemerintah belanda banyak
mencurahkan perhatian pada pendidikan kejuruan. Jenis sekolah kejuruan yang
ada adalah sebagai berikut:
Ø Sekolah pertukangan (Amachts
leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah dan menerima sekolah lulusan
bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool).
Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. didirikan pada
tahun 1881
Ø Sekolah pertukangan (Ambachtsschool)
adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga
tahun menerima lulusan HIS, HCS atau schakel. Bertujuan untuk mendidik
dan mencetak mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu
dan piñata batu
Ø Sekolah teknik (Technish Onderwijs)
adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3
tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk
menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
Ø Pendidikan Dagang (Handels
Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang
dengan pesat.
Ø Pendidikan pertanian (landbouw
Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian Yang menerima lulusan
sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda. Pada tahun 1911 mulai
didirikan sekolah pertanian (cultuurschool) yang terdiri dari dua jurusan,
pertanian dan kehutanan. Lama belajaranya sekitar 3-4 tahun, dan bertujuan
untuk menghasilkan pengawas-pengawas pertanian dan kehutanan. Pada rtahun 1911
didirikan pula sekolah pertanian menengah atas (Middelbare Landbouwschool) yang
menerima lulusan MULO atau HBS yang lamanya belajar 3 tahun.
Ø Pendidikan kejuruan kewanitaan
(Meisjes Vakonderwijs).
Pendidikan ini merupakan kejuruan
yang termuda. Kemudian sekolah yang sejenis yang didirikn oleh swasta dinamakan
Sekolah Rumah Tangga (Huishoudschool). Lama belajarnya tiga tahun.
Ø Pendidikan keguruan (Kweekschool).
Lembaga keguruan ini adalah lembaga yang tertua dan sudah ada sejak permulaan
abad ke-19. Sekolah guru negeri yang pertama didirikan pada tahun 1852 di
Surakarta. Sebelum itu pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru
yang diberi nama Normal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru
sekolah desa. Pada abad ke-20 terdapat tiga macam pendidikan guru, yaitu:
o
Normalschool,sekolah
guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima
tahun, berbahasa pengantar bahasa dearah.
o
Kweekschool,
sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa belanda.
o
Hollandschool
Indlandschool kweekschool, sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan
bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.
Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)
Karena terdesak oleh tenaga ahli, maka didirikanlah:
Ø Sekolah Tehnik Tinggi (Technische
Hoge School).
Sekolah Tehnik Tinggi ini yang
diberi nama THS didirikan atas usaha yayasan pada tahun 1920 di Bandung. THS
adalah sekolah Tinggi yang pertama di Indonesia, lama belajarnya lima tahun.
Sekolah ini kemudian menjelma menjadi ITB.
Ø Sekolah Hakim Tinggi (Rechskundige
Hoge school).
RHS didirikan pada tahun 1924 di
Jakarta. Lama belajarnya 5 tahun, yang tama AMS dapat diterima di RHS. Tamatan
ini dijadikan jaksa atau hakim pada pengadilan.
Ø Pendidiakn tinggi kedokteran.
Lembaga ini di Indonesia di mulai
dari sekolah dasar lima tahun. Bahasa pengantarnya bahasa melayu . pada tahun
1902 sekolah dokter jawa diubah menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor
Indische Artsen) yang menerima lulusan ELS, dan berbahasa pengantar Belanda.
Lama belajarnya 7 tahun. Kemudian syarat penerimaannya ditingkatkan menjadi
lulusan MULO. Pada tahun 1913 disamping STOVIA di Jakarta didirikan sekolah
tinggi kedokteran (Geneeskundige Hogeschool) Yang lama belajaranya 6 tahun dan
menerima lulusan AMS dan HBS.
B. Pendidikan pada masa penjajahan
Jepang
Didorong
semangat untuk mengembangkan pengaruh dan wilayah sebagai bagian dari rencana
membentuk Asia Timur Raya yang meliputi Manchuria, Daratan China, Kepulauan
Filiphina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo China dan Rusia di bawah
kepemimpinan Jepang, negera ini mulai melakukan ekspansi militer ke berbagai
negara sekitarnya tersebut. Dengan konsep “Hakko Ichiu” (Kemakmuran Bersama
Asia Raya) dan semboyan “Asia untuk Bangsa Asia”, bangsa fasis inipun
menargetkan Indonesia sebagai wilayah potensial yang akan menopang ambisi
besarnya. Dengan konteks sejarah dunia yang menuntut dukungan militer kuat,
Jepang mengelola pendidikan di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan
ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan di masa pndudukan Jepang
sangat dipengaruhi motif untuk mendukung kemenangan militer dalam peperanganPasifik.
Setelah Februari 1942 menyerang
Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa
Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan
beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama
bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:
Ø Dijadikannya
Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa
Belanda;
Ø Adanya
integrasi system pendidikan dengan dihapuskannya system pendidikan berdasarkan
kelas social di era penjajahan Belanda
Sistem
pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai
berikut:
Ø Pendidikan
Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah
Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun
bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
Ø Pendidikan
Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama
studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama
studi 3 tahun.
Ø Pendidikan
Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang
pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
Ø PendidikanTinggi.
Guna memperoleh dukungan tokoh pribumi,
Jepang mengawalinya dengan menawarkan konsep Putera Tenaga Rakyat di bawah
pimpinan Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur pada Maret
1943. Konsep ini dirumuskan setelah kegagalan the Triple Movement yang tidak
menyertakan wakil tokoh pribumi. Tetapi PTR akhirnya mengalami nasib serupa
setahun kemudian. Pasca ini, Jepang tetap merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai
penasehat bidang pendidikan mereka. Upaya Jepang mengambil tenaga pribumi ini
dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem pendidikan mereka di Manchuria dan
China yang menerapkan sistem Nipponize (Jepangisasi). Karena itulah, di
Indonesia mereka mencobakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum
berorientasi lokal. Sekalipun patut dicatat bahwa pada menjelang akhir masa
pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang untuk menerapkan sistem Nipponize
kembali, yakni dengan dikerahkannya Sendenbu (propagator Jepang) untuk
menanamkan ideologi yang diharapkan dapat menghancurkan ideologi Indonesia
Raya.
Jepang juga memandang perlu melatih
guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan
pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain:
Ø Indoktrinasi
ideologi Hakko Ichiu;
Ø Nippon
Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang;
Ø Bahasa,
sejarah dan adat-istiadat Jepang;
Ø Ilmu
bumi dengan perspektif geopolitis; serta
Ø Olaharaga
dan nyanyian Jepang. Sementara untuk pembinaan kesiswaan, Jepang mewajibkan bagi setiap murid sekolah untuk
rutin melakukan beberapa aktivitas berikut ini: (1) Menyanyikan lagi kebangsaan
Jepang, Kimigayo setiap pagi;
Ø Mengibarkan
bendera Jepang, Hinomura dan menghormat Kaisar Jepang, Tenno Heika setiap pagi;
Ø setiap
pagi mereka juga harus melakukan Dai Toa, bersumpah setia kepada cita-cita Asia
Raya;
Ø Setiap
pagi mereka juga diwajibkan melakukan Taiso, senam Jepang;
Ø Melakukan
latihan-latihan fisik dan militer;
Ø Menjadikan
bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam pendidikan. Bahasa Jepang menjadibahasa yang juga wajib diajarkan.
Setelah
menguasai Indonesia, Jepang menginstruksikan ditutupnya sekolah-sekolah
berbahasa Belanda, pelarangan materi tentang Belanda dan bahasa-bahasa Eropa
lainnya. Termasuk yang harus ditutup adalah HCS, sehingga memaksa peranakan
China kembali ke sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi
Hua-Chino Tsung Hui, yang berimplikasi pada adanya proses resinification
(penyadaran dan penegasan identitas sebagai keturunan bangsa China). Kondisi
ini antara lain memaksa para guru untuk mentranslasikan buku-buku berbahasa
asing kedalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan proses pembelajaran.
Selanjutnya sekolah-sekolah yang bertipe akademis diganti dengan
sekolah-sekolah yang bertipe vokasi. Jepang juga melarang pihak swasta
mendirikan sekolah lanjutan dan untuk kepentingan kontrol, maka sekolah swasta
harus mengajukan izin ulang untuk dapat beroperasi kembali. Taman Siswa
misalnya terpaksa harus mengubah Taman Dewasa menjadi Taman Tani, sementara
Taman Guru dan Taman Madya tetap tutup. Kebijakan ini menyebabkan terjadinya
kemunduran yang luar biasa bagi dunia pendidikan dilihat dari aspek kelembagaan
dan operasonalisasi pendidikan lainnya.
Sementara itu terhadap pendidikan
Islam, Jepang mengambil beberapa kebijakan antara lain: (1) Mengubah Kantoor
Voor Islamistische Zaken pada masa Belanda yang dipimpin kaum orientalis
menjadi Sumubi yang dipimpin tokoh Islam sendiri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari. Di
daerah-daerah dibentuk Sumuka;
Ø Pondok
pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang;
Ø Mengizinkan
pembentukan barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar seni kemiliteran
bagi pemuda Islam di bawah pimpinan K.H. Zainal Arifin;
Ø Mengizinkan
berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta di bawah asuhan K.H. Wahid Hasyim,
Kahar Muzakkir dan Bung Hatta;
Ø Diizinkannya
ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang
belakangan menjadi cikal-bakal TNI di zaman kemerdekaan; dan
Ø Diizinkannya
Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun kemudian dibubarkan
dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan
dua ormas besar Islam, Muhammadiyah dan NU. Lepas dari tujuan semula Jepang
memfasilitasi berbagai aktivitas kaum muslimin ketika itu, nyatanya hal ini
membantu perkembangan Islam dan keadaan umatnya setelah tercapainya kemerdekaan.
C. Pendidikan pada jaman
kemerdekaan hingga sekarang
Berbicara tentang
sejarah pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari nama-nama tokoh terkemuka
dalam dunia pendidikan di negeri ini, yaitu R.A Kartini penulis buku “Habis
Gelap Terbitlah Terang” dan Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan
Indonesia dan nama-nama tokoh yang lain.
Menurut Dictionary of Education
menyebutkan pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan
sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku di dalam masyarakat dimana ia hidup.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna
pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan
potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani dengan nilai-nilai yang
ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Sejak diplokramilkannya kemardekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, dimana
dalam UUD 1945 Bab II pasal 3 dicantumkan dengan tegas dinyatakan “Tujuan
Pendidikan dan Pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan
bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”, jadi
kurikulum harus bisa mengapliklasikan rencana pendidikan dan pengejaran awal
kemardekaan adalah:
• Meningkatkan kecerdasan kesadaran hidup bernegara dan bermasyarakat
• Meningkatkan pendidikan jasmani
• Meningkatkan pendidikan watak
• Memberikan perhatian pada kesenian
• Menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kurikulum terus berubah sesuai
dengan tuntunan perubahan kebutuhan masyarakat mqsa sekarang dan masa yang akan
datang.
Sistem pendidikan pun harus disesuaikan dan disempurnakan jika setelah berjalan
sudah tidak bisa lagi memenuhi tuntunan, baik dari segi content (isi), Strategi
Pembelajaran, media/alat bantu pembelajaran dan cara penilaiannya. Prinsip”Live
Long education”, dapat diterapkan dan pemerintah telah mengundang dan
menerapkan wajib belajar 9 tahun setiap warga Negara. Setiap warga Negara
berhak untuk mendapat pendidikan yang layak sesuai dengan kemampuannya.
Sistem
Pendidikan pada masa Kemerdekaan
Pada
masa kemerdekaan, tujuan pendidikan adalah untuk mendidik warga Indonesia
menjadi masyarakat yang sejati. Bersedia menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk
masyarakat.
Periode 1945-1950
v Pendidikan
Rendah (SR) selama enam tahun
v Pendidikan
Menengah Umum terdiri atas Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah
Atas (SMA), masing-masing tiga tahun.
v Pendidikan
Kejuruan, Kejuruan tingkat pertama terdiri atas ; Sekolah Menengah Ekonomi
Pertama (SMEP), Sekolah Teknologi (ST), Sekolah Teknologi Pertama (STP),
Sekolah Keguruan Pertama (SKP), Sekolah Guru B (SGB), Sekolah Guru Darurat
untuk kewajiban belajar (KPKPKB),
v Kejuruan
tingkat menengah terdiri atas ; Sekolah Tehknik Menengah (STM), Sekolah
Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Menengah Kejuruan Atas (SMKA), Sekolah
Guru A (SGA), Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK), Sekolah Guru Kepandaian
Puteri (SGKP), Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPD).
v Perguruan
Tinggi terdiri atas ; Universitas, Konservasi/karawitan, Kursus B-1 dan ASRI.
Periode 1950-1975
v Pendidikan
Pra-Sekolah dan pendidikan dasar yaitu; Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah (SD)
v Pendidikan
Menengah Umum terdiri atas: Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah
Atas (SMA).
v Sekolah
Menengah Kejuruan terdiri atas; SMEP, SKP, ST, SGB, KPKPKB dan tingkat menengah
terdiri; SMEA, SGA, SMKA, SGKP, SPMA, SPM, STM dan SPK.
v Perguruan
Tinggi terdiri atas; Universitas, Institut Teknologi, Institut Pertanian,
Institut Keguruan, Sekolah Tinggi dan Akademik.
Periode 1978-sekarang
v Pendidikan
pra-Sekolah; Taman kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
v Sekolah
Dasar
v Sekolah
Menengah Umum (SMU), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas
(SMA).
v Sekolah
Kejuruan tingkat pertama; ST, SKKP, tingkat atas; SMK
v Pendidikan
tinggi; Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi, Diploma dan Politeknik.
Daftar Pustaka
Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah
Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 29
Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung:
Prosfect, 2007), hlm. 36
Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung:
Prosfect, 2007), hlm. 37
Prof. Dr. S. Nasution, Sejarah Pendidikan Nasional, (Jakarta:
Bumi Aksara, 1995), hlm. 20
Djojonegoro,
Wardiman. (1996). Lima Puluh Tahun
Perkembangan Pendidikan Indonesia.
Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudyaan.
Djumhur,
dkk. (1976). Sejarah Pendidikan.
Bandung : CV Ilmu Bandung.
Raisyidin,
Waini, dkk. (2007). Landasan Pendidikan.
Bandung.
Daftar
pustaka
H. Ihsan Fuad, Dasar-dasar Pendidikan, Jakarta: Rineka
Cipta 2008