Selasa, 07 Januari 2014

Pluralitas Agama Buddha



Bab I
Pendahuluan

A.   Latar Belakang Masalah
Semenjak Sang Buddha parinibbana terdapat beberapa usaha untuk menlestarikan ajaran Buddha. Diprakarsai oleh Maha Kassapa terbentuklah Sanghayana I yang berusaha melestarikan ajaran Buddha dengan mengulang kembali ajaran-ajaran Buddha melalui bhikkhu Ananda dan Bhikkhu Upali yang mengulang Dhamma dan Vinaya. Demikian seterusnya guna melestarikan Dhamma dan Vinaya dilakukan Sanghayana-Sanghayana yang lain.
 Pada Sanghayana ke dua terdapat permasalahan dimana bhikkhu-bhikkhu dari suku Vajji mengajukan 10 point peraturan yang berbeda sekali dengan yang telah ada. Menurut cullavagga hal ini teru berlanjut menjadi konflik yang akhirnya menimbulkan munculnya gerakan baru yaitu Mahayana sedangkan  yang konservatif disebut Hinayana. Tetapi menurut Mahavagga setelah terjadinya perdebatan itu masalah selesai dan masing-masing pihak menerimanya. Tidak terjadi sanghayana lain yang dilakukan oleh kelompok kontra konservatif.
Terlepas dari semua histori kemunculan dua aliran besar yaitu hinayana dan Mahayana pada kenyataanya sekarang terdapat dua aliran besar yaitu Theravada dan Mahayana yang diyakini bibitnya berasal dari Hinayana dan Mahayana.
Kedua aliran itu telah berkembang masing-masing dengan segala atributnya masing-masing. Keduanya telah memperkaya kompleksitas Buddhisme. Kedua aliran ini mempunyai persamaan karena berasal atau bersumber pada hal yang sama yaitu Buddha. Keduanya juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar karena prinsip-prinsip diantara keduanya berbeda.
Pada prinsipnya semua ajaran Buddha hanya mengacu pada satu tujuan, yaitu Pembebasan (pelenyepan penderitaan). Dan yang lebih unik dalam ajaran Buddha adalah banyaknya metode yang berbeda-beda untuk merealisasi pembebasan. Hal ini di karenakan kualitas pencerapan yang berbeda-beda dari para siswa Guru Buddha ketika mendengar ajaran langsung dari Buddha. Tetapi perbedaan kualitas pencerapan dari setiap siswa Buddha tidak mengurangi esensi ajaran yang sesungguhnya.
Bagi mereka yang dapat mengerti hal tersebut diatas dan telah banyak membaca sejarah kehidupan Buddha, akan mengerti mengapa banyak perbedaan dan metode yang digunakan dalam Buddha Dhamma untuk mencapai pembebasan. Tetapi bagi mereka yang menutup pandangannya dari ajaran sepihak, baik itu Mahayana maupun Theravada, maka pastilah sulit untuk menerima pandangan-pandangan dari berbagai aliran. Mengacu pada tujuan untuk mewujudkan rasa Pluralitas terhadap berbagai aliran dalam Buddha Dhamma, maka perlu kita mengerti dan mengkaji secara mendalam apa sesungguhnya yang menjadi inti Ajaran Buddha serta pokok-pokok penting yang menjadi landasan praktek untuk mencapai pembebasan akhir, Nibbana.
Perkembangan aliran Vajrayana, yang merupakan salah satu aliran besar dalam agama Buddha, Justru tidak begitu membuat pertentangan banyak orang, khususnya umat Buddha. Aliran Vajrayana merupakan salah satu aliran yang terdapat dalam Mahayana. Sehingga banyak praktek-praktek yang mirip dengan Mahayana dan sebagian mantra yang digunakan Mahayana pun digunakan juga oleh aliran Vajrayana. Tetapi sejauh ini hanya kedua aliran besar Mahayana dan Hinayana yang memiliki kecenderungan selisih paham.
Inti dan landasan praktek ajaran Buddha adalah salah satu pokok yang penting untuk membuka cakrawala seseorang yang menutup dirinya dari pandangan-pandangan orang lain. dengan demikian penulis akan berusaha memberikan pemahaman mengenai pluralitas dalam agama Buddha melalui makalah ini.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Apa persamaan konsep dalam buddhisme antara Hinayana dan Mahayana?
2.    Apa perbedaan konsep dalam buddhisme antara Hinayana dan Mahayana?
3.    Apakah pokok dasar yang menjadi pemersatu pandangan kedua aliran dalam agama Buddha, yaitu Mahayana dan Hinayana?
4.    Bagaimanakah misionaris berkembangnya aliran Vajrayana?
C.  Batasan Masalah
1.    Persamaan konsep dalam buddhisme antara Hinayana dan Mahayana
2.    Perbedaan konsep dalam buddhisme antara Hinayana dan Mahayana
3.    Munculnya aliran Vajrayana

D.  Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tiga aliran besar dalam agama Buddha, mengetahui perbedaan dan persamaan dua aliran besar yaitu, Mahayana dan Theravada, serta memunculkan rasa pluralitas dalam agama Buddha.

E.  Manfaat
Dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap setiap aliran dalam agama Buddha, sehingga dapat menumbuhkan rasa pluralitas tinggi terhadap ajaran Buddha.

















Bab II
Pembahasan

A.   Aliran Mahayana dan Theravada
Dalam perkembanganya, agama Buddha terbagi menjadi dua aliran besar yang terbentuk pada saat sidang Sangha yang kedua. Kedua aliran besar  yang muncul adalah Mahayana dan Hinayana. Munculnya dua aliran besar tersebut tentunya menjadi satu hal yang memberikan pandangan berbeda pada setiap orang mengenai ajaran Buddha. Perbedaan pandangan tersebut hingga saat ini masih terus berkembang dan menyebabkan perpecahan umat Buddha menjadi beberapa golongan.
Mahayana terdiri dari dua kata yakni maha (besar) dan yana (kendaraan), jadi secara etimologis berarti kendaraan besar. Ide maha merujuk pada tujuan religius seorang buddhis yaitu menjadi Bodhisatva Samasamboddhi (Buddha sempurna), sedangkan Hinayana terdiri dari hina (kecil) dan yana sering disebut sebagai  kendaraan kecil karena bertujuan menjadi arahat maupun paccekabuddha yang dianggap lebih rendah (inferior). Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah yang diberikan oleh kaum Mahayana.
Kedua aliran ini jelas mengakui Buddha Sakyamuni sebagai guru mereka, sehingga ajaran-ajaran yang berkembangpun banyak yang sama.Aliran Mahayana berkembang di Negara-negara seperti, China, Korea, Vietnam, jepang dan Indonesia sedangkan Hinayana berkembang di Negara srilanka, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Indonesia. Meskipun Hinayana lebih dikenal sebagai aliran yang ortodoks namun dalam perkembangannya disetiap Negara tetap masih menyesuaikan dengan kebudayaan setempat, hanya Vinaya dan Sila tidak berubah.
Pada saat pengukuhan Persahabatan Umat Buddha  Sedunia tahun 1950, orang yang tau dengan baik, di Timur maupun Barat, menggunakan istilah Theravada, bukan istilah Hinayana, untuk merujuk umat Buddha yang tinggal di Negara Asia Tenggara. Namun  ada orang yang ketinggalan jaman yang masih menggunakan istilah Hinayana. Kenyataannya, Samadhi Nirmocana Sutra (suatu Sutra Mahayana) dengan jelas berkata bahwa Sravakayana-Theravada dan Mahayana mengandung satu Yana (Ekayana) dan bahwa mereka bukanlah dua “kendaraan” yang berbeda.

B. Ciri-ciri Mahayana dan Theravada
1. Aspek Penafsiran
 Mahayana lebih bersifat progresif dan liberal dalam arti tidak kaku dan melekat begitu saja terhadap ajaran Buddha yang tersurat. Dalam hal penafsiran Theravada lebih bersifat konservatif yaitu menjaga yang sudah ada, mengacu pada apa yang sudah ditetapkan pada konsili-konsili yang sudah ada. Hal ini dipertahankan guna mengantisipasi adanya kesalahan penafsiran.

2. Aspek Cita-cita
Kemunculan Mahayana merupakan suatu revolusi cita-cita keselamatan, pembebasan atau tujuan tertinggi dalam Buddha Dharma, yaitu berjuang melaksanakan Bodhisattvayana untuk meraih kesempurnaan menjadi Buddha. Cita-cita religious dalam Mahayana ini menunjukan bahwa tak ada sesuatupun yang tidak dapat dikorbankan oleh Bodhisattva demi kebaikan makhluk-makhluk lain. Sedangkan Theravada yang merupakan paham yang konservatif bercita-cita pada pencapaian arahat, dianggap arahat adalah satu level dengan sammasambuddha. Tetapi aspek cita-cita pada Theravada ini tidak sepenuhnya ingin menjadi arahat karena beberapa pengikut aliran ini ada yang bertujuan menjadi sammasambuddha.

3. Aspek Metodik
Dalam melaksanakan cita-citanya, Bodhisattva mempergunakan berbagai metode yang sifatnya praktis yang dimaksudkan untuk melatih, membina, dan membimbing semua makhluk ke tujuan akhir kehidupan, penyadaran terhadap Yang Mutlak, yang dikenal dengan metode Upaya-Kausalya. Bodhisattva melaksanakan disiplin Bodhi (Bodhicittopada), dan mengarah ke penyadaran Bodhicitta (Batin pencerahan) yang memiliki dua aspek : Sunyata (Kekosongan) dan Karuna (Welas asih). Sunyata merupakan implikasi praktis dari Prajna (Pengetahuan sempurna), dan identik dengan Yang Mutlak, Yang abosulut. Sedangkan Karuna merupakan prinsip aktif yang merupakan ungkapan nyata Sunyata dalam fenomena. Sedangkan Theravada lebih menekankan pada Vippasana sebagai metode untuk mencapai pembebasan akhir.

C. Persamaan antara Theravada dan Mahayana:
1.    Mengakui Buddha Sakyamuni sebagai guru agung yang telah tercerahkan.
2.    Bersumber pada kitab Suci Tipitaka (Pali=Hinayana) atau Tripitaka (Sanskrit=Mahayana).
3.    Mengakui bahwa keberadaan suatu individu adalah penderitaan dan menginginkan terbebas dari penderitaan ini.
4.    Kebebasan hanya tercapai jika telah melenyapkan Lobha/raga, dosa/dvesa dan Moha.
5.    Mengakui hukum karma/kamma yaitu hukum perbuatan siapa yang berbuat dia yang akan menerima buah akibatnya. Percaya pada kelahiran kembali yang sangat dekat dengan hokum karma yaitu ia yang berbuat baik akan terlahir di alam yang bahagia demikian sebaliknya.
6.     Mengakui adanya hukum sebab-musabab yang saling bergantungnan meski menurut TH.Stcherbatsky, Ph.D mereka mempunyai interpretasi masing-masing tetapi dalam hal ini mereka mengakui bahwa segala sesuatu adalah bergantungan (Paticcasamuppada/pratityasamutpada).
7.     Mengakui Empat Kesunyataan Mulia sebagai doktrin Buddha yang benar dan mulia.
8.      Mengakui anicca/ksanika, dukkha/santana, dan anatta/anatmakam.
9.      mengakui 37 Bodhipaksyadhamma/Bodhipakiyadhamma
10. Mengakui bahwa dunia ini tiada permulaan atau awal begitu pula     akhirnya.



D. Perbedaan antara Hinayana dan Mahayana:
1.        Dalam memandang kenyataan dunia hinayana menggunakan realisme psikologis, sedangkan Mahayana adalah idealis, implikasinya hinayana memandang penderitaan di dunia ini adalah sebuah kesunyataan sedang Mahayana menganggap hal ini sebagai sebuah ilusi.
2.        Hinayana menolak adanya keberadaan yang sejati di dalam fenomena dan menolak pernyataan-pernyataan metafisika, Mahayana mnegajarkan Kemutlakan yang abadi (eternal absolute).
3.        Mahayana menganggap Buddha Gotama adalah guru yang merupakan manifestasi dari proyeksi yang absolut, sedangkan dalam Theravada/Hinayana beliau dianggap sebagai manusia normal yang mempunyai kekuatan lebih. Mahayana memandang Buddha adalah transenden, mutlak, dan dipuja sangat tinggi dalam Hinayana Buddha dipuja layaknya seorang guru yang membimbing ke kesucian tidak dilebih-lebihkan.
4.        Nibbana hanya dapat dicapai oleh usaha sendiri. Mahayana percaya bahwa nibbana dapat tercapai melalui bantuan orang luar.
5.        Menurut Mahayana jasa dapat ditransfer (punya parinamana) kepada orang lain, sedang hinayana tidak menyetujuinya hanya dapat menginspirasi mahkluk lain (punya anumodana).
6.        Menurut Hinayana Nibbana adalah tujuan tertinggi dari seseorang sedangkan Mahayana memandang kehidupan sebagai Bodhisatva adalah tujuan yang harus dilalui sebelum mencapai Kebuddhaan.
7.        Nibbana adalah kebebasan terakhir dari penderitaan sedang dalam Mahayana hal ini dimengerti sebagai kesadaran akan sesuatu yang absolut. Menurut Mahayana  seseorang sudah mempunyai kehidupan kebudhaan dan secara sungguh-sungguh menyadari akan hal ini.
8.        Hinayana bersifat rasionalistik sedangkan Mahayana bersifat ghaib. Misalnya dalam memandang mantra Mahayana mengakui adanya hal mistis dalam mantra-mantra tetapi hinayana memandang bahwa hal itu didukung oleh banyak factor misal keyakinan, kamma, dan kebersihan bathin sehingga mantra atau paritta akan mempunyai sifat mistik.
9.        Dalam hal bodhisatva Mahayana mengakui bahwa Bodhisatva telah mencapai penerangan sempurna seperti Avalokitesvara Bodhisatva, dalam Hinayana Bodhisatva adalah mahkluk calon Buddha yang masih menyempurnakan paramita untuk meraih penerangan sempurna.
10.    Dalam Hinayana mahkluk suci ada empat macam tingkatan yaitu Sottapana, Sakadagami, Anagami, Arahat. Dalam Mahayana mahkluk suci selain empat tersebut yakni Srotapana, Sakadagamin, Anagamin, Arhat juga terdapat sepuluh tingkat kesucian yaitu Dasabhumi yaitu Pramudita, Vimala, prabhakari, Archismati, Sudurjaya, Abhimukti, Durangama, Acala, Sadhumati, Dharmamegha.
11.    Do`a dan ritual dalam Mahayana menjadi aspek yang dipentingkan karena dapat membimbing kepada pencerahan. Berbeda dengan Hinayana yang tidak terlalu mementingkan do`a dan ritual bahkan melekat pada ritual dan do1a akan terjerumus dalam penderitaan (Silabataparamamsa)
12.    Pencapaian kesucian dalam Hinayana adalah dengan melenyapkan rintangan kekotoran bathin (Kilesaavarana) sedangkan dalam Mahayana pencapaian kesucian adalah dengan melenyapkan rintangan kekotoran bathin (Klesavarana) dan rintangan pengetahuan (Jneyaavarana)
13.    Paramita (kesempurnaan) untuk mencapai sammasambuddha dalam Hinayana berjumlah sepuluh (dasa paramita) yaitu Dana, Sila, Nekhama, Panna, Viriya, Khanti, Sacca, Adhithana, Metta, Upekha. Dalam Mahayana paramita yang ditekankan adalah enam paramita (Sad Paramita) yaitu Dana, Cila, Ksanti, Virya, Dhyana, Prajna. Kadang-kadang menjadi dasa paramita ditambah dengan Upaya-Kausalya, Pranidhana, Bala, Jnana. Penekanan pelaksanaan paramita Mahayana berdasarkan atas Karuna dan Prajna.
14.    Kilesa menurut Hinayana ada sepuluh yaitu Lobha, Dosa, Mana, Dithi, Vicchikicha, Thinamidha, uddhacca, Ahirika, dan Anotappa. Menurut Mahayana ada enam yaitu Raga, Pratigha, Mana, Avidya, Kudrasti, Vicikitsa.
F.       Pokok-pokok pemersatu aliran Mahayana dan Theravada
Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.
Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.
Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.

       Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia.
Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.
WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.
Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:
1.      Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.
2.      Kami berlindung dalam Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).
3.      Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.
4.      Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).
5.      Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).
6.      Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.
7.      Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain.
8.      Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Perluasan Rumusan.
Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:
  1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
  2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
  3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
  4. Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
  5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
  6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
  7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
  8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
    1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
    2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
    3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
    4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
    7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).
  9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan  tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan  Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.
  10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Rumusan Lain
Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.
Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:
  1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
  2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
  3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
  4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
  5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
  6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

         Rumusan dari Oo Maung:
  1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
  2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
  3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
  4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
  5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
  6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.
Rumusan dari Tan Swee Eng:
  1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
  2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
  3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
  4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
  5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.


G.      Munculnya dan berkembangnya aliran Vajrayana, Tantrayana atau Mantrayana
Vajrayana alias Tantrayana alias Mantrayana adalah sebuah sub sekte daripada Mahayana. Boleh dibilang, Tantrayana adalah aspek esoterik dari Buddhism, khususnya Mahayana. Yang mana seharusnya merupakan tahap akhir dalam perjalanan spiritual seorang Buddhist setelah sebelumnya menapaki Staviravada (Theravada), lalu kepada Mahayana tradisi Sutra, lalu berlanjut kepada Mahayana tradisi Tantra (Vajrayana).
Peristiwa terpenting yang terjadi di India pada periode ketiga (500-1000 M) adalah munculnya Tantra. Tantra adalah pencapaian pemikiran kreatif Buddha di India yang ketiga, tertinggi, dan terakhir. Perkembangan Tantra mengalami tiga tahap. Tahap pertama disebut Mantrayana, dimulai pada abad ke-4 dan mencapai kemajuan setelah tahun 500 M. Tahap ini memperkaya Buddha, melalui tradisi yang bersifat gaib, serta memanfaatkannya sebagai alat atau perlengkapan yang mempermudah mencapai tujuan Pencerahan. Dengan cara ini banyak mantra, mudra, mandala, dan makhluk-makhluk luhur baru diperkenalkan ke dalam agama Buddha walau belum secara sistematis. Setelah tahun 750, terjadi perkembanagn yang sistematis yang disebut Vajrayana, yang mengkoordinasikan ajaran-ajaran terdahulu dalam suatu kumpulan yang berisi Lima Tathagata. Dengan berlalunya waktu, kecenderungan-kecenderungan dan perkembangan sistem berikutnya memperbaharui penampilan mereka. Hal yang patut diperhatikan di antaranya adalah Sahajayana menekankan pula praktik-praktik meditasi dan pengembangan intuisi yang diajarkan melalui teka-teki, paradoks-paradoks, dan patung-patung, serta menghindari kemungkinan berubah menjadi sistem filasafat yang statis dengan mempertahankan ajaran-ajaran atau prinsip-prinsip yang tidak tegas. Menjelang akhir periode ini, pada abad kesepuluh, ada Kalacakra, “Roda Waktu” yang ditandai dengan luasnya sinkretisme berbagai aliran, dan penekanan pada astrologi.
Gerakan baru ini timbul di Selatan dan Barat Laut India. Pengaruh-pengaruh non-India, yaitu dari Cina, Asia Tengah, dan daerah-daerah perbatasab di seitar India, memegang peranan penting dalam pembentukan gerakan ini. Juga banyak menyerap gagasan dari suku bangsa asli dari India sendiri. Tantra berusaha memberikan peranan terhormat kepada semua roh, bidadari, peri, makhluk halus, raksasa, dan hantu-hantu yang telah menghantui imajinasi penduduk, juga kepada perbuatan-perbuatan gaib yang tidak asing bagi penduduk pertanian maupun penduduk nomaden. Langkah lanjut untuk mempopulerkan agama ini, dimaksudkan untuk memberikan dasar yang lebih kuat di dalam masyarakat. Tetapi sepanjang menyangkut kepentingan kaum elit, ada perbedaan penting dimana non-Buddhis menggunakan ilmu gaib dalam rangka untuk memperoleh kekuasaan, sedangkan umat Buddha menggunakannya untuk membebaskan diri mereka sendiri dari kekuatan-kekuatan asing untuk menemukan jati diri.

1.        Aliran Tantrayana
Tantrayana adalah satu mazhab dalam agama Buddha yang sangat istimewa karena memiliki cirri-ciri khas yang unik. Mazhab ini berkembang pesat diantaranya negara India, China, Tibet, Jepang, Korea dan Asia Tenggara serta benua Eropa, Australia hingga benua Amerika. Mazhab ini merupakan perpaduan puja bhakti dengan praktek meditasi yogacara serta metafisika Madhyamika. Maka dari itu mazhab Tantrayana bukan hanya membicarakan teori, akan tetapi praktek dalam pelaksanaannya. Di dalam perkembangannya, mazhab ini kadangkala dinamakan Tantra-Vajrayana atau Tantra-Mahayana.
Menurut Dr. Pdt. HS. Rusli MA., PhD., pengertian istilah tantra ini pada mulanya berhubungan dengan kata dalam bahasa sanskerta Prabandha yang berarti "hubungan kelestarian yang tiada putus-putusnya". Pada mulanya tanggapan orang memandang tantra banyak menimbulkan pikiran yang salah. Sebenarnya perkataan tantra diperkenalkan pada publik di dunia Barat pada tahun 1799, yakni pada saat literatur-literatur mengenai mazhab Tantrayana ini diketemukan oleh misionaris Eropa di India.
Menurut dr. W. Kumara D. yang dikutip dari literatur-literatur mazhab Tantrayana, kata tantra itu sendiri dapat juga berarti Sadhana (sarana mengerjakan). Mazhab Tantrayana memiliki akar-akar pandanga yang sama dengan Mahayana khususnya Yogacara. Namun demikian, Tantrayana memiliki perbedaan dengan Mahayana dalam hal tujuan,wujud manusia yang telah mencapai tujuan tantrayana dan cara pengajarannya.
Para misionaris Barat sangat kagum setelah mempelajari mazhab tantrayana, karena terdapat konsepsi maupun ide-ide religi serta filsafat yang sangat kenal, berlainan dengan konsepsi maupun ide yang mereka kenal sebelumnya. Tantra Timur adalah tantra yang berkembang di daratan China dikenal sejak abad IV Masehi,setelah Srimitra yang berasal dari Kucha (sekarang Xinqiang-China) berhasil menerjemahkan sebuah kitab Tantrayana yang berisi mantra-mantra, pengobatan, doa pemberkahan dan ilmu gaib lainnya. Hal tersebut sesungguhnya belum mencerminkan nilai-nilai agung dari aliran Tantrayana itu sendiri, kata Mr. Chauming. Tantra Timur bercorak perfeksionis dimana semua rupang Buddha maupun Bodhisattva serta vajrasatva baik yang bersifat maskulin dan feminim, lebih menunjukkan kesempurnaan, keagungan yang sesuai dengan sopan santun yang ada pada masyarakat China.
Tantra Timur berkembang di China pada abad VII, ketika dikunjungi oleh tiga orang Maha Acharya Tantrayana dari India, yakni:
a.       Subhakarsinha (637-735M), beliau tiba di Ch'an An setelah belajar di Nalanda (India) pada tahun 716 M. Kemudian bersama-sama dengan I Ching menerjemahkan Sutra Tantra yang terkenal, yakni Maha Vairocana Sutra pada tahun 725 M.
b.      Vajra Bodhi (663-725M), beliau juga pernah belajar di Nalanda (India)     dan kemudian menerjemahkan Vajrasakhara pada tahun 720 M.
c.        Amoghavajra (705-784 M), beliau adalah siswa dari Vajrabodhi yang tiba di Ch'an pada tahun 756 M.

Selanjutnya,perkembangan mazhab Tantrayana di China sangat pesat selama lebih kurang tiga abad, antara abad V hingga abad VIII Masehi. Selama tiga abad tersebut, berkembang delapan aliran besar di China, yakni:
a.       Lu-Tsung (Vinayavada), didirikan oleh Tao-hsuan (595-667 Masehi).
b.       San Lun Tsung (Madhyamika), didirikan oleh Chi-Tsang (549-623 M).
c.       Wei Shih Tsung (Yogacara) didirikan oleh Huan Tsang (596-664 M).
d.       Mi-Tsung (Tantrayana), didirikan oleh Amoghavajra (705-784 M).
e.       Hua Ten Tsung (Avatamsaka), didirikan oleh Tu Hsun (557-640 M).
f.       Tien Tai Tsung, didirikan oleh Chih K'ai (538-597 Masehi).
g.      Chin Thu Tsung (Amida/Pure Land). Didirikan oleh Shan Tao (613-
       681 masehi).
h.      Ch'an (Zen), didirikan oleh Bodhidharma sekitar tahun 500.
Tantra Barat adalah tantra yang berkembang di Tibet dan sekitar pegunungan Himalaya batas antara China dan India, yang sebenarnya hanya dalam letak geografis saja. Daerah ini memiliki tradisi dan sejenis kepercayaan yang disebut Bon-Pa. Dan orang-orang Tibet umumnya memiliki kemampuan untuk menguasai roh-roh halus. Di samping symbol dari jenis rupang Buddha sedikit ada perbedaan. Bila dilihat Tantra Barat lebih bercorak naturalis terlihat jelas pada anggota tubuhnya, yakni bersifat feminisme (dalam bentuk wanita). Terdapat pula rupang angkara murka, seperti Angry Vajra (Vajravarahi dalam wajah murka).
Pandangan Dr. Pdt. Rusli PhD, para misionaris Buddhis pada awal kedatangannya di Tibet, banyak menghadapi kendala dan kurang mendapat sambutan dari penduduk Tibet. Bahkan kehadiran misionaris di Tibet merupakan ancaman bagi dukun-dukkun Bon Pa, oleh karena itu para misionaris Buddhis mengalami kendala dan tak jarang banyak korban kena ilmu magis` terjadi pada misionaris.
Pada tahun 747 masehi, Maha Guru Padma Sambhava menjalankan misi ke Tibet. Beliau pada masa mudanya adalah seorang pangeran dan sangat menyenangi hal-hal yang bersifat magis. Beliau memiliki kemampuan supranatural yang dipadukan dengan ajaran-ajaran Hyang Buddha. Berkat kemampuan beliaulah, dukun-dukun Tibet dapat ditundukkan dan memperoleh simpati dari bangsa Tibet. Tantrayana di Tibet berkembang hingga menjadi tiga periode. Yakni periode pertengahan dan pembaharuan serta periode permulaan gelar Dalai Lama (dari abad XVII hingga sekarang ini).
Mazhab Tantrayana,baik Tantra Barat maupun Tantra Timur disebut esoterik (rahasia/tersembunyi), karena dalam penyebarannya tidaklah bersifat terbuka. Tantra diajarkan oleh seorang guru pada siswanya setelah melalui upacara-upacara ritual dan berbagai bentuk ujian.

  Kitab Suci Mazhab Tantrayana di Tibet
Mazhab Tantrayana di Tibet memiliki naskah terjemahan kitab suci yang kebanyakan berasal dari India dan terdiri lebih dari 4.566 naskah. Kumpulan naskah dalam bahasa Tibet tersebut digolongkan dalam dua bagian, masing-masing :
1)        Bkahgyur(dibaca Kanjur) yang sebahagian besar adalah terjemahan  dari bahasa Sanskerta dan sebahagian kecil terjemahan dari bahasa mandarin, terdiri dari 3.458 naskah serta dihimpun dalam tiga bagian, yakni :
a)      Dulva (Vinaya), terdiri dari 13 bagian, merupakan peraturan-peraturan,disiplin, tata tertib untuk anggota Sangha.
b)       Do (Sutra), terdiri dari 66 bagian yang mencatat ajaran Hyang Buddha, seperti halnya dalamsutra-sutra canon pali dan sutta-sutta kanon sanskerta dan selalu diawali dengan "Demikianlah yang saya dengar".
c)      Chon non pa (Abhidhamma), terdiri dari 21 bagian yang merupakan pelajaran filsafat dan pembahasan dari ajaran Hyang/Sang Buddha.

2)      Bstanghyur (dibaca Tanjur), merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) yang dihimpun dalam dua kitab :

a)      Tantra (Rgyud), terdiri dari 22 bagian yang berisi doa-doa,dharani-dharani, mudra, mandala dan lain-lainnya.
b)       Sutra, merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) dari Do (sutra).
Tantra terpisah dari Mahayana dalam hal pendefinisian tujuan dan tipe manusia ideal dan juga dalam cara pengejaran. Tujuannya masih sama, yaitu Kebuddhaan, walaupun tidak lagi terjadi di masa depan, berkalpa-kelpa kemudia, tetapi saat ini, “dengan tubuh ini”, “dalam satu piiran” yang diperoleh secara ajaib dengan cara-cara yang baru, cepat, dan mudah. Orang suci yang ideal sekarang adalah Siddha atau ahli mukjizat, walaupun agak mirip dengan Bodhisattwa yang telah melewati tahap kedelapan dengan kekuatan-kekuatannya yang ajaib dan berkembang sempurna.
Tantra itu mewakili di antara sekte-sekte Mahayana, panca indera mengenai semangat, secara tradisi ditegaskan sebagai terdiri dari perawatan dan hasil dari yang bermanfaat, dan menghapuskan serta gangguan dari yang tidak bermanfaat, keadaan mengenai pikiran. Dengan keadaan bermanfaat dari Jhana, atau Dhyana, pikiran yang terutama dimaksudkan. Maka dari itu kepentingan yang didominasi Tantra bukanlah teori tetapi praktek.
Tantra, walaupun secara jelas menggabungkan doktrin dari sekte-sekte yang lebih dahulu, berbeda secara radikal dari mereka semuanya di dalam mengenai bukan dengan perluasan teori yang lebih lanjut dari doktrin-doktrin ini, tapi dengan penerapan metode menuju pada realisasi realitas dari mana mereka adanya namun simbol konseptual. Jadi Tantra memiliki sebegitu banyak pada bidang menguasai doktrin sebagaimana pada bidang menguasai metode. Tradisi-tradisi Buddhist yang ada diterima sebagaimana adanya, asalkan bukan sebagai suatu titik awal untuk tindakan. Lebih daripada setiap sekte lainnya, Tantra mewakili segi latihan mengenai Buddhism, dan karena alasan ini, jadi Dr. Herbest V. Guenter sangat menekankan, ‘Itulah di dalam Tantra bahwa Buddhism menemukan kemekaran dan peremajaan lagi yang konstan’.
Tetapi walaupun Tantra berarti tindakan, dan karenanya untuk kekuatan di dalam semua modenya, itu tidak berarti tindakan secara umum, yang akan lebih baik dimiliki hanya aktivitas, tapi terutama untuk ritual atau perbuatan sakral. Di dalam prinsip ringan yang fundamental ini, dasar ‘kebenaran bagi eksistensi’ lebih dari penekanan Tantra dengan ciri-cirinya secara jelas diperlihatkan.   Pentingnya aspek dan tradisi yang permulaan di mana memberikan dasar teori yang paling dekat mengenai kesakramenan Tantra; dikarenakan, sebagaiman Conze mengamati secara dekat; ‘jikalau Tantra mengharapkan keselamatan dari perbuatan suci, itu haruslah mempunyai suatu konsepsi mengenai Alam Semesta yang menurut perbuatan seperti itu dapatlah pada pengangkatan pembebasan’.
Jikalau realitas transendental menunjukkan Aksobhya, misalnya, sungguh-sungguh ada, itu haruslah memungkinkan untuk menempatkan Dia pada suatu tempat yang penting di dalam setiap bentuk mengenai kehidupan fenomena dan aktivitas. Bukanlah itu, walaupun dikatakan Bulan itu dipantulkan sebuah kolam air, tidak dipantulkan dalam keseluruhan kolam itu, tapi hanya dalam satu bagian penting darinya. Untuk mengetahui bahwa Akshobhya dipantulkan dalam dunia fenomena tidaklah cukup. Dunia itu terdiri dari lima skandha. Salah satu dari mereka itu haruslah pentulan aksobhya. Karena pengertian harfiah dari Aksobhya adalah ‘Yang Tenang Sekali’. Tantra mengenali Aksobhya dengar Vijnanaskandha atau kumpulan dari kesadaran. Pada prinsip ini Tantra membangun sistem dalam Buddha, Bodhisattva dan Dewa yang tidak terhitung semua mewakili baik aspek yang berbeda mengenai Realitas atau tingkatan yang berbeda mengenai Jalan Transendental, dihubungkan tidak hanya dengan suatu kumpulan (skandha) dari milik mereka, tapi juga dengan suatu kumpulan yang penting ‘mantra, mudra, unsur (elemen), arah, hewan, warna, indera-perasaan, bagian dari tubuh dan sebagainya.
Tantra adalah lebih sulit untuk memberikan suatu penjelasan daripada sekte lainnya dalam Buddhisme. Alasannya ialah kedua-duanya mengenai ajaran bagi internal dan eksternal. Untuk memulai dengan Tantra ialah bukan dengan penyamarataan teori tapi dengan latihan yang teratur dan mendalam, karena mengenai suatu tingkat yang lebih tinggi bukanlah eksoterik melainkan esoterik, yang selama berabad-abad dijaga secara bersama-sama dengan cara tradisi lisan dan dengan hati-hati melindungi dari keinginan-keinginan yang kotor. Pada jaman sekarang, Tantrayana lebih dikenal berasal dari Tibet.
Sehingga orang awam berpendapat bahwa Tantrayana adalah agama Buddha Tibet,dan bersumber dari kepercayaan dan "rekayasa/ciptaan" bangsa Tibet.
Hal ini tidaklah mengherankan, karena hanya di Tibet, Bhutan, Nepal, Ladakh, India dan Mongolialah Tantra tetap eksis dan bertahan sampai sekarang, terutama sekali di Tibet.

2.    Aliran Mantrayana
Bahwa Mahayana lambat laun menuju ke arah jalan kelepasan yang lain daripada yang ditawarkan oleh Buddha semula. Maka dengan jelas orang mulai merumuskan berbagai jalan kelepasan, seperti yang diperkembangkan juga oleh agama Hindu.Pada mulanya perkembangan Mantrayana ini merupakan reaksi alami terhadap tren sejarah yang makin tidak sesuai dan mengancam kepunahan agama Buddha India. Untuk mempertahankan dan melindungi diri, penganut-penganutnya semakin banyak menggunakan kekuatan mukjizat dan meminta pertolongan dari makhluk-makhluk luhur, yang keberadaan sebenarnya telah dibuktikan oleh mereka sendiri melalui pelaksanaan meditasi trans.
Di antara ini, perhatian besar ditunjukkan kepada makhluk luhur berpenampilan menyeramkan, seperti “Pelindung Dharma”, yang disebut juga vidyaraja, “raja adat dan pengetahuan yang suci” yang bermaksud baik tetapi menampilkan wajah yang megerikan untuk melindungi orang yang percaya. Menarik juga untuk dicatat bahwa utuk mendapatkan perlindungan, umat Buddha pada masa itu mengandalkan makhluk-makhluk luhur feminin. Sekitar tahun 400 M, Tara dan Prajnaparamita dipuja sebagai Bodhisattwa Kosmis.
Di dalam abad ketujuh timbul lagi suatu jalan yang ketiga yang disebut Mantrayana atau jalan dengan kalimat-kalimat yang mempunyai daya gaib (mantra). Nama-nama lainnya yang dipakai ialah Tantrisme, karena pandangan-pandangan mengenai jalan ini dicantumkan dalam Tantra-tantra; dan Vajrayana atau jalan intan, perjalanan intan, ialah yang keras dan tak terbinasakan, yaitu kenyataan yang tertinggi. Menurut namanya, maka aliran ini mencari alat gaib teristimewa di dalam mantra, kalimat yang berkekuatan gaib. Tetapi selanjutnya, gambaran-gambaran (mandala) dan perbuatan-perbuatan upacara keagamaan, di mana sikap tangan (mudra) sangat penting memainkan peranan juga. Juga pertarakan  dan yoga di sini mendapat tempat pula, seperti pendapat yang kita jumpai di dalam zaman yang jauh lebih tua lagi di dalam agama Buddha, bahwa manusia yang mebuat kemajuan-kemajuan di jalan yang menuju kepada pengertian yang mendalam, mendapat kekuatan-kekuatan yang istimewa pula.
Shadaka, ialah orang yang menjalankan perbuatan-perbuatan magis, atau sebenarnya orang yang berusaha ke arah tujuannya, menghubungkan dirinya sendiri dengan alat-alat magis (mantra, mudra) ke dalam keseluruhan tenaga-tenaga kosmis dan mengekang serta menguasainya. Hal ini berarti bahwa dalam setiap usaha untuk membentuk suatu Mandala haruslah memiliki suatu nilai praktis yang mempengaruhi prilaku perseorangan (carya). Mantrayana ini juga memiliki sikap yang tegar menentang segala bentuk khayalan dan menumbuhkan bodhi sebagai lawan dari nirodha. Kesemua hal ini, dilaksanakan untuk mencapai langkah terakhir yakni guru yoga sebagai sarana kekuatan untuk mengatasi diri seseorang.
Dalam pengertian yang dalam dapat dikatakan, bahwa guru yoga adalah kenyataan itu sendiri yang dapat kita saksikan dan berada dimana-mana. Namun tanpa bimbingan seorang guru (manusia) yang telah mempraktekkan yoga dan mampu membimbing siswanya dalam menempuh halangan-halangan yang sulit.
Istilah Mantrayana kelihatannya telah menerima aslinya pada keperluan khusus bahwa cabang Mahayana yang menganjurkan pembacaan ulang mengenai mantra sebagai usaha prinsip mengenai paramita. Menurut Shashi Bhusan Dasgupta: ‘Mantrayana adalah sekte dari Mahayana’, kelihatannya adalah tingkat perkenalan mengenai Buddhisme Tantra dari semua cabang mengenai Vajrayana, Kalacakrayana, Sahajayana, dan seterusnya yang timbul dikemudian hari.
Meskipun demikian, sebagai keadaan hal yang sebenarnya dengan cabang-cabang Tantra Cina dan Jepang, istilah Mantrayana berlanjut di dalam penggunaan sebagai suatu petunjuk kolektif tidak hanya untuk memperkenalkan tapi juga untuk tingkat lebih lanjut dari gerakan Tantra, dan seperti itu dari satu waktu dipakai sampai dengan sekarang.

3.    Aliran Vajrayana
Berasal dari kosa kata Sanskrit "Vajra" yang berarti berlian dalam aspek kekuatannya, atau halilintar dalam aspek kedahsyatan dan kecepatannya. Serta dari kata "yana" yang berarti wahana/kereta. Menurut Wang Shifu, Vajrayana merupakan Jalan Intan. Kata "Tantra" sendiri berarti "Tenun" dalam bahasa Sansekerta, merujuk kepada prakteknya yang bertahap namun pasti.
Vajrayana adalah suatu ajaran Buddha yang di Indonesia lebih sering dikenal dengan nama Tantra atau Tantrayana. Namun banyak juga istilah lain yang digunakan, seperti misalnya: mantrayana, ajaran mantra rahasia, ajaran Buddha eksoterik. Vajrayana adalah merupakan ajaran yang berkembang dari ajaran Buddha Mahayana, dan berbeda dalam hal praktek, bukan dalam hal filosofi. Dalam ajaran Vajrayana, latihan meditasi sering dibarengi dengan visualisasi.
Adapun tujuan akhir daripada Vajrayana, ialah mencapai kesempurnaan dalam pencerahan dengan tubuh fisik kita saat ini, di kehidupan ini juga, tanpa harus menunggu hingga kalpa-kalpa yang tak terhitung. Oleh karena tujuan akhir inilah, di dalam Vajrayana ditemui metode-metode esoterik yang dengan cepat bisa membawa kita kesana. Ajaran Vajrayana secara umum di berbagai negara lebih dikenal sebagai ajaran agama Buddha Tibet, yang merupakan bagian dari Mahayana dan diajarkan langsung oleh Buddha Sakyamuni yang amat cocok untuk di praktikkan oleh umat perumah tangga, umat yang hidup sendiri (tidak menikah), ataupun umat yang memutuskan untuk hidup sebagai bhiksu di vihara Vajrayana.
Menurut catatan, banyak sekali praktisi tinggi Vajrayana yang memiliki kemampuan (siddhi) yang luar biasa, misalnya: menghidupkan kembali ikan yang telah dimakan (Tilopa), terbang di angkasa (Milarepa), membalikkan arus sungai gangga (Biwarpa), menahan matahari selama beberapa hari (Virupa), mencapai tubuh pelangi (tubuh hilang tanpa bekas, hanya meninggalkan kuku dan rambut sebagai bukti), berlari melebihi kecepatan kuda, merubah batu jadi emas atau air jadi anggur, memindahkan kesadaran seseorang ke alam suci Sukavati (yang dikenal dengan istilah phowa), dapat meramalkan secara tepat waktu serta tempat kematian & kalahirannya kembali (H.H. Karmapa), lidah dan jantung yang tidak terbakar ketika di kremasi, terdapat banyaknya relik dari sisa kremasi, dll. Di dalam Vajrayana, semua hasil yang diperoleh dari latihan itu, haruslah disimpan serapi mungkin, bukan untuk di ceritakan pada orang lain. Sebagai pengecualian, boleh mendiskusikan hal tersebut dengan Guru, jika memang ada hal yang kurang mengerti.
Dalam ajaran Vajrayana, sekte menjadi penting karena merupakan sebuah identitas. Ini adalah sekilas informasi tentang sekte-sekte besar yang mempunyai tradisi ciri khasnya masing-masing :
a.       Sekte Gelugpa: pendirinya adalah Tsongkhapa (1357-1419) lebih menekankan kepada disiplin intelektual, karenanya para Bhiksu dari Gelug amatlah pandai dalam pembahasan Metafisika, filsafat, dll. Pusaka ajaran yang terkenal dari tradisi ini adalah Krama Marga alias Lam Rim (Jalan dan Tahap). Tradisi ini didirikan oleh Je Tsongkhapa, dengan Kadampa sebagai pendahulu Gelug, yang mana Kadampa ini didirikan oleh seorang Maha Guru India, yaitu Atisha Dipamkara.
b.      Sekte Skayapa: Kunchong Gyalpo (1034-1102) terkenal dengan naskah-naskah autentiknya, pusaka ajaran dari tradisi ini adalah Lam Dray (Jalan dan Hasil). Tradisi ini berawal dari Sakya Shri Bhadra dari India, yang merupakan pemegang tahta terakhir dari Institut Buddhist Nalanda yang mengungsi ke Tibet pada saat invasi dari Moch.Bhaktiar Khalji, juga oleh beberapa Lotsava agung yg disebutkan oleh Vince Delusion sebelumnya.
c.       Sekte Kagyudpa: (Dagpo Kagyud) didirikan oleh Gampopa (1079-1133). terkenal sebagai tradisi Meditatif, lebih menekankan kepada metode-metode Yoga-nya. Pusaka ajaran dari tradisi ini adalah Maha Mudra, yang meliputi Enam Yoga Naropa (tib.Naro Cho Drug ; skt.Saddharmopadesa), serta metode-metode esoterik lain yang menyertainya dari awal sampai akhir, juga pendidikan Shedras selama 12 tahun yang diikuti dengan retreat Maha Mudra di dalam ruang tertutup selama 3 tahun 3 bulan 3 hari merupakan ke-khas-an tersendiri dalam tradisi Kagyu.
d.      Sekte Nyingmapa: Dikenal sebagai tradisi non-Monastic. Terkenal dengan pusaka Terma nya,serta ajaran-ajaran esoterik langka di masa lampau. Ciri khas utama ajaran dari tradisi ini adalah Dzogchen (Maha Sandhi). Tradisi ini berawal dari Vajra Guru Padmasambhava (Lian Hua Sheng Da Shi) lebih kurang 700 M.
Dalam Vajrayana, terdapat banyak sekali metoda dalam berlatih. Memang banyak sekali praktisi Vajrayana yang memiliki kemampuan luar biasa, namun hal ini bukanlah sesuatu yang mistik. Hal ini sebenarnya merupakan hasil samping dari latihan yang dilakukan, dan hal ini harus diabaikan. Seperti kata sang Buddha, yang dapat menyelamatkan kita pada saat kematian adalah Dhar1ma, bukanlah kesaktian yang kita miliki. Sering kemampuan yang didapat ini menjadi penghalang dalam mencapai tujuan utama kita, yaitu mencapai pencerahan. Hasil samping berupa kemampuan (siddhi) ini sering akan meningkatkan kesombongan (ke-aku-an) kita, yang sebenarnya justru harus kita hilangkan, dan bukan merupakan sesuatu yang harus dibanggakan. Namun sayang sekali, banyak orang yang berpandangan salah, mereka mengagungkan kemampuan gaib yang dimiliki oleh seseorang, dan mengabaikan Dharma yang mulia. Hal ini dapat terjadi karena adanya kebodohan / ketidak tahuan (Moha) yang dimiliki.
Praktek Vajrayana tidak terlepas dari penyapaan mantra, maka sering juga dikenal dengan istilah ajaran mantra rahasia. Ajaran Vajrayana sering juga disebut dengan Praktek Rahasia, atau Kendaraan Rahasia. Hal ini menggambarkan bahwa ketika seorang praktisi semakin merahasiakan latihannya, maka ia akan semakin mendapatkan kemajuan pencapaian dan berkah dari latihan yang ia lakukan. Semakin ia menceritakan tentang latihannya, maka semakin sedikit berkah yang akan ia peroleh.
Sang Buddha sering berpesan kepada murid-muridNya, bahwa mereka tidak boleh memperlihatkan kemampuan (siddhi) mereka, tanpa suatu tujuan yang mulia. Demikian pula, Para praktisi tinggi Wajrayana tidak pernah menunjukkan kemampuan mereka hanya demi ego, demi ketenaran, demi kebanggaan, ataupun demi materi. Para praktisi tinggi ini biasanya menunjukkan kemampuan pada murid-murid dekat, ataupun pada orang tertentu yang memiliki hubungan karma dengannya, demi Dharma yang mulia, misalnya untuk menghapus selubung kebodohan, ketidak tahuan, kekotoran batin, ataupun karena kurangnya devosi dalam diri murid tersebut.
Mazhab Tantrayana yang berkembang di Tibet sekarang ini pada umumnya adalah Vajrayana, mengenai Vajrayana di Tibet, Guru Rinpoche Padma Sambhava memberikan instruksi yang mencakup enam cara untuk mencapai pembebasan melalui proses pemakaian yang melibatkan Panca Skandha. Ke enam cara tersebut.
1.    Pembebasan melalui proses pemakaian
2.    Pembebasan melalui proses pendengaran
3.    Pembebasan melalui proses ingatan
4.    Pembebasan melalui proses penglihatan
5.    Pembebasan melalui proses Pengecapan
6.    Pembebasan melalui proses sentuhan.
Panca Skandha adalah suatu konsep dalam agama Buddha yang menyatakan bahwa manusia adalah merupakan kombinasi dari kekuatan atau energi fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak dan berubah, yang disebut lima kelompok kegemaran, terdiri atas:
1.    Rupaskandha/Rupakkhanda (kegemaran kepada bentuk)
2.    Vedanaskandha/Vedanakkandha (kegemaran kepada perasaan)
3.     Samjnaskhandha/Sannakkhandha (kegemaran kepada pencerapan)
4.     Samskaraskhandha/Sankharakkhandha(kegemaran kepada bentuk-bentuk pikiran)
5.    Vijnanaskhandha/Vinnanakkhandha (kegemaran kepada kesadaran).
Vajrayana memandang alam kosmos (alam semesta) dalam kaitan ajaran untuk mencapai pembebasan. Apabila di Mahayana terdapat konsepsi Trikaya (tiga tubuh Buddha), maka didalam Vajrayana, Buddha bermanifestasi dan berada dimana-mana. Oleh karenanya, Buddha adalah wadah atau badan kosmik yang memiliki enam elemen, yakni : tanah, air, api, angin, angkasa dan kesadaran.
Dalam rangkaian yang tersusun sebagai sistim, Vajrayana selain memiliki pandangan filosofis di atas, juga memiliki puja bakti ritual maupun sistim meditasi khusus yang disebut Sadhana yaitu meditasi dengan cara memvisualisasikan dengan mata batin, menyatukan mudra, dharani (mantra) dan mandala.















Bab III
Penutup

Kesimpulan
Dari uraian pembahasan diatas, mengenai tiga aliran besar dalam agama Buddha, sesungguhnya tidak perlu di jadikan sebagai suatu hal yang membingungkan bagi setiap umat Buddha. Pada dasarnya ajaran dari ketiga aliran yang telah disebutkan dalam pembahasan diatas, memiliki satu kesamaan dalam hal pencapaian akhir, yaitu pembebasan dari Penderitaan, Meskipun pada prakteknya memiliki banyak perbedaan.
Hal-hal yang menyebabkan perbedan dari praktek dhamma dari setiap aliran tersebut  tentu menjadi sangat jelas jika kita melihat kembali sejarah kehidupan Buddha pada masa misionaris pertama. Guru Buddha memerintah 60 arahat untuk menyebarkan dhamma, dan tidak ada satu Arahat pun yang berjalan bersama. Sehingga perbedaan cara mengajar dari 60 arahat tersebut menjadi salah satu tolak ukur mengapa banyak perbedaan dari segi praktek dhamma dalam Agama Buddha.
Jalur praktek inilah yang sebenarnya perlu ditekankan untuk mendalami, memahami dan mengerti secara benar ajaran Buddha. Mereka yang telah menempuh jalur praktek yang benar dan merealisasi kebenaran dhamma, tidak akan terjebak oleh konsep luar dari ajaran Buddha. Sehingga mereka yang menjalani kehidupan dengan berpegang pada ajaran Buddha akan mencapai kebahagiaan dan cita-cita yang mulia.









Referensi


Suwarto,T. Buddha Dharma Mahayana. 1995. Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.

G.P, Malasekera. Encyclopedia Of Buddhism. 2003.Colombo: Buddhist Publications society.

http//MahayanaBuddist.org . 2008 diakses pada tanggal 11 mei 2008

Suwarto. T. Buddha Dharma Mahayana. Majelis Buddha Mahayana     Indonesia. Jakarta: 1995

 Honig, J.R. Ilmu Agama. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1997

Conze, Edward. Sejarah Singkat Agama Buddha. Oneworld Publication.Cet.12010




 



1 komentar: