RANGKUMAN
PATISANDHI (PUNABBHAVA)
Pengertian
Patisandhi (PUNABBHAVA)
Patisandhi
adalah proses kelahiran kembali kesadaran seseorang setelah kematian. Patisadhi
(punabbahava) memiliki pengertian yang berbeda dengan reinkarnasi (perpindahan
roh) dari satu jasmani ke jasmani yang lain tanpa mengalami perubahan (kekal).
Agama Buddha mengajarkan bahwa Vinnana
(kesadaran) memiliki sifat yang selalu berubah (anicca) sehingga kesadaran yang
terlahir kembali tidak memiliki sifat yang kekal. Agama Buddha memiliki
perspektif yang berbeda dengan ajaran agama lain, agama Buddha menyatakan bahwa
kesadaran yang terlahir kembali selalu di pengaruhi oleh karma baik atau buruk
dari akibat perbuatan yang lampau. Dengan melihat hukum sebab akibat (paticca
samuppada) yang menyatakan bahwa segala sesuatu terbentuk bergantung pada
peristiwa yang mendahuluinya, maka sangat jelas bahwa kesadaran yang
bertumimbal lahir akan mengalami perubahan dari pada kesadaran yang sebelumnya.
Seseorang yang meninggal dunia, kesadaranya mendekati kepadaman dan di dorong
olek kekuatan-kekuatan karma. Padamnya kesadaran langsung menimbulkan kesadaran
penerusan (patisandhi vinnana) untuk terlahir pada salah satu dari 31 alam
kehidupan sesuai dengan karmanya. Hal ini secara umum disebut sebagai suatu
permulaan dari kehidupan yang baru.
Prinsip
yang menggerakkan hidup
Didalam
paticcasamuppada di jelaskan bahwa keinginan yang muncul akan menimbulkan kemelekatan yang mendorong kesadaran
seseorang pada penjelmaan, sehingga mengakibatkan seseorang terlahir di 31 alam
kehidupan. Guru Buddha bersabda “tanha” atau “keinginanlah” yang merupakan
prinsip yang menggerakan arus kehidupan ini. Arus kehidupan ini akan terus
bergerak selama “tanha” belum di lenyapkan.
Ketika
salah satu dari keenam indera kita mengalami kontak dengan objek yang
menyenangkan, maka timbullah keinginan kepadanya, kita mulai terikat dan
berdaya upaya untuk mencapainya. Oleh karena itu muncullah keadaan pikiran yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan, yang di akibatkan oleh perasaan ingin
memuaskan keenam indera. Demikianlah arus kehidupan terus berputar dan
kesadaran terus mengalir.
Tidak
ada suatu “diri” atau atman. Pribadi kita terbentuk dari batin kita yang terus
mengalami proses perubahan. Segala yang terbentuk di pengaruhi oleh keadaan
batin kita, ketika kita telah mampu mengarahkan batin dan pikiran kita pada
pencapaian tingkatan tertinggi (Nibbana), maka proses terbentuknya nama rupa
telah berakhir.
Apa
yang kita lupakan tidak hilang atau lenyap sama sekali.
Sekalipun
cepat atau lambat kita akan melupakan segala sesuatu yang kita sadari,
pengalaman-pengalaman itu tetap tinggal di dalam batin kita. Batin kita seperti
gudang besar yang dapat menampung segala bentuk pikiran, pengalaman dan
kesan-kesan yang pernah kita alami, sampai kapanpun kondisi itu tidak akan
pernah hilang dan lenyap dari batin kita. Sejak kita dilahirkan sampai pada
kematian datang menjemput, kondisi-kondisi itu disimpan dan disusun pada
tempatnya masing-masing. Pada waktunya kondisi-kondisi itu akan muncul dengan
sindirinya dan ketika kita menghendaki untuk memunculkan kondisi-kondisi
tersebut.
Dengan
demikian terdapat dua factor yang membentuk batin kita.
1.
Yang merasakan, menyadari dan berbuat
pada saat sekarang
2.
Timbuanan besar dari semua bentuk-bentuk
pikiran dan kesan-kesan yang dilupakan.
Bawah
sadar kita sangat giat bekerja
Bergson,
seorang ahli jiwa mengatakan: “segala
sesuatu yang kita rasakan, kita cari dan ingini sejak masa kecil kita,
sekarangpun tetap ada; mendesak kemasa sekarang dan bergabung dengan
pikiran-pikiran masa sekarang, mendorong pintu gerbang kesadaran, yang hendak
mengurungnya di bawah sadar”
Sang
Buddha juga mengajarkan hal yang sama, yaitu bahwa kepribadian sekarang adalah
hasil dari segala yang kita rasakan,pikirkan dan lakukan di masa lalu. Apa yang
telah terjadi di masa lampau tidaklah pergi dan hilang begitu saja, melainkan
tetap hidup di masa sekarang. Perbuatan-perbuatan kita yang lampau selalu
mengikuti kita dengan pasti, seperti roda pedati mengikuti langkah kaki lembu
yang menariknya atau seperti bayangan yang selalu mengikuti tubuhnya.
Seseorang yang telah
banyak berlatih meditasi,dimana kesadaranya telah terlatih untuk tenang dan
memusat,akan mempunyai daya ingatan yang jauh lebih baik daripada seseorang
yang kesadaranya masih lemah dan tidak dapat tenang.makin tenang dan kuat
kesadaran kita, makin besar pula kekuasaanya atas bawah sadar kita.seperti sang
Buddha yang telah melatih kesadarannya dengan sempurna,sehingga beliau dapat mengingat
kembali dari bawah sadarnya hal-hal yang telah dialami dalam kehidupan
lampaunya.segala sesuatu yang tersimpan di bawah sadar kita dan dapat kita
ingat-ingat kembali setelah dilatih secukupnya.
Proses Berpikir
Menurut
abhidhamma,dalam keadaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran
,yang berlangsung dengan cepat.adapun proses berpikir dalam keadaan biasa
tersebut adalah:
1.bhavanga atita
(kesadaran tak aktif lampau)
2.bhavanga
calana (bhavanga bergetar)
3.bhavanga
upaccheda (bhavanga berhenti bergetar)
4.pancadvaravajjana
(lima gerbang tempat masuk objek)
5.panca vinnana
(lima kesadaran)
6.sampaticchana
(kesadaran penerima)
7.santirana
(kesadaran pemeriksa)
8.votahapana
(kesadaran memutuskan)
9-15 javana
(kesadaran impuls)
16-17 tandalambana
(kesadaran merekam)
Tahap pertama:
Bhavanga citta adalah
kesadaran yang pasif.kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur
nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa-apa
terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam .kesadaran ini dipandang
sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses
berpikir itu belum dimulai.
Tahap kedua:
Bhavanga calana adalah
kesadaran yang bergetar, karena misal ada objek dari luar atau stimulasi oleh
suara cahaya(bentuk)atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang
tidur,pada tahap ini bhavanga atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta
mulai aktif.
Tahap keenam belas dan
ketujuh belas:
Tadalambana adalah dua
saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Tadalambana
berfungsi mencatat atau merekam kesan yang di buat di buat oleh javana.
Suatu hal yang perlu
sekali diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses
berfikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali.
Proses
kematian
Setelah kita
mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dengan mudah dapat
mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan
mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita
akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya
dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.
Pengaruh
kelahiran pada jasmani
Manusia terdiri dari
jasmani dan batin (nama dan rupa). Hubungan antara keduanya bagaikan hubungan
erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau,
sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan antara dua factor ini. Bilamana
orang berada pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah, hal ini terjadi
karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran itu akan selesai tak ada
fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang
arusnya terputus sehingga tidak ada kekuatan lagi. Jika kombinasi jasmani dan
batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap, jasmani akan mulai berproses
menjadi lapuk. Jasmani akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas.
Elemen-elemen ini tak akan lenyap, tetapi hanya bentuk elemen ini yang akan
berubah.
Pengaruh
kematian pada batin
Apakah yang terjadi
pada batin setelah meninggal? Batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap
berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung
terus dengan cepat, sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap bahwa
batin ini tetap kekal. Kematian tidak menghentikan proses batin.
Proses pikiran tidak
berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum kematian yang di
sebut maranasanna javanna citta walaupun
lemah dan tidak dapat membuah buah pikiran baru, namun memiliki potensi besar
untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga obyek pikiran yang masuk
dalam pikiran dari orang akan segera meninggal. Objek pikiran yang muncul ini
tak dapat ditolak. Munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang
menyebabkan sebuah pikiran baru umncul. Pemunculan dari salah satu dari tiga
objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar,
tetapi hal ini terjadi dari perbuatan-perbuatan (kamma) orang tersebut selama
hidupnya. Kamma yang bekerja pada saat seperti ini disebut janaka kamma.
Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatan kita sendiri.
Proses
kematian
Menurut pandangan
Buddhis kematian terjadi karena 4 hal, yaitu:
1.
Kamakhaya atau habisnya kekuatan janaka
kamma. Jika potensi dari janaka kamma atau kamma yang mengatur tentang
kelahiran telah babis, maka aktifitas organism jasmani yang memiliki daya hidup
(javitindriya) mati walaupun batas usia kehidupan di alam itu belum habis.
Hasil ini biasanya terjadi pada mahluk-mahluk yang lahir di alam apaya: neraka,
binatang, asura dan peta; tetapi hal ini juga terjadi di alam-alam lain.
2.
Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan. Hal
ini terjadi sesuai dengan usia mahluk di masing-masing alam
3.
Ubhayakkhaya habisnya janaka kamma dan
ayu (masa kehidupan) secara bersama-sama.
4.
Upaccahedaka kamma atau munculnya kamma
penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan ayu belum
selesai orang tersebut meninggal dengan cepat.
Kamakhaya, Ubhayakkhaya,
Ayukkhaya disebut meninggal pada waktunya,
sedangkan Upaccahedaka kamma disebut meninggal
bukan pada waktunya
Untuk memperjelas
keempat hal di atas tentang kematian, misalkan mahluk itu adalah lampu minyak.
Lampu bisa padam karenaempat hal yaitu; jika minyak habis, sumbu mati, minyak
dan sumbu mati atau karena ada angin kencang. Ini adalah proses kematian yang
secara umum.
Proses kematian secara
khusus yang berlangsung pada batin seseorang
hampir mirip dengan Prose berpikir dalam keadaan biasa atau normal.
Proses batin dan dalam hal ini yang di bicarakan dalam proses pikiran pada
kematian adalah sebagai berikut:
1.
Bhavanga atita. Keadaan kesadaran ini
tidak berbeda dengan pada keadaan proses berpikir biasa.
2.
Bhavanga calana
3.
Bhavabga upaccheda. Ketentuan kedua
bhavanga ini perti diatas. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat
mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah
salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.
4.
Manodvaravajjana-kesadaran mengarah pada
pintu indriya pikiran. Pada waktu membicarakan tentang berpikir normal,
dibicarakan tentang pancavaravajjana; yang terjadi jika rangsangan dapat
dikenal atau diketahui dari salah satu atau lima indriya melalui pintu dari
salah satu indriya-indriya itu, yaitu melihat, mendengar, membau, merasa dan
sentuhan. Tetapi dalam kasus proses berpikir pada kematian rangsangan yang
muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dari dalam pikiran atau ingatan
yang dapat dikenal melalui pikiran.
5.
Marana javana citta-impuls javana
mendekati kematian. Marana javana citta merupakan tahap psikologis yang
penting. Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah:
a. Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik
atau buruk, hebat atau penting ang pernah dilakukan seseorangsebelum meninggal
muncul padanya walaupun kematian terjadi secara tiba-tiba.
b. Kamma
Nimita
Bayangan-bayangan karma masa lalu yang
muncul pada saat seseorang akan meninggal dunia. misalnya seorang tukang jagal,
maka ketika akan meninggal ia melihat bayangan-bayangan pisau, pemabuk melihat botol dan orang yang
rajin sembahyang melihat altar.
6.
Tadalambana
Setelah
tahap kesadaran implus dari marana javana citta, muncul tahapan tadalambana.
7.
Cuti-citta kesadaran kematian
Kesadaran
ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang.
8.
Patisandhi vinnana-kesadaran kelahiran
yang terjadi pada kehidupan berikut.
Pada
saat cuti-citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses
kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus
dengan munculnya patisandhi vinnana atau patisandhi citta pada kelahiran
berikut pada kehidupan yang baru.
Proses
kelahiran kembali
Berdasarkan pada uraian
tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti
atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali berfungsi, karena proses
kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kematian
kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut:
1. Patisandhi
Vinnana
2. Bhavanga
Citta
3. Manodvaravajjana
4. Javana
5. Bhavanga
Citta
Kehidupan
manusia dan mahluk lain hanya tergantung pada jasmani dan batin. Secara teknis
batin dibicarakan sebagai kesadaran yang berubah-ubah. Meskipun dalam
penjelasan diatas diuraikan beberapa jenis kesadaran, tetapi pada intinya
kesadaran hanyalah satu pada setiap saat. Perubahan nama kesadaran dikarenakan
kesadaran itu sendiri selalu berubah.
Upaya merangkum yg baik, lanjut!!
BalasHapus